Bad Love #Part 2

Standar

-_Silahkan membaca_-

Jaehyun berjalan gontai ke arah Jiyong, sedetik kemudian ia sudah bergelayut manja dibahu Jiyong, dan itu membuatku sesak! “Whoa, ternyata kau masih mengenalinya dengan baik sayang. Bukan begitu eo?”Kata Jaehyun yang masih bergelayut manja dibahu Jiyong.

Tsk! Bisakah kau tidak bersikap manja padanya ketika bersama ku,huh?? Ingin sekali aku mengeluarkan kata-kata itu.

Jiyong menatapku sekilas, kemudian ia menjauh dari Jaehyun se akan bisa membaca pikiran ku yang bermonolog ria, “tentu saja aku masih mengenalnya dengan baik. Kau lupa? Dulu sebelum dia pergi ke California, dia sangat dekat denganku.”Lanjutnya dengan senyuman yang dapat menembus rasa jengkelku. Menjijikan!! Batinku kesal

“Arraseo, aku masih ingat.”Ujar Jaehyun mendekatiku, lalu merangkulku. “Kau pasti lapar kan? Aa~ kau juga kan??”Jaehyun mengerling ke arah Jiyong. Ya Tuhan sepertinya sebentar lagi aku akan gila!! Aku mendengus dalam hati.

Beberapa saat setelah itu..

Batinku terus menggerutu, Sial! Sial! Sial!! Siaallll!!! Kenapa kak Jaehyun pergi ke supermarket tanpa Ahjussi brengsek ini???

“Waegeurae? Ada masalah?”Tanya Jiyong sukses membuatku mendelik padanya. “Bukan urusanmu!”Jawabku acuh..

Sekilas aku melihat Jiyong mengelus dada, “Sepertinya dugaan ku benar”Kata Jiyong tak jelas.

Sontak aku terheran-heran, “Maksudmu?”Tanyaku kemudian.

“Kau terlanjur membenciku.”Jawabnya cepat

“Bagus kalau kau sadar,”Aku masih tetap acuh

“Aku bisa menjelaskan masalah ini. Asal kau mau mendengarkan.”

“Tidak perlu! Aku tidak tertarik dengan penjelasan mu.”Aku memilih melenggang pergi tapi Jiyong menghentikan ku. Dan menyuruhku untuk kembali duduk seperti semula.

“Ada apa lagi? Sudah jelas kan? Kau memang pengkhianat!”Kataku ketus dengan menatapnya tajam.

“Jin-ah..”

Segera ucapannya ku potong, “Aku tahu, waktu itu aku hanyalah seorang bocah ingusan yang tolol. AKU TAHU ITU AHJUSSI! Tapi tidak seharusnya waktu itu kau mengatakan janji padaku, kalau kenyataanya itu hanyalah janji palsu!!”Timpalku serta merta dengan emosi yang meluap.

Jiyong menghela nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. “Asal kau tahu, janji ku padamu 10 tahun silam. Bukan lah janji palsu. Namun ada beberapa hal yang membuatku mengharuskan tidak menepati janji itu. Aku harap kau mengerti, Hyejin. Karena ini bukan ke inginanku sendiri.”

Seketika mataku membulat, “Cih! Bukan ke inginanmu katamu?? Lantas ke inginan siapa eo??”

“Jaehyun dan kedua orang tuaku. Mereka setuju dengan rencana perjodohan yang di usulkan Jaehyun dan keluarga, juga termasuk kedua orang tuamu sendiri.”Ucap Jiyong dengan menunduk kan kepala.

Deg! Aku bagaikan tersengat ribuan volt. “A-apa?? Juga termasuk kedua orang tua ku??”

“Eo”Jawabnya singkat, lalu Jiyong mendekat ke arahku, kemudian tangannya meraih tangan kananku dan meremasnya pelan. “Jeongmal miannata Jin-ah.. Sungguh aku tidak bisa menentang ke inginan mereka.” Lagi, kali ini tatapan sendunya mampu menembus rasa galauku.

#####

Aku merebahkan badanku di atas tempat tidur yang sudah Jaehyun siapkan. Ku tatap langit-langit, sesekali mendesah kecil seraya mengumpat tak jelas. Dengan harapan semua masalah musnah seketika. Kemudian ku tarik nafas pelan dan menghembuskannya.

BLAMM, aku sedikit terperanjat ketika mendengar suara pintu kamar ku tertutup sedikit agak kasar. Sontak aku menoleh ke arah pintu, “Ahjussi??!”Pekik ku tertahan. Sontak Jiyong menaruh telunjuknya dibibirnya, “Sstt!”Lanjutnya memberi isyarat agar aku memperkecil volume suaraku.

“Se-sedang apa kau dikamarku?”Tanyaku hati-hati. Jiyong tak bergeming dan hanya terus melangkahkan kakinya, menghampiriku.

“Ahjussi.. Bagaimana dengan Kak Jaehyun? Aku mohon jangan seperti ini!”Aku mulai kelimpungan dengan nya. Langkahnya pun semakin dekat saja. Damn! Sekarang dia sudah berdiri dihadapanku dengan menatap mataku tajam bagaikan seorang pemburu yang melihat mangsanya.

Lalu sedetik kemudian aku sudah merasakan hangatnya tubuh Jiyong. “Miannata!”Untuk kesekian kalinya Jiyong mengatakan kata ‘maaf’ padaku. Gluk. Aku menelan ludah dalam-dalam. Berharap ini hanyalah sebuah mimpi belaka. Namun sayang harapan hanyalah sebuah harapan, bagaimana pun juga ini nyata.

Sejenak aku terdiam, begitu pun dengannya.

3menit berlalu..

“Ahjussi..”Panggilku pelan. Jiyong mengerti lalu melepaskan pelukannya. Tak hanya itu, kemudian Jiyong merengkuh wajahku. Menuntunku untuk menatap wajahnya. “Jangan pernah berfikir untuk melupakan ku, Jin-ah. Tetaplah seperti dulu, menjadi Hyejin yang hanya menyukai ku!”Ucap Jiyong tegas

Deg! Aku tersentak. Mungkin ini yang aku inginkan?? Pikirku dalam hati. Namun segera ku tepis rasa itu. Tidak! Ini harus diluruskan. Karena ku tahu, ini salah. Dan aku tidak boleh!

Ku tepis lembut tangan Jiyong dari wajahku, “Mianhae ahjussi.. Ini sudah terlambat.”Ucapku dusta karena mengingat dia sudah menjadi suaminya Jaehyun, saudaraku.

“Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki hubungan kita.”Ucapnya cepat menimpali ucapanku.

Apa? Hubungan kita?? Apa dia sudah gila?? “Jangan mengambil keputusan yang ber akibat fatal, ahjussi!”

Jiyong mendesah pelan, “Percayalah, aku sudah memikirkan hal ini.”Jiyong kembali merapatkan tubuhnya ke tubuhku. 2detik kemudian lengannya sudah menggelungi pinggangku.

“Ahjussi, k-kau mau a-apa?”Tanyaku gugup ketika Jiyong mencondongkan wajahnya ke wajahku.

“… Jiyong menyeringai manis, sebagai tanda jawaban dari pertanyaanku”

Kyaa!! Ini tidak benar!! Tidak boleh terjadi!!! “Hyaa, ahjussi kau membuatku takut!! Aku mohon jangan seperti ini!!”Sontak aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku ketika wajahnya benar-benar sudah bertengger manis didepan wajahku.

Jiyong terkekeh seraya melepaskan tangannya dari pinggangku, “Jangan mesum! Aku tidak akan melakukan apa-apa pada anak kecil seperti kau.”

“Mwo??”Suara ku teredam jemari. Anak kecil??? Whoa, rupanya dia sudah berani mempermainkan ku. Ahjussi sialan!!! Umpatku dalam hati.

#####

Author`s POV#

Ppip, ppip, ppip, ppip.. Jam weker berbunyi nyaring. Membuat Jaejoong terjaga dari tidurnya. Jaejoong meraih jam wekernya, kemudian membantingnya kesembarang tempat.

“Jam brengsek!! Issh!! Mengganggu saja!!”Gerutunya kesal. Saat hendak kembali tidur, ponselnya berdering. Satu panggilan masuk.

“Yeobseo??”Jawab Jaejoong malas.

“…..”

“Yaa!! Abeoji!! Aku sudah mengatakan ini untuk kesekian kali nya. Aku sama sekali tidak pernah tertarik dengan tawaran mu itu.”Tandas Jaejoong kelabakan

“…..”

“Yaa!! Yaa!! Yaa!! Jadi kau mengancamku ha?!”

“…..”

“Andwae!!!!”

“…..”

Jaejoong mendesah, “Ne arraseo abeoji, 30 menit lagi aku tiba di kantor.”

“Tsk!!! Sial!!! Tidak seharusnya abeoji menjadi kan ku calon pemimpin perusahaan. Aissh!! Ini bukan bidangku.”Gerutu Jaejoong setelah menerima telfon dari abeoji nya.

Selang beberapa waktu..

Ponsel Jaejoong kembali berdering. Satu pesan diterima.

Joong-ah, eomma sudah menyiapkan sarapan untukmu.

“Tsk! Bukan kah usia ku sudah 26 tahun?”Gerutu Jaejoong mendapati pesan singkat dari eommanya.

BLUGG, Jaejoong menutup kasar daun pintu apartemennya.

Tiba-tiba saja Jaejoong mendapatkan semburan mie ramen yang ternyata berasal dari mangkuk mie Hyejin yang terpeleset saat hendak keluar dari kamar apartemen.

“HYAAAAA!!!! PANAS!!”Teriak Jaejoong kepanasan.

Hyejin panik sekali, “Jeongmal mianhae!”Ucap Hyejin dengan berusaha mengibaskan mie ramen yang mengenai jas Jaejoong.

Jaejoong kesal dan terus mendumal, “Sudah, sudah, sudah! Kau membuatku terlambat!”

Hyejin semakin merasa bersalah dan terus bersikap ramah padanya, kemudian berkata, “Ayolah ahjussi terima permintaan maafku!”

“Yaa! Kau memanggilku apa?? Ahjussi??”Mata Jaejoong membulat seketika, tapi tangannya masih sibuk mengibaskan sisa-sisa ramen yang mengenai jas nya. Hyejin menggerutu, “Yang benar saja dia marah hanya karena aku memanggilnya ahjussi.”

“Mwo?? Kau berkata apa??”Jaejoong kesal,

“Anni, hanya saja menurutku sudah sepantasnya kau menyandang gelar ah-ju-ssi!!”Jawab Hyejin penuh penakanan pada kata ahjussi.

Kali ini Jaejoong benar marah dan kesal, “Yaa!!”Jaejoong mendengus, “Kau membuatku jengkel!! Lebih baik cepat KAU PERGI SEBELUM AKU MENGHABISI MU!!”Gertak Jaejoong membuat Hyejin tersentak, tapi kemudian Hyejin kembali bersikap biasa,”Baiklah aku pergi, tapi kalau ahjussi tidak keberatan aku akan mencuci jasmu, sebagai permintaan maafku. Percayalah aku akan membuatnya kembali bersih seperti semula.”Rayu Hyejin berkobar-kobar. Tapi apa, Jaejoong membalasnya dengan ucapan dingin, “Tidak perlu!”Kemudian Jaejoong berjalan gontai ke arah tempat tong sampah tersimpan. Hyejin yang melihat itu hanya bisa mengkerutkan dahi. Sedetik kemudian tak butuh waktu lama, jas yang dikenakan Jaejoong tlah lolos ditelan tong sampah tersebut.

Hyejin terbelalak, “Yaa!!! Sombong sekali kau ha!!!”

Jaejoong tak bergeming dan hanya melambaikan tangan tanpa menoleh ke arah Hyejin yang sudah beringsut, lalu pergi.

Setelah Jaejoong hilang ditelan waktu, Hyejin memungut jas nya, kemudian mencibir, “Apa dia terlalu kaya, sampai-sampai jas se mahal ini dia buang?? Sayang kan. Ckckck, benar-benar sikap yang buruk!”

#####

Hyejin tersenyum senang setelah mendapati Jas Jaejoong yang sudah kembali bersih dan terlampau licin.

“Jagiya, kau mau minum apa mm? Akan ku buatkan.”Tanya Jaehyun pada Jiyong.

Deg! Sikap Jaehyun pada Jiyong tlah membuat jantung Hyejin berpacu cepat. Ayolah Hyejin kau harus bisa, Jiyong bukan segalanya untukmu. Teguhnya dalam hati.

Jiyong memandang sekilas punggung Hyejin yang jaraknya tak jauh dari mereka, “Tidak usah, aku bisa membuatnya sendiri.”Jawab Jiyong datar dengan berjalan menuju dapur. Kemudian Jaehyun berjalan mengikutinya.

Senyuman manis langsung ter ukir dibibir Jaehyun ketika melihat sang suami sedang sibuk berkutat menyiapkan minuman nya sendiri. “Jiyong-ah, kau tahu, betapa beruntung nya aku bisa mendapatkan mu. Walaupun ku tahu, hatimu bukan lah untuk ku.”Lirih Jaehyun

Jaehyun berjalan mendekati Jiyong. Jaehyun yang berdiri di belakang Jiyong langsung menggelungkan lengannya di pinggang Jiyong. “Saranghae, Jiyong-ah!”Ungkap Jaehyun tiba-tiba. Sontak Jiyong menghentikan aktifitasnya, “Hei! Kau bisa membuat minuman ku tumpah.”Kata Jiyong dengan perlahan melepaskan lengan Jaehyun dari pinggangnya, kemudian Jiyong memutar arah badannya.

Jaehyun mengangkat satu alisnya, “Kenapa?? Apa aku salah??”

Jiyong tersenyum lalu menepuk pelan puncak kepala Jaehyun, “Tidak ada yang salah. Hanya saja sekarang kau harus bisa menjaga sikap. Ingat, sekarang ada Hyejin di apartemen kita.”

Hyejin yang sedari tadi ber ada diruang pelicin pakaian yang letaknya bersebelahan dengan dapur, mau tidak mau harus mendengar percakapan antara Jiyong dan Jaehyun. Deg deg deg!!! Jantung Hyejin bertabuh semakin kencang. “Ini kah rasanya sakit hati?? Kenapa bisa se sakit ini??”Jaehyun hanya bisa mengelus dada.

#####

Desiran angin malam menggelitik wajah Hyejin. Sinar rembulan disertai kerlipan bintang menyemarak kan malam hari di sungai Han. Hingga terpancar lah ke indahan yang tiada tara, yang mampu menghipnotis para pengunjung sungai, juga termasuk Hyejin dan Jiyong.

“Berapa lama Jaehyun unnie pergi??”Celetuk Hyejin memecah kesunyian malam.

“2/3 minggu.”Dengan cekatan Jiyong memakaikan mantel miliknya pada Hyejin.

“Lama sekali.”Gumam Hyejin

Jiyong menatap fokus ke arah Hyejin yang sedang termenung, “Waeyo?? Ada yang kau cemaskan??”

Hyejin melenguh kecil, “Ada. Aku takut. Aku kalah dan patah.”

Jiyong mengernyit bingung,”Maksudmu?”

“Aku takut kalah. Karena situasi, kondisi, arah mata angin dan pikiran ku. Dan kenapa aku takut patah? Karena perasaanku terhadapmu yang tak kunjung surut.”Hyejin menghela nafas sejenak, kemudian melanjutkan, “Walaupun sebenarnya aku sendiri belum yakin, ini cinta atau hanya nafsu ingin memiliki.”

Jiyong ter enyuh sesaat. Ia tak habis pikir, gadis yang usianya 10tahun lebih muda ternyata bisa membuatnya ter enyuh dengan ucapannya.

“J-jadi kau??”Kalimat Jiyong mengambang.

Kemudian Hyejin menimpali dengan tegasan, “Mm, secara tidak langsung aku sudah menerima mu. Ahjussi..”

Hati Jiyong berdesir lirih. Ada sesuatu yang merambat permukaan kulit pipinya. Panas. Kemudian Jiyong tersenyum, dan terus tersenyum semakin manis. Lamanya penantian 10 tahun. Akhirnya pemilik hati dan perasaannya yang sesungguhnya, sudah ia temukan kembali.

“Gomawoyeo. Jin-ah..”Jiyong merapatkan tubuhnya pada tubuh Hyejin, kemudian memeluknya erat.

Hyejin termangu sesaat, dan berkata, “Apa aku tlah melakukan kesalahan??”

“Tidak! Karena perasaan kita nyata.”Jiyong semakin mempererat pelukannya. Sangat erat. Bagaikan lintah. “Kau adalah bagian siluetku yang tak mudah direntangkan, Jin-ah..”Batin Jiyong.

Kini yang terdengar hanyalah desiran angin, angin malam yang semakin dingin, menelusuk kedalam epidermis kulit. Serta merta beberapa suara jeritan binatang malam.

“Ahjussi..”Panggil Hyejin teredam.

“Ne?”

“Mau sampai kapan kau akan memelukku seperti ini?? Aku lelah, ingin pulang. Lagi pula malam semakin larut. Ingat! Aku masih ingin melihatmu ahjussi.”

Seketika harmonisasi nada sendu antara Jiyong dan Hyejin buyar.”Sembarangan!”Jiyong menjitak kepala Hyejin. “Apa maksudmu aku akan mati kedinginan eo?? Ck, payah! Benar payah!”

Hyejin mendengus kesal,”Ternyata. Setiap ahjussi memang sangat menyebalkan. Termasuk dirimu, juga dirinya.”

“Dirinya?? Siapa??”Selidik Jiyong

“Bukan siapa-siapa. Hanya seorang tuan muda yang buruk rupa.”Jawab Hyejin acuh sambil melangkah mendahuluinya.

‘Cinta atau hanya nafsu ingin memiliki’

‘Karena nafsu, sehingga melahirkan cinta. Dalam diri manusia hanya terdapat dua yaitu akal dan nafsu. Dimana nafsu yang membuat nya takut akan kehilangan seseorang, dan nafsulah yang membuat cinta terlahir..’

TBC’

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s