Bad love #Part 3

Standar

@ Busan, Korea selatan.

Seunghyun membelai lembut rambutnya Jaehyun, “Kali ini kau cukup nekad.” Kata Seunghyun, “Sebenarnya apa alasan mu melakukan ini?”

Senyuman menembus air mata Jaehyun, “Aku tidak tahu.”

Seunghyun merengkuh wajah Jaehyun, dan memandangnya, “Begini, Jaehyun,” Kata Seunghyun, “Tidak seharusnya kau meninggalkan suamimu dengan gadis yang dicintainya. Lebih baik besok atau lusa kau berkemas.”

Sekejap Jaehyun kembali tersenyum, dan menyeka sisa-sisa air matanya, “Lalu urusan kantor?”

“Kau tak perlu mencemaskan urusan kantor, serahkan saja padaku, aku bisa menanganinya sendiri.”

“Kau Yakin Jjinjayo??”

“Yaa! Kau meragukan kemampuanku?? Aissh! Aku ini Choi Seunghyun. Percayalah! Tapi sebelum kau pulang aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

“Geurae,” Jaehyun menyeringai, “menurut sesuka hati oppa!”

#####

Alunan partitur jazz dari lantunan saxophone, pemberontak kan suasana cafe. Sampai menimbulkan harmonisasi yang tak terbendungkan.

“Hati manusia pada dasarnya memang sangat rapuh. Sehingga dengan mudahnya dapat dibutakan oleh cinta.” celetuk Seunghyun sambil menyeruput black cappuccino nya.

Jaehyun mendelik sesaat ke arah Seunghyun, “Ck, kau menyindirku oppa?”

“Kau tersindir?” pertanyaan dijawab dengan pertanyaan, Seunghyun tertawa kecil, “Apa kau pikir kata-kataku terlontar hanya untukmu? Tsk, ternyata benar, kau sama sekali tidak memikirkan perasaanku.”

Sekejap Jaehyun termangu, “Oppa ..”

“Aku tepesona dengan setiap hal yang kau lakukan padaku, ada hal yang tidak bisa dijelaskan begitu saja. Seperti desiran yang menyelubungi perasaanku saat kau mengerling ke arahku. Seperti inilah diriku yang selalu memujamu.”Kata Seunghyun pilu, “Ber ulang kali kau menolak, ber ulang kali kau sakiti, tapi, perasaan ini tetap sama. Dan sepertinya cinta telah membuatku lemah dan jatuh terjerembab ke hamparan tanpa dasar.”

Deg! Batin Jaehyun berdesir, “Oppa ..” lirih Jaehyun

Seunghyun tersenyum seketika, senyuman yang sangat manis, “Tapi, bagaimana pun juga cinta tak harus memiliki bukan?”

“Oppa, mianhae,” kata Jaehyun dan meraih lembut jari-jemari Seunghyun, “jeongmal mianhae! Aku tidak pernah memikirkan perasaanmu sebelumnya oppa. Betapa bodohnya aku tidak bisa menyadari keberadaanmu!” Jaehyun menunduk, menyiratkan rasa penyesalan yang mendalam.

Seunghyun beranjak dari duduknya, dan merengkuh tubuh Jaehyun dalam dekapan hangat, “Tsk, sekeras apapun kau meminta maaf seperti itu. Aku tidak akan memberi jawaban apapun, karena dalam masalah ini tidak yang bersalah dan tidak ada yang perlu di maafkan.” Seunghyun menepuk-nepuk pelan pundak Jaehyun dengan harapan bisa kembali tenang.

#####

“Whoa, neomu yeppoda!! Jadi ini tempat yang kau maksud??” Tanya Jaehyun antusias saat tiba disebuah perkebunan jeruk.

“Mm, eotteohkae Kau sisir??”

“Neomu, neomu, neomu joa ..” Jaehyun mengerling ke arah Seunghyun sambil Ventilasikan 2 jempol miliknya tepat ke wajah Seunghyun.

“Geureom, sekarang kau bisa memetik jeruk dikebun ini sesuka hati.”

“Jjinja??” Jaehyun mengulum senyum

“Eo,” Seunghyun menepuk pelan ujung kepala Jaehyun ..

Selang beberapa saat kemudian,

“Hyun-a ..”

“Dia, waegeurae??”

“Bagaimana hubunganmu dengan Jiyong-ssi?”

“Tanpa ku jawab pun, aku yakin kau sudah tahu apa jawabannya.”

“Seburuk itukah?”

“Aku tidak tahu, dan tidak mau tahu. Lagi pula aku sudah cukup bahagia bisa memilikinya seperti sekarang. Meskipun yang ku miliki hanyalah raganya, tidak dengan perasaannya.”

“Lantas kenapa kau menghadirkan Hyejin? Bukankah sudah jelas gadis kecil itu adalah cintanya Jiyong. Kau tidak takut??”

“Takut?? Buat apa aku takut?? Toh dia hanya anak kecil yang tak mengerti arti cinta sesungguhnya seperti apa. Lagi pula, aku yakin, tidak akan terjadi “sesuatu” di antara mereka.”

“Sebesar itukah kau menyimpan kepercayaan kepada mereka?? Sementara kau sendiri juga tahu, mereka berdua saling mencintai satu sama lain??”

“Yaa!! Oppa!!” Jaehyun mulai jenuh dengan cecaran-cecaran Seunghyun,

“Ne, wae?” Seunghyun bersiul pura-pura tak mengerti,

“Aissh! Semakin tua usiamu, kau semakin menyebalkan saja oppa!” Jaehyun mendengus,

“Dari pada kau terus mencecarku dengan pertanyaan yang bodoh, lebih baik kau makan ini saja, aa~” Jaehyun berhasil menyodokkan 3potong jeruk sekaligus kemulut Seunghyun.

Sekejap wajah Seunghyun memerah, matanya pun membulat.

“Eotteohkae?? Manis kah?” Jaehyun memasang wajah khawatir,

“Hyaa, rasanya buruk sekali!!! #*&%$~%*~”

Sontak Jaehyun menyumpal (?) Kedua telingannya dengan tangannya, “Aissh! Ternyata memang benar, dia lebih cocok menyandang gelar eommoni, dibanding oppa!!” Gerutu Jaehyun dongkol,

#####

@ Seoul,

Sementara itu, setelah menyatakan statemen konyol, “Karena sangat sibuk, saya belum mempersiapkan presentasi untuk rapat hari ini. Dan saya rasa presentasi untuk hari ini cukup sampai disini. Terima kasih.”

Jaejoong berlari terbirit-birit pergi melarikan diri untuk menghindari meeting yang menurutnya sangat membosankan dengan beberapa klien dari perusahaan besar yang bekerja sama dengan perusahaan milik ayahnya tersebut.

Sesampainya diluar ruang meeting, dengan gaya cool ia berlalu pergi. Meskipun kepergiannya itu di ikuti oleh pandangan bertanya-tanya dari para sekretaris yang menunggunya diluar.

Saat dilorong, Jaejoong harus menerima kalau ia sedang berpapasan dengan ayahnya, di ikuti oleh pandangan se horor mungkin ke arahnya. Ia hanya terlambat satu detik, karena ayahnya berhasil mengejarnya masuk kedalam lift.

“Mau pergi kemana lagi kau heh?”Tanya ayah saat pintu lift tertutup.

“Hari ini aku sangat sibuk, ada beberapa hal yang harus ku selesaikan sekarang juga. Aku pergi kemana? Ck, ayah tak perlu tahu. Karena ini urusanku.”Jawab Jaejoong cepat, sebelumnya dia sudah antipati untuk menghadapi beberapa cecaran dari sang ayah.

“Sibuk, sibuk, sibuk!! Ayah juga tahu, kau itu hanya sibuk bermain-main dengan hal-hal yang tak berguna. Yaa!! Sudah seharusnya kau bisa bertanggung jawab dengan jabatan yang sudah ayah berikan padamu dikantor ini. Karena kau generasi kedua chaebol.” gerutu ayah.

“Aissh!!” Jaejoong mendengus, “Dulu memang aku sangat iri melihat kehidupan generasi kedua chaebol-chaebol korea. Tapi setelah aku bekerja 3bulan mendampingimu ayah. Sekarang aku tak iri sama sekali.” dengan muram Jaejoong memperbaiki, “Karena aku baru menyadari, kalau aku bukanlah generasi kedua chaebol, tapi generasi ketiga.”

“Jangan sesumbar!! Dasar anak tidak tahu di untung!!!” Reflek ayah memukul kasar kepala Jaejoong.

Ya, sepertinya hal ini sangat lumrah terjadi di antara mereka. Sekretaris ayahnya hanya berdiam diri dan langsung menutup CCTV lift dengan Galaxi Tab-nya.

Dan saatnya lift sudah mencapai lantai tiga. Serempak mereka menghentikan aksi pelajaran ‘kasih sayang’ itu dan mereka keluar dari lift dengan tenang.

“Kalau kau tetap seperti ini, tidak bisa merubah kebiasaan burukmu. Akan ku pastikan, ayah mencabut namamu dari kartu keluarga.”

“Ayah tidak dapat mencabut namaku karena hukum korea tidak memperbolehkan hal itu.” Jaejoong menjawab (sok pintar)

Mendengarnya, ayah tak dapat mengendalikan diri untuk menunjukan sekali lagi ‘kasih sayang’ padanya didepan umum.

“Yaa!! Abeoji!! Hentikan!!” teriak Jaejoong memprotes.

“Tuan jangan seperti ini, orang-orang mulai memperhatikan kita.”Kata sekretarisnya menyadarkan.

“Aissh!! Arraseo,” ayah menghentikan aksi bulinya dan membenahkan diri.

Disisi lain Jaejoong menggerutu sambil berlalu, “Memalukan!!”

#####

@apartemen

Dilorong menuju kamar apartemen, Jaejoong bertabrakan (lagi) dengan Hyejin yang baru saja keluar dari apartemen (Jiyong). Tapi kali ini tidak ada satu mangkok mie ramen. Sehingga membuat ponselnya jatuh, Hyejin menggumamkan kata ‘maaf’Tapi Jaejoong sontak memanggil,”Hei, kitten!”

Hyejin reflek menoleh dan menunjuk dirinya sendiri, “Aku?? Kitten??” tanya Hyejin memastikan dengan satu alis terangkat.

Jaejoong tidak menggubris tapi dia malah menendang ponselnya, mengedikkan kepalanya menyuruh si kitten (Hyejin) segera mengambil ponsel nya.

Hyejin mengikuti perintahnya, dan mengambil ponselnya, “Aku tidak akan mengembalikan ponsel ini begitu saja, kecuali kau bersedia meminta maaf, karena tabrakan ini bukan murni kesalahanku sepenuhnya,”

“Kurang ajar sekali kau heh?!!” celetuk Jaejoong kesal, “Aa ~, aku baru ingat, kau gadis yang menyiramku dengan mie ramen panas itu kan??” “Yaa!! Ahjussi!! Cepat kesalahan kata-katamu!!”Hyejin memanas,

“Ng??” Jaejoong tidak paham,

Hyejin mendelik sesaat, dan tangannya sudah terlipat di dada, “Yaa!! Bukan “yang menyiram”, tapi lebih tepatnya, “tidak sengaja menyiram”, arrachi?!!”

Jaejoong sontak hanya bisa menggelengkan kepala, “M-mwo??? Kau!!! Aissh!!!”

Pertikaian antar mulut pun tak bisa dihindari, tapi sebelum pertikaian mereka usai, Jiyong yang baru saja keluar dari apartemennya datang untuk menyusul Hyejin.

“Jin-a, kenapa kau masih disini?? Bukan kah tadi aku menyuruhmu menunggu di Basement??” Tanya Jiyong heran,

Hyejin reflek berlari kecil kearah Jiyong dengan wajah ditekuk. “Oppa ~ barusan aku diganggu oleh ahjussi maniak itu!!” kata Hyejin dengan nada merengek sambil menunjukkan telunjuknya ke arah Jaejoong yang sedang terpaku dilanda keterkejutan yang hebat. “Mwo?? Ahjussi m-maniak???”Jaejoong menggumam dalam hati,

Sedetik kemudian, Jaejoong membela diri, “Hyeong, itu tidak benar. Yang benar, dia tadi menabrak ku hingga ponselku jatuh.”

“Bohong!! Jangan percaya dia oppa!!” sergah Hyejin

Sementara Jiyong yang menanggapinya hanya bisa terkekeh, “Joong-a, aku minta maaf atas keteledoran Hyejin. Aku harap kau bisa memakluminya,” kata Jiyong kemudian,

“Gwaenchana hyeong, ne, arraseo.” jawab Jaejoong sambil mengulum senyum,

Hyejin yang tak terima langsung mendengus, dengan bibir yang mengerucut, “Oppa!!”

#####

“Oppa?? Sementara Jaejoong disebut ahjussi?? Hhahhaha menggelikan.” Jiyong sudah tak dapat menyembunyikan gelak tawanya.

Hyejin mengerucutkan bibirnya dan berdecak, “apa salahnya aku memanggilmu oppa??”

Jiyong menghentikan laju mobilnya ditepi jalan. Kemudian Jiyong membiarkan tubuhhnya beringsut didekat Hyejin dan merentangkan jarak selebar satu meter. “Jujur saja aku paling takut dipanggil oppa olehmu, Jin-a.” kata Jiyong lembut.

“Cheyo?” Ragu Hyejin Menatap yong.

Jiyong mengulurkan tangannya pada Hyejin, “kemarilah!”

Hyejin menyambutnya dan Jiyong membawa dirinya dalam dekapan hangat. “Mengingat usiaku yang sudah menginjak 30 tahun. Tsk, sepertinya kau lebih cepat memanggilku ahjussi.”

(Lagi) Jiyong membuat Hyejin mendengus, wajahnya tenggelam dalam dada Jiyong “Jadi kau mempermasalahkan masalah ini??”

Jiyong tak langsung menjawab. Entah apa yang membuat Jiyong tergoda untuk menikmati harum menguar dari rambut Hyejin. Kemudian Jiyong mencium ubunnya lembut. “Aku hanya memberi saran jagi,”

“Ck, sama saja.” Gerutu Hyejin membuat Jiyong terkekeh geli.

“Apa aku sudah membuatmu kesal?”

“… Hening tak ada Jawaban”

“Kau Marah?”

“…( Lagi) cuma keheningan yang menjawab. ”

“Kalau kau diam, aku akan menurunkanmu disini.” ancam Jiyong lembut

Hyejin menghela nafas pilu, “Aissh!! Arraseo, arraseo, tapi bisakah ahjussi berhenti mencecarku dengan pertanyaan tak berarti??”

Jiyong sekilas tersenyum manis, “Geurae, arraseo.” kemudian Jiyong memainkan dagu pada kepalanya Hyejin. Senyum sungging langsung terpacak diwajah Hyejin.

Tak lama setelah itu, sesaat Jiyong tercenung dan melepaskan dekapannya.

“Waegeurae, EH?” Tanya Hyejin cemas,

Jiyong sontak meraih jari jemari Hyejin dan meremasnya lembut, “Besok, Jaehyun pulang”

Deg! “Jjinjayo?? Baguslah, kebetulan aku memang sangat merindukannya.” tutur Hyejin bohong,

“Miannata, aku tahu ini pasti sulit bagimu.” Jiyong mencium lembut jemari Hyejin, “Demi Tuhan, aku mohon bersabarlah untukku.”

“Ahjussi..” Hyejin memanggilnya lirih, “Percayalah, apapun yang terjadi dan sampai kapan pun itu, aku akan tetap berdiri disampingmu.” Hyejin melanjutkan, “Selama kau tidak menyuruhku untuk berhenti.”

Perasaan Jiyong kembali terenyuh olehnya. Jiyong merengkuh wajah Hyejin dan mendekatkan wajahnya. Sedetik kemudian, Jiyong berhasil mengurapi bibirnya lembut didaratan bibir manisnya Hyejin.

Jiyong berbisik disela-sela cumbuannya, “Saranghae, jeongmal saranghae, Hyejin ..”

“Nado, ahjussi ..” balas Hyejin tanpa melepaskan cumbuannya.

#####

“Hyaa!! Ahjussi!!! Kenapa kau memakai jas itu???” Hyejin terkejut setelah menemukan Jiyong memakai jas milik Jaejoong.

Jiyong sontak mengkerutkan dahi, “Jas ini hadiah untukku bukan??” tanyanya terlewat percaya diri.

“Bukan!! I-itu milik Jaejoong-ssi.” jawab Hyejin cepat dengan terbata-bata.

Sejekap mata Jiyong membulat, wajahnya pun memerah padam, “mwo???”

30 menit kemudian,

Ting, tong, ting, tong, ting, tong.. Hyejin tak hentinya menekan tombol bel pintu apartemen Jaejoong.

* Klik *

“Ahjussi!!” panggil Hyejin semangat saat pintu terbuka. “Kitten??” kata Jaejoog heran dengan satu alis terangkat, “Mwoya?? Kitten??” Hyejin tecengang

* * Blugh

Kemudian Jaejoong menutup kasar daun pintu apartemen, tanpa menggubrisnya.

“Kenapa Aissh ahjussi! Nya kasar Sekali?”

“Yaa!! Ahjussi!! Cepat buka kembali pintunya!! Aku hanya ingin mengembalikan jas milikmu!!” teriak Hyejin kemudian,

Masi nyambung ya, seperti biasa yang udah baca. mau komentar, kasih saran / kritik ato semacamnya terserah!! asal tinggalkan jejak!! mian kalo ceritanya agak gaje, so authornya juga emang gaje O, o

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s