You and I #Part 1

Standar

Main Cast            :  Lee Junho(2PM)                                

 Jang Wooyoung (2PM)                                

 Han Ya Ra                                   

         Kim Hyun Ji

Support Cast      : (All Member of 2PM) and Other

Author                  : Autumn/Dizah Y. Chafnnie

=Annyeong, ini FF series saya pertama tentang Kpop. Jdi saya masih belajar chingu semua :), jika cerita ini kurang menarik dan jelek saya minta saran kalian yang membangun ya, juga minta pendapat kalian ttg part 1 ini. Semoga tidak mengecewakan kalian Lupakan FF yang pernah aku post covernya karena entah knp ide untuk itu mendadak buyar. Mian ^^  FF ini terinspirasi dr banya drama korea yg saya tonton hehehe, kyk BBF,Dream High dll tapi gak bermaksud ngikut ngikut lo .__.v ceritanya akan beda=

Happy Reading^^

“hyak.Hyunji-ah, cepat sedikit..”

Han Yara, menoleh kebelakang sembari mengatur nafas. Melihat temannya yang kini sedang terbungkuk sembari memegangi lutut, mereka berdua sama-sama berada dalam balutan seragam sekolah yang sangat diminati di Seoul dan jacket tebal hangat yang membalut seragam yang mereka kenakan itu.

“Sebentar Yara-ah..”Ucap Hyunji dengan nafas yang tak beraturan.

Yara memutar kedua bola matanya dengan geram, berjalan kearah Hyunji yang masih terdiam dijarak yang cukup jauh tertinggal dibelakangnya.

“Kita bisa terlambat Hyunji-ah..”Yara meraih tangan Hyunji yang keduanya masih tertumpu dilututnya, Hyunji mendesah lemas seraya mengikuti langkah kaki Yara yang lincah dan cepat.

“Hya! Yara-ah, kakimu itu terbuat dari apa sih? Kita sudah berjalan cukup jauh bahkan berlari, apa kau tidak lelah ha?..” Tanya Hyunji dengan nada menggerutu, yang ditanya malah diam dan masih fokus berjalan sembari menarik tangan temannya dengan kuat.

“hyak!..”teriak Hyunji, ketika Yara tidak menjawab pertanyaannya.

“Aishhh..”Langkah Han Yara terhenti, dihentakkannya kaki kejalanan beraspal ini dengan cukup kuat.

“Kita bisa terlambat kau tahu? Ini hari pertama kita disekolah itu dan kita tidak boleh melakukan kesalahan..”Ucap Yara dengan tegas, mata sipitnya ia belalakkan saat menatap Hyunji yang menahan lemah.

Hyunji melengos “ne baiklah..”

“hwaitin..”Ucap Yara bersemangat, sebelah tangannya yang dikepalkan ia angkat keatas. Membuat Hyunji menahan senyum karena sahabatnya ini seperti sedang berada dalam sebuah pertempuran.

“baiklah..”yara menurunkan tangannya “Kajja Hyunji-ah..”Ia kembali menarik tangan Hyuni dan berlari, membuat tas sandang mereka ikut tergerak karenanya.

Seoul High School, sekolah yang banyak diminati ooleh masyarakat yang ingin menuntut ilmu di Korea Selatan,Seoul lebih tepatnya. Sebuah sekolah mewah yang memerlukan pengeluaran besar agar bisa bersekolah disekolah ini, tapi tidak hanya kalangan kaya saja yang bisa bersekolah disana, Masyarakat biasapun bisa masuk kesekolah ini dengan upaya yang pastinya sangat kuat. Dan disinilah.. Han Yara dan Kim Hyunji, seorang anak dari kalangan biasa dimana orang tua mereka bersahabat sejak kecil, Appa Han Yara memiliki sebuah kedai makan dan Appa Hyunji juga ikut membangun kedai makan itu bersama Appa Yara.. Ya, Kedai makan itu sekarang sudah cukup terkenal dikalangan masyarakat. Eomma Yara dan Hyunji bekerja bersama-sama disebuah salon kecantikan yang mereka bangun bersama walaupun masih kecil-kecilan. Han Yara dan Kim Hyunji, bersahabat sejak kecil karena hubungan mereka –walaupun bukan saudara—yang sangat dekat, bahkan ulang tahun mereka hanya berjarak beberapa bulan. Mereka.Bersahabat dalam susah dan senang.

“Yara-ah, apa masih jauh?..”Hyunji bertanya dengan nada suara yang sarat akan kelelahan. Seebelah tangannya digenggam Yara dengan sangat kuat dan sebelah lainnya ia tumpukan dilututnya, menahan lelah.

Han Yara menghentikan langkah “sedikit lagi, Hyunji-ah.. Kajja..” Yara masih tetap bersemangat, tak seperti Hyunji yang keningnya sudah mengeluarkan butir-butiran kecil. Kim Hyunji menegakkan tubuhnya  dan mengatur nafas.

“Ahh~ hwaitin..”Hyunji berseru cukup kuat bersamaan dengan Yara yang menarik tangannya. Berjalan mencapai tempat impian mereka.

Karena sampai kapanpun ini impian mereka bersama, bersama dalam segala hal.

+++

Han Yara dan Kim Hyunji menghela nafas lega begitu mereka sudah memasuki gerbang Seoul High School ini, sekolah yang sangat luas dan besar serta mewah. Aura kemewahannya benar-benar terpancar dari setiap ruangan yang dibangun, pohon-pohon yang ditanam dengan indah dan taman sekolah yang benar-benar membuat hati nyaman.

Han Yara tersenyum seraya merangkul Kim Hyunji “Omo, ini indah sekali Hyunji-ah, akhirnya kita bisa bersekolah disini..”Han yara memandang  sekolah mewah ini. Bagaimana bagian dalamnya dan fasilitasnya nanti? Lebih mewah dan bagus dari ini kan?

“Ne, Appa dan Eomma kita memang pejuang yang keras Yara-ah, dan bersyukur tahun ini sekolah idaman kita tidak hanya mencari siswa karena alasan harta yang berlimpah saja. Omo~ aku sangat senang Yara-ah..”Mereka berdua masih tetap berjalan dan saling berangkulan, menimbulkan tatapan aneh dari orang-orang –senior disekolah ini—kepada mereka. Ah. Biarlah.

“Pasti, aku akan membuktikan kepada Appa dan Eomma bahwa aku bisa, bahwa kita bisa Yara-ah. Kau yakin kan?..”Perasaan senang dan bahagia masih menguasai kedua hati sahabat itu, senyuman manis pun terus terkembang dari mereka berdua.

Yara menoleh kekanan –Kearah Hyunji—lalu mengangguk “Ne – AAAAAA~…”Tiba-tiba Han Yara beteriak keras, membuat Kim Hyunji ikut menoleh kearah sebelah kanannya dimana ada sebuah mobil mewah berwarna hitam berkilau dan mengkilat yang  melaju dengan sangat cepat dan hampir ingin menabrak mereka. Terasa oleh Yara bahwa mobil mewah itu direm sangat mendadak dari bunyi remnya yang berdecit, membuat perutnya berputar dan giginya ngilu.

Nafas mereka tak beraturan.

“Hyunji-ah..”Lirih Yara, begitu menyadari jarak Hyunji dan mobil itu sangat –amatlah dekat. Kim Hyunji hanya terbengong sambil merapalkan doa dalam hati, berharap dia baik – baik saja dan memang baik-baik saja. Murid-murid yang tengah berlalu lalang kini fokus memperhatikan Yara dan Hyunji serta mobil mewah yang hampir menewaskan mereka –mungkin? Ada yang berteriak histeris dan ada yang terbengong karenanya.

Yara mengerutkan kening, dia menatap sekeliling merasa bahwa daerah ini sama sekali bukan untuk lapangan parkir sekolah, bukan disini lebih tepatnya.

“Hyunji-ah, kau baik-baik saja kan?..”Tanya Yara kepada Hyunji yang hanya mengangguk pelan. Hyunji menggeleng, masih tak percaya dan kakinya mendadak lemas bahkan plat mobil mewah itupun terasa menempel dikakinya yang dibalut dengan kaus kaki putih panjang.

Tin..Tin..Tin..

Bukannya pemilik mobil itu keluar dan meminta maaf, malah membunyikan klakson hingga membuat Hyunji tersadar dari lamunannya. Hyunji menatap Yara, tatapannya mengisyaratkan bahwa mereka harus cepat pergi dari sini. Namun tidak dengan Yara, dia melepaskan genggamannya ditangan Hyunji dan berjalan menuju pintu mobil mewah tersebut. Murid-murid semakin ramai berkumpul, entah ada apa.

“Hyak! Babo! Keluar kau!..”teriak Han Yara. Ini tentang keselamatan sahabatnya. Ia mengetuk kaca jendela mobil mewah itu dengan tangannya, kuat dan keras dengan segala emosi yang terkumpul disana. Bagaimana tadi jika Hyunji tertabrak? Ini bukan kawasan parkirkan?

Semua murid semakin ramai berkumpul dan menyaksikan Yara yang mungkin bagi mereka tontonan berharga.

“Yara-ah, ayolah. Kita pergi dari sini..”Hyunji berjalan kearah Yara meskipun kakinya masih terasa bergetar. Han Yara menggeleng, tidak menggubris Kim Hyunji yang menatapnya dengan khawatir.

“Hey. Apa kau seorang namja hah? Keluar kau, Namja babo!..”Maki Yara, dengan panas yang membara. Baginya ini tidak adil, disaat tak ada satupun mobil yang melewati kawasan ini malah ada satu mobil sialan yang hampir menabraknya  melewati kawasan ini. Aish~

Kedua tangan Yara terkepal begitu melihat mobil itu bergerak dan bermaksud meninggalkan Yara dan Hyunji begitupun murid-murid yang menyaksikan tontonan  seru –menurut mereka—itu.

“Aishh~..”Han Yara menggerutu, mengejar mobil sialan yang membuat marahnya naik.

Kim Hyunji mendesah, khawatir. Ia tahu Han Yara orang yang sangat keras, mudah marah dan sangat sulit menerima hal yang membuatnya sakit berkepanjangan, egois.

“yara-ah~..”Panggil Hyunji, menggigit bibir bawahnya karena lari Han Yara semakin laju bersamaan dengan mobil yang terus meninggalkannya.

Han Yara memperlaju larinya “Kau tahu? Lariku sangat cepat hah?!..”Ucap Yara disela-sela larinya dan nafas yang tak beraturan. Perlahan mobil itu melambat dan menghentikan lajunya ketika Han Yara sudah berada didepannya dengan merentangkan kedua tangan, menantang.

Mobil itu tak bergerak. Aish~entah namja babo mana yang ada didalam mobil sialan itu,umpat Yara.

“keluar kau..”Yara masih terbawa rasa emosinya yang meluap, ia benci orang yang tidak pandai meminta maaf. Murid-murid kini mengikuti Yara, berdiri berjejer disamping mobil  sialan itu namun masih member jarak yang luas. Kim Hyunji setengah berlari kearah Han Yara, menggeleng dengan khawatir. Aigo~ kenapa Han Yara harus seperti ini?

“Keluar kau!..”Han Yara masih berteriak sambil memukul kaca jendela mobil ini. “Keluar kau namja babo..Aish~ Hyunji-ah, kenapa kau menahanku hah? Mereka hampir menabrakmu, kau tau? Bagaimana jika itu terjadi?! Tidak ada lagi masa depan untuk kau dan aku, kita harus berdua selamanya.. Kita harus..”

Ucapan panjang lebar Han Yara terhenti, bersamaan dengan pintu mobil mewah –sialan—yang terbuka, Yara mundur beberapa langkah begitupun Hyunji  yang wajahnya masih sarat akan kekhawatiran. Limosin mewah itu mengeluarkan enam namja berpostur tegap dari salah satu sisi pintunya, enam namja dalam balutan seragam yang sama dengan Hyunji dan Yara.

Mata Hyunji membelalak tak percaya begitu melihat sosok mereka, apalagi orang yang terakhir keluar diantara mereka berenam, seorang namja yang menggunakan kacamata hitam dan berdiri paling tengah dan depan diantara mereka.

Semua murid tiba-tiba berteriak histeris dan serempak, menjeritkan kata –kata yang bermakna sama “wow..”

Hyunji semakin memegang lengan Yara dengan sangat kuat dan erat juga  ekspresi takut diwajahnya, namun Han Yara tetap kokoh, berdiri dengan jarak yang dekat dengan keenam namja itu.

“Yara-ah, paboya! Ayo kita pergi, mereka pasti orang-orang kaya itu.. aku dan pastinya kau tak ingin mendapatkan masalahkan?..”Bisik Hyunji didekat telinga Yara yang tetap diam, tak bergerak.

“Mereka harus meminta maaf Hyunji-ah, mereka hampir menabarkmu dan sama sekali tak meminta maaf!”Lantang terdengar suara Han Yara, kini didepannya tepat berada seorang namja yang ia anggap sok karena berdiri paling tengah dan paling terakhir keluar dari limosin mewah sialan itu.

Han Yara mendongak karena namja itu lebih tinggi darinya, tatapan matanya menantang meskipun sekali sekali ia mengerjapkan mata dan jantungnya berdegup keras.

“Apa masalahmu?..”Suara namja itu terdengar pelan namun mampu ditangkap oleh yara dan Hyunji yang kini merasakan kakinya semakin gemetar, suara yang sinis meskipun ia tak tau apa tatapan namja itu sinis juga karena tertutup oleh kacamata hitamnya. Enam namja itu berkacamata hitam.

“Kau hampir menabrak temanku, kau tau? Mobil sialanmu itu! Disini sama sekali tidak ada kawasan parkir lalu kenapa mobilmu itu bisa melintas disini hah?! Apa kau mau pamer, hah? Namja babo!!”Umpat Yara kepada namja itu, yang mendenguskan nafasnya dengan sangat sombong. Cihh!

“lalu, apa yang kau inginkan ?..”Namja itu membuka kacamatanya, membuar darah Yara berdesir karenanya begitupun degupan jantung yang sangat tak beraturan. Yara mengatur diri, membelalakkan mata dan mendenguskan nafas dengan penuh kemarahan meskipun sekarang ia mulai luluh.

“Yara-ah..”Bisik Hyunji bergetar “Ayolah, kita jangan cari masalah. Semua orang melihat..”

“Cihh!..”Yara memalingkan wajah dengan tak acuh lalu beberapa detik kembali menatap keenam namja itu yang sudah membuka kacamata hitam mereka. Yara mengerutkan kening, menganggap remeh dan memperhatikan mereka satu-satu. Tatapan mereka, sangat amat sinis dan tajam  kecuali dua orang diantara mereka, berwajah manis dan sangat tulus. Entah ini hanya fikiran dia saja mereka berenam sangat sinis?

“Kau harus meminta maaf pada temanku, pada kami! Seenak kau saja!!..”Tantang Yara, Namja itu menoleh kepada lima temannya yang berada dibelakangnya.

“Apa salah mobil ku melintas disini? Apa salah kalau aku tak ingin meminta maaf? Apa salah, Yeoja babo?!”Namja itu menekankan nada bicara diakhir kalimatnya, membiarkan rasa amarah Yara semakin naik pada puncaknya.

“Cih..’Dengus Yara “Sangat tak sopan! Kau harus meminta maaf pada temanku, namja babo!!..”Yara membalas dengan hal yang sama, menekankan nada bicara diakhir kalimatnya “Dasar kau tak sopan!!..”

“yara-ah..”

“Hyak Hyunji-ah..!”Yara menoleh kearah Hyunji dan meraih bahunya “Mereka harus meminta maaf, mereka hampir membuatmu kehilangan impian jika kau tertabrak, kau tahu itu? Mereka bersalah, mereka orang yang tak punya sopan santun, tak beradab dan sangat sombong. Kau lihat gaya mereka? Sombong dan tak punya hati! Kau tahukan kita sangat anti dengan orang seperti itu? Yang hanya bisa menghancurkan mimpi orang dibawahnya? Kau tahu..”

“Apa maksudmu berbicara seperti itu hah?..”

Yara tersentak ketika merasakan sebuah tangan yang tegas dan besar meregap kedua bahunya, mencengkramnya dengan sangat kuat. Jarak mereka berdua kini sangat dekat,Yara dengan posisi tertekan dan namja itu yang menatapnya dengan sorot tak terima. Yara menutup mata, bahkan ia bisa melihat kepulan asap karena hawa dingin di Seoul saat ini.

“Apa kau bisa menjaga ucapanmu itu? Yeoja babo?!..”Nadanya tajam dan menusuk.

“Dan apa kau bisa menjaga kelakukanmu yang sombong itu, hah?..”balas Yara.

“Kau..”Geram Si Namja “bagaimana kau bisa mengatakan bahwa aku seperti itu, hah?..”

“Mianhae..Mianhae.. Kami sama sekali tidak bermaksud..”Hyunji mendekat, meraih bahu Yara dan mencoba melepaskan genggaman kuat dan menyisakan nyeri dari tangan namja itu.

Hyunji menatapnya dalam “Mianhae..Aku tak apa-apa, Mianhae.. Maafkan temanku ini..”Hyunji berkali-kali membungkuk dan meminta maaf kepada si Namja yang mulai melepaskan cengkramannya dari bahu Yara.

Yara menatap Hyunji dengan tatapan membelalak “Hyak! Sudah kubilang kita tidak perlu meminta maaf jika kita tidak salah pada seseorang Hyunji-ah..”Ucap Yara tegas.

“Yara-ah, sudahlah..”Hyunji berniat menarik lengan Yara, namun Yara malah menarik lengan si Namja yang ingin masuk kedalam mobil sialan itu dan meninggalkan mereka.

“Dasar tak punya sopan santun!..”Yara mendorong bahu si Namja, menghasilkan teriakan berkata-kata sama dari para murid yang berada disekitar sini. Hyunji menggigit bibir, menahan rasa takut.

Serempak lima namja lainnya menoleh dan berdiri didekat si Namja yang kini kembali mencengkram bahu Yara, lebih kuat.

“Kau!!..”Geramnya.

“Mwo?!..”Tanya Yara, tak takut sedikitpun.

“yara-ah, ini bukan masalah besar sudahlah..”Hyunji  mendekat namun ia merasa takut dengan semua namja itu meskipun Hyunji yakin tidak semua diantara merek bersikap jahat dan sinis seperti satu namja yang kini saling bercengkraman dengan Yara.

“Junho-ya, sudahlah.. ini bukan masalah. Sudahlah..Ini memalukan!..”Salah satu diantara mereka mendekat kearah namja yang disebut Junho itu, tatapannya lembut dan sangat menggetarkan hati.. Itulah yang Hyunji rasakan begitu melihat namja yang kini memegang bahu si Junho.

Dan namja yang mempunyai tatapan tulus itu menatap Hyunji dan Yara bergantian. Tatapan bersahabat.

“Mereka hanya orang yang mencari sensasi saja, benar apa yang dikatakan Wooyoung, Junho-ah.. Sudah, sebaiknya kita pergi. Kau tak baik berlama-lama diluar..”Seorang dari mereka kini maju dan ikut memegang bahu Junho yang perlahan tangannya melepaskan cengkraman dibahu Yara.

Hyunji dan Yara memasang pendengaran mereka tajam-tajam. Mwo? Siapa? Wooyoung?

Yara membuang lamunannya dan kembali menatap si Namja—namanya Junho dengan tatapan marah dan menantang

“Apa?!..”

“Yara-ah, sudahlah. Kau ini..”Hyunji kehabisan bagaimana caranya meredam amarah Yara, entah apa yang membuat sahabat baiknya ini begitu marah.

Yara tak menggubris, kini tangan namja itu terlepas seutuhnya dari bahu mungilnya. Yara menepuk-nepuk bahunya dan berkacak pinggang sambil menatap Junho.

“kau..”Suara si Junho itu terdengar sangat pelan, bersamaan denga Hyunji yang menarik tangan yara dan bermaksud ingin melangkah.

“Oh My God, Junho-ya..”

Yara dan Hyunji membalikkan badan ketika mendengar teriakan dari salah seorang diantara mereka, begitupun murid-murid disini yang menjerit histeris.

Yara terbengong. Namja sialan bernama Junho itu terhuyung jatuh dan dengan sigap ditangkap oleh namja yang ia dengar bernama Wooyoung.

“Oh My God, what happen?..”Mereka berenam panic, Namja yang menggunakan bahasa inggris dan berwajah imut itu membopong Junho begitupun dengan namja yang lainnya.

Yara dan Hyunji bertatapan, sama-sama menggigit bibir.

Yara mendekat beberapa langkah. “Wa..Waeyo?..’lirihnya, gemetar. Mata Junho tertutup seutuhnya, bibirnya membiru dan bergetar pelan.

“Sudah, kau tak perlu tau..”balas seseorang diantara mereka, yang masuk dan duduk dikursi kemudi.

“Anni, tak ada apa-apa. Mianhae atas sikapnya tadi.. Mianhae karena hampir menabrak temanmu..”Yara dan Hyunji bersamaan menatap namja bernama Wooyoung yang kini menatap mereka dengan tulus.

“Jinjjayo?..”Suara Hyunji bergetar “Seharusnya kami yang meminta maaf kami…”

“Wooyoung-ssi, kajja!..”

Namja itu menoleh kebelakang sejenak lalu kembali menatap mereka berdua.

“Mian.. Annyeong.. Wooyoung Imnida, mungkin kita bisa bertemu nanti lagi..”Wooyoung tersenyum menyentuh pundak Hyunji yang berada didekatnya  lalu melangkah cepat  menuju mobil mewah yang mengkilat serta kesan mewah benar-benar terdapat disana.

Hyunji tersenyum perlahan. Tidak dengan Yara yang menatap mobil itu dengan tatapan cemas.

Ada apa dengan namja itu? Hyak! Kau bodoh Yara-ah, kenapa mengkhawatirkannya~ batin Yara.

“Hyunji, Kajja! Kita sudah cukup lama menjadi tontonan, Kajja..”Yara membuang jauh fikirannya, rasa khawatir terhadap namja babo itu. Ia melangkah, menggandeng tangan Hyunji yang terus tersenyum tanpa henti.

“Bukannya sedari tadi aku mengajakmu pergi? Aishh~ Han Yara..” Gerutu Hyunji, berjalan disamping Yara dengan mengerucutkan bibirnya. Yang digerutui malah terus berjalan tanpa merasa bersalah sedikitpun.

Kim Hyunji mendesah, pelan.

“Wooyoung..”Gumamnya, lalu tersenyum malu.

+++

Disebuah ruangan khusus dan  mewah, yang hanya disediakan untuk keenam namja itu. Namja kaya raya dimana salah satu dari Ayah mereka adalah pemilik sekolah ini, dan enam namja yang lainnya merupakan teman dekat namja itu begitu juga Appa mereka yang bersahabat.Namja yang sangat kaya raya.

Seorang namja berpakaian putih dan membawa tas berisi peralatan kedokteran itu bangkit dari duduknya disebelah namja yang kini terbaring tak –masih belum—sadarkan diri.

Salah satu dari mereka –Ok Taecyeon – yang semula menatap kearah jendela yang memaparkan pemandangan sekolah ini bangkit dan mendekat, begitupun satu orang lagi – Nickhun Horvejkul – diantara mereka.

“Dia masih baik-baik saja, tak masalah sama sekali. Dia hanya tak boleh berlama-lama diluar hawa yang dingin, itu bisa membahayakan..”Jelas seorang Dokter khusus yang berdiri diantara Hwang Chansung dan Nickhun Horvejkul.

“Ne, baiklah..”Ucap Taecyeon “Gomawo..”Ia menyentuh pundak dokter itu bersamaan dengan Nickhun yang memberikan seulas senyum padanya lalu melangkah pergi.

Salah satu diantara mereka yang sedari tadi sibuk mendengarkan music dengan menggunakan earphone melepas earphonenya lalu bangkit berdiri, Kim Junsu.

“hyak. Junho-ya..”Dia – Kim Junsu —  duduk disamping Junho yang wajahnya masih sedikit pucat, menepuk kedua pipinya begitu ia dapati mata Junho yang perlahan  mulai terbuka.

Namja itu. Namja yang paling berkuasa diantara mereka. Lee Junho.

“Junho-ya, apa yang terjadi hah?…”salah seorang dari mereka (lagi) mendekat, Hwang Chansung. Duduk tepat disamping Junho yang kini mulai bangkit untuk duduk dibantu dengan Kim Junsu. Dia menyentuh pipi Lee Junho dan Kim Junsu memegangi tangannya dengan erat.

“Aishh~ apa yang kau lakukan, Chansung-ssi? “Junho menggerakkan kepalanya, mengawaskan tangan Chansung yang selama beberapa detik merengkuh pipinya. Menjijikkan.

Mata Lee Junho ia kerjapkan beberapa kali, mengatur penglihatannya dengan sinar yang terang ini.

“hyak! Junsu-ssi, lepaskan tanganmu itu..”Junho berteriak, menghentakkan tangannya hingga tangan Junsu terlepas. Dilihatnya Chansung dan Junsu bertatapan sambil menahan senyum.

“Kami mengkhawatirkanmu, Junho-ya~..”Ucap Chansung dan Junsu serempak, dengan wajah imut yang sangat dibuat-buat.

“Aishh~ Sudahlah..”

“Hyak.Junho-ya apa benar kau baik-baik saja?..”Tanya Hwang Chansung, kini pertanyaan itu serius.

“Ne.. Tadi aku hanya pusing saja..”Jelas Junho, pelan terdengar suaranya. Dia menatap Junsu yang kini mengerutkan kening saat menatapnya.

“mwo? Kau bilang hanya pusing sedikit lalu sampai pingsan selama satu jam? Apa itu hanya pusing sedikit?..”Hwang Chansung bertanya dengan nada khawatir tapi sedikit marah, Junho yang merasa resah ditanya-tanyaipun menunduk sembari memegangi kening.

“Sudahlah, aku baik-baik saja..”Ia menegaskan diri, bangkit berdiri dan mengambil jas seragamnya bagian luar lalu memakainya. Ditatapnya salah seorang diantara mereka yang duduk menyendiri sembari melamun,Jang Wooyoung.

“Junho-ya..”terdengar sebuah seruan yang memanggilkan namanya. Junho menoleh, kepada Nickhun yang rupanya menyerukan namanya.

“Ne, Khunnie?..”Ia menaikkan sebelah alis. Nickhun dan Taecyeon saling bertatap pandang untuk sejenak lalu kembali menatap Junho.

“Tentang Yeoja yang tadi..”Jelas Nickhun, masih tergantung. Junho mengusap dagunya, berfikir lalu matanya membulat.

“Oh, yeoja babo itu..”Jawab Junho dengan datar “ahh ne, yeoja babo bermulut besar itu..”Junho meremas remas jemarinya dengan santai, mengingat kejadian sekitar satu setengah jam yang lalu.

Hwang Chansung dan Kim Junsu berdiri bersamaan, mereka memang teman yang paling dekat dengan Junho dan salah satunya lagi Wooyoung, memang mereka berenam sangat dekat tapi hanya empat orang itulah yang terkadang bisa mengerti apa yang Junho rasakan.

“hyak.Junho-ya, sudahlah jangan memikirkan yeoja itu. Kau masih pusing kan? Aigo~ seharusnya kau beristirahat..”Mata Junho membelalak, mendengar suara Chansung yang sangat dibuat-buat dan kini namja manis itu malah berdiri dihadapannya sambil merengkuh kedua pipi Junho.

Kim Junsu yang ada dibelakangnya tertawa, Nickhun dan Taecyeon pun merespon dengan hal yang sama sembari geleng-geleng kepala. Tapi tidak dengannya.Jang Wooyoung

“Aishh~ Chansung-ssi, apa-apaan kau hah?..”Junho menyentakkan tangan Chansung dengan kasar. Chansung menahan tawanya, melihat ekpresi wajah Junho yang sedikit tak terima namun malu juga tertahan disana.

“hyak. Bukankah itu yang Eomma-mu sering katakan, kan?..”Sebelah alis Chansung terangkat, masih ingin mengusik Junho yang sebenarnya masih merasakan denyutan dikepalanya.

“Junho-ya, sudahlah jangan berfikir terlalu keras. Kau bisa sakit lagi chagi~ sudahlah, kau harus beristirahat biar eomma menemanimu dikamar. Arraseo, chagiya?..”Chansung berlagak menirukan suara seorang perempuan, berlagak menjadi eomma dari Junho.

“Ishh, sudahlah!..”Junho dibuat kesal oleh candaan tak penting mereka, dia berjalan kini mendekati jendela dimana Wooyoung duduk didekat kursi disebelahnya.

“Ne, kedua yeoja itu..”Ucap Junho, mampu ditangkap oleh kelima temannya yang ada diruangan khusus ini.

“Apa yang akan kau lakukan, Junho-ya? Membalasnya. Hissh, itu perbuatan yang sangat konyol..”Ungkap Junsu kepada Junho.

Junho tersenyum sinis –meskipun tak ada yang melohat senyuman itu—dan menggeleng dengan pelan “Anni, aku tak akan membalasnya. Tapi ada satu hal yang harus kulakukan..”

Junho berbalik, untuk beberapa detik dia menatap Wooyoung yang masih melamun entah memikirkan apa. Ia pun memilih duduk disebelah Wooyoung.Ada yang aneh, tatapan Wooyoung sangat aneh.

“Wooyoung-ssi, bagaimana? Dengan kedua yeoja babo itu?..”Junho meminta pendapat, kepada Wooyoung yang dari semuanya ini sangat –amat dekat dengan Junho.

Wajah Wooyoung masih datar namun dia mengusahakan tersenyum pada Junho “aku tak ingin ikut campur atas apa yang akan kau lakukan nanti, Junho-ya..Kita biarkan saja mereka”

“Aishh, membiarkan mereka? Hyak, wooyoungie, mereka telah mengatai-ngatai kita apalgi Yeoja yang merebangkan rambutnya tadi. Cihh, aku merasa terhina atas ucapannya tadi..”Kata Junsu dengan nada mengomel.

Kedua alis Junho bertaut “Mwo? Mereka keterlaluan Uyoungie..”

Terdengar Wooyoung yang mendesah pelan, ia bangkit berdiri merapi-rapikan seragamnya sejenak lalu menerawang kearah luar jendela “Kita yang keterlaluan, seharusnya kau harus bisa meminta maaf karena ini salah kita..Bukan salah kedua Yeoja  itu.. Mungkin memang pantas mereka mengatai kita seperti tadi kan?..”

Belum sempat ada yang menjawab Wooyoung melangkah keluar tanpa menggubris sahutan dari kelima temannya.

Junho menatap punggung Wooyoung yang semakin lama semakin menjauh hingga hilang dibalik pintu.

“Ishh.Ada apa dengannya itu, hah?..”Gerutu Junho, memukuli sofa dengan kepalan tangannya kuat.

“Dia sedikit aneh..”Nickhun menimpali, disambut dengan anggukan kepala oleh yang lainnya.

Sementara Junho masih sibuk memikirkan apa yang harus dia lakukan. Junho merenung, pandangannya menerawang jauh dengan senyuman sinis yang terpancar disana.

“Yeoja babo..”Lirihnya,sambil menganggukkan kepala dengan pelan namun pasti.

TBC

Sebelumnya MIAN kalau gaje. Kalau jelek, kalau acakadut. Pokoknya saya minta Maaf kalau misalnya kalian kurang suka sama FF ini. Saya minta kritik dan sarannya ya chingudeul semua. Yang baca harapRCL jangan jadi Silent reader, oke? Apakah ada yang penassaran sm FF abal ini? Ihihi –autumn

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s