IT HAS TO BE YOU #Sekuel

Standar

Saat membaca FF kacangan ini, sangat disarankan sambil mendengarkan lagunya Yesung–It Has to be You.

*

Sebelumnya :

Jika kalian ingin tau siapa Yesung oppa, dan apa arti dirinya untukku, baik akan ku beritau.

Yesung oppa, aku sangat menyayanginya. Aku mencintainya, seperti cinta seorang yeoja kepada namjachingunya.

Meski sekat hitam yang kasat mata jelas menghalangi kami untuk bersama.

Ya, aku dan ia, tak akan pernah bisa bersama. Tidak akan pernah.

*

CUP

Sebuah kecupan lembut menyentuh pipi kananku.

Saranghae, oppa…”

Nado saranghae..”

Kenapa yeoja satu itu selalu bisa membuatku panas-dingin seperti ini..

*

Bukankah cinta itu anugrah ?

Lantas mengapa rasanya harus sesakit ini ?

Saat seluruh dunia menentang cintamu untuknya, akankah kau sanggup bertahan dengan cinta yang terluka ?

Kalian harus segera mengakhiri hubungan ini..”

Appa, aku mencintai Yesung oppa. Aku….mencintainya…appa..”

Anni. Ini salah Hyori-ah !”

Waeyo ? apakah ada yang salah dari dua orang yang saling mencintai ?”

*

Besok lusa Jongwoon akan pergi ke Paris. Akan ku pesankan tiket dengan penerbangan tercepat.”

*

“Berhentilah.. berhenti mencintaiku..”

“Oppa menyuruhku melakukan hal itu, apakah oppa sendiri bisa melakukan hal yang sama ? apakah oppa bisa.. bisa berhenti mencintaiku ?”

“Bisa… Aku bisa berhenti mencintaimu.”

*

IT HAS TO BE YOU –SEKUEL-

Dedicated to all readers who are read this story, thank you 🙂

By : author Rainbow

Saat tak lagi ada jalan yang bisa dilewati

Hanya cinta yang akan membawamu pulang kembali..

Paris,

23.07

Author POV

Seorang namja yang sedang memegang ponsel itu berdiri menghadap kaca yang menjadi jendela di apartemennya yang bisa dikatakan lumayan mewah ini. Pemandangan di depan matanya lebih dari indah untuk dijelaskan. Paris, dengan kerlap-kerlip lampunya berpendar menakjubkan. Namun, fokus pandangan namja itu menerawang jauh ke seberang. Tak terasa sudah hampir dua tahun ia menempati ruangan yang terletak di lantai 17 gedung ini. Tetapi selama dua tahun itu pula, rasa itu masih ada. Rasanya untuk seorang yeoja yang tak akan bisa hilang dan dihilangkan. Untuknya, yang sangat ia rindukan.

“Benarkah seperti itu hasilnya, Jongwoon-ah?”

“Ne, appa…” desah namja itu, lelah.

Kemudian hening lagi. Ia tau, saat ini appanya pasti kalut dengan kabar yang baru saja ia sampaikan. Nada suara Tuan Kim pun terdengar lemah, mungkin shock. Sama seperti apa yang ia rasakan saat pertama kali mengetahui semua ini.

“Lalu, sekarang aku harus bagaimana appa?” tanya Yesung, saat ia rasa hening terlalu lama menguasai keadaan. Diseberang, ia mendengar appanya mendesah.

“Kembalilah ke Seoul.. pulanglah Jongwoon-ah..”

Deg. Seketika tubuh Yesung seperti tersengat aliran listrik. Jantungnya berdebar keras. Pulang ke Seoul? Itu adalah salah satu hal yang paling ia impi-impikan selama dua tahun ini. Tapi ia tidak bisa, walau sangat ingin. Ia teringat semua kenangan buruk yang mengharuskannya pergi dari Seoul dan juga yeoja itu. Ia takut, kehadirannya hanya akan menggores lagi hati yeoja itu. Dan itu bukanlah hal yang ia ingin lakukan.

Pun dengan hubungannya dengan Tuan Kim telah membaik seiring berjalannya waktu. Tuan Kim sering menelpon untuk sekedar menanyakan kabarnya disela-sela waktu luang, dan begitu sebaliknya.

Dan Tuan Kim pula yang memberitaunya tentang perkembangan Hyori di Seoul. Termasuk tentang perjodohan yang dilakukan appanya. Menjodohkan Hyori pada seorang namja pilihan, anak dari seorang rekan koleganya. Gadis itu sudah bahagia sekarang. Akankah ia dapat kembali? Bagaimana jika ia kembali nanti, kebahagiaan Hyori akan terusik karena kehadirannya? Tidak, itu tidak boleh terjadi.

“Jongwoon-ah?” suara Tuan Kim membuyarkan lamunannya.

“Tapi.. tidak appa, aku tak bisa kemb-“

“Kembalilah, Jongwoon-ah. Lupakan semua pahit yang kau kecap dulu. Appa merindukanmu, semua merindukanmu… termasuk Hyori. Dia, pasti sangat merindukanmu. Pulanglah..”

XXXXX

Hyori POV

Sepertinya sudah sangat lama aku memandang layar komputerku dan telah beribu kali membaca ulang kalimat yang tampil di layar itu. Sangat tidak percaya pada sebuah email yang masuk pagi tadi ke kotak masukku. Aku terus menatap layar komputer, tapi deretan kalimat itu tak berubah. Ini artinya, aku tidak sedang berhalusinasi kan?

From : Jongwoon oppa

Annyeong, Hyori-ah..

Apa kau merindukanku? Ah, itu sudah pasti kan? Aku sadar, aku memang orang yang gampang untuk dirindukan.

Dan untuk itulah, aku akan kembali ke Seoul. Ku harap kau ada di rumah saat aku datang nanti 🙂

Ada sesuatu yang membuncah didadaku. Jantungku rasanya ingin melompat dari dalam saat membaca pesan itu. Tentu saja, aku sangat merindukannya. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk melupakannya, juga bukan waktu yang lama untuk berhenti mencintainya. Ya, aku. Masih. Sangat mencintainya.

Ku hapus setetes air yang tanpa sadar mengalir di pipiku. Aish, aku masih saja seperti ini saat memikirkannya.

Ku alihkan pandanganku dari layar computer, saat tanpa sengaja pandanganku tertumbuk pada sebuah figura kecil di atas meja yang sama. Fotoku, dan seorang namja. Bukan, namja di foto itu bukan Yesung oppa. Tetapi seorang namja yang dikenalkan appa saat aku ikut menghadiri sebuah acara yang diadakan oleh seorang koleganya, setahun yang lalu.

Namja itulah yang mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Yesung oppa. Namja yang terlalu baik hati, yang selalu ada saat ku butuhkan. Yang selalu bersedia meminjamkan pundaknya saat aku menangis karena merindukan seseorang yang bahkan bukan dirinya. Yang tetap mencintaiku walau aku berkata bukan dialah yang kucintai. bukan dia, tapi Yesung oppa.

Tanganku terulur membelai potret wajah tampan itu. Aku mendesah pelan. Akankah ia akan tetap disisiku saat yesung oppa sudah kembali?

Lee Donghae, namja itu terlalu baik hati..

XXXXX

Seoul, South Korea

Incheon Airport

Akhirnya, setelah sekian lama, aku kembali melihat wajahnya. Tubuh namja itu tetap tegap seperti terakhir kali aku melihatnya. Detik-detik ini terasa berjalan sangat lambat. Aku melihatnya, terus menatapnya yang sedang berjalan perlahan ke arahku dengan senyum yang tak pernah alpa datang kealam mimpiku setiap malam. Hiruk pikuk dan orang-orang yang berlalu lalang di salah satu bandara termewah di dunia ini, terasa seperti sebuah film yang diputar cepat. Rasanya dunia disekitar berputar cepat, tapi aku dan namja itu tetap pada apa yang seharusnya terjadi.

Aku memasang senyum termanis yang ku punya. Untuknya yang sangat ku rindukan.

Hingga akhirnya jarak telah memendek di antara kami. Ia berdiri tepat dihadapanku. Saling menatap seperti ini adalah hal yang paling ku rindukan darinya. Mata namja ini terlalu menarik untuk tidak dipandangi. Ada sesuatu yang kulihat disana. Kesedihankah itu? Atau rindu? Wajahnya kusadari terlihat lebih kurus dari yang terakhir kali ku ingat. Ada apa denganmu oppa? Apa kau tidak bahagia, bertemu denganku?

semua pikiran berkelebat menyesaki otakku, hingga aku lupa kata-kata apa yang harus kukatakan padanya, padahal berjam-jam sebelumnya aku sibuk merangkai kata didepan cermin kamarku. Tanganku gemetar meremas rok, masih memandang mata indahnya. Ya Tuhan.. Aku terlalu merindukannya.

Setetes air mata jatuh dari kelopak mataku. Dan di detik berikutnya, aku telah berada dalam dekapannya.

“Kau masih saja suka menangis, hm?” ujarnya.

Ia memelukku dengan tegas, seolah tak ingin melepasnya. membuat indra penciumanku kembali menghirup aroma tubuhnya. Membuat wajahku terbenam di dada bidangnya. Sama seperti apa yang ia lakukan dulu saat aku sedang menangis. Dan kini ia tetap melakukannya. Namja ini masih sama, tidak ada yang berubah darinya.

Telingaku rasanya mendadak tuli pada hiruk-pikuk bandara tersibuk ini. Yang terdengar hanya suara lembut Yesung oppa yang ia bisikan di telingaku.

“Aku merindukanmu, Hyori-ah.”

Dadaku bergemuruh mendengarnya menyebut namaku. Dekapannya semakin erat. Tak ada sepatah katapun yang sanggup kusuarakan. Namun tanganku perlahan kulingkarkan di pinggangnya, tak kalah erat dengan yang ia lakukan. Dan kurasa, pelukan ini sudah cukup mewakili bahwa aku pun merindukannya. Terlalu merindukannya.

XXXXX

Yesung POV

Sudah beberapa menit yang lalu aku berada di ruangan ini, yang tak lain adalah kamarku sendiri. Perlahan aku duduk di tepi ranjang dan mengusap selimut tanpa maksud yang jelas. Ternyata kamar ini adalah kamar yang paling nyaman, sekalipun kamarku di apartemen di Paris jauh lebih mewah dari ini.

Ku baringkan punggungku di tempat tidur, dengan kaki yang masih menggantung di tepi ranjang. Mataku menatap langit-langit kamar. Benar-benar nyaman berada di rumah sendiri. Mataku terpejam perlahan. Dan rasa takut itu kembali menghampiriku. Rasa takut pada hal buruk yang telah menghampiri hidupku.

“Oppa..”

Seketika kubuka mataku yang terpejam dan berpaling kearah pintu. Terlihat Hyori sudah menyembulkan setengah badannya di pintu kamarku.

“Oppa, boleh aku masuk?” tanyanya. Aku mendudukkan kembali badanku.

“Kau sudah menyembulkan setengah badanmu di kamarku, dan kau masih meminta ijin untuk masuk?”

Kulihat Hyori mengerucutkan bibirnya padaku, membuatku tak bisa menahan tawa melihatnya. Tapi ia tetap masuk dan duduk tepat disebelahku.

“Menyebalkan. Ternyata Paris bukan tempat yang cocok untuk merubah sikap oppa..”

“Aku memang tidak berubah..” balasku cepat. Sebuah kalimat dengan sejuta makna didalamnya. Entah menyadari kalimat aneh yang kuucapkan, Hyori terdiam menatapku. Aku mencoba menghindar dengan menundukkan kepala.

“Bagaimana kabar appa dan eomma selama aku pergi?”

Kudengar Hyori membuang napas, dan saat kulirik ia sudah mengalihkan pandangannya dariku. “Semuanya baik-baik saja, seperti yang oppa lihat sekarang.” Jawabnya. Aku hanya bergumam.

“Oppa tidak ingin menanyakan kabarku?” tanyanya lucu, dengan mata membulat.

“Apa itu penting, huh?” balasku sambil tersenyum meliriknya.

“Aish, oppa ini!”

“Haha, ara, ara.. bagaimana kabarmu?”

“Menurut oppa?”

“Yak! Kenapa malah bertanya balik padaku?”

“Karena aku merindukan oppa.”

“Mwo??” aku tak habis pikir dengan kalimat yang ia lontarkan.

“Aku merindukan oppa.” Ulangnya, tegas.

“Benarkah?”

“Ne.. karena oppa merindukanku, makanya aku juga ikut merindukan oppa.”

“Memangnya kapan aku bilang merindukanmu?”

“Saat memelukku di bandara tadi, kau mengatakannya..”

“Jinjja?? Aku tidak ingat tuh.”

“Yak! Dasar ahjussi pikun!”

“Mwo?! Coba ulangi?”

“Kim Jongwoon, ahjussi tukang pikun!”

“Aish! Beraninya kau, Hyori-ah!” aku hendak mencubit hidungnya, tapi ia terlalu cepat menghindar dan berlari kearah pintu.

“Jangan marah oppa, akan ku buatkan teh hangat untuk oppa.”

“Tidak usah repot-repot menyogokku dengan segelas teh!” ujarku pura-pura kesal, dan itu malah membuatnya tertawa semakin keras, lalu tubunya hilang dibalik pintu itu.

Aku tersenyum-senyum sendiri. Beradu mulut dengan yeoja itu selalu membuatku merasa lebih baik. Bahkan aku merindukan hal kecil semacam ini darinya. Semua tentangnya memang terlalu menarik untukku.

Aku berdiri dari tempat tidur, berniat menyusulnya ke dapur. Tapi langkahku terhenti saat rasa pening mulai menyerang kepalaku. Aku bahkan masih memegang kenop pintu. Ku geleng-geleng pelan kepalaku, berharap pening ini segera hilang. Namun gagal, kepalaku terasa semakin berat dengan pening yang jauh lebih sakit dari sebelumnya. Hingga akhirnya semua terasa berputar dan gelap.

XXXXX

“Oppa, kau sudah sadar?”

“Jongwoon-ah, bagaimana keadaaanmu? Apa yang sakit?”

“Appa, Yesung oppa sudah sadar, kemarilah”

Suara-suara itulah yang pertama kali kudengar sesaat setelah aku berhasil membuka mata. Disusul kemudian dengan wajah appa, eomma dan Hyori yang merapat di tempat tidurku. Raut cemas jelas terlihat di wajah mereka. Terutama appa.

“Memangnya apa yang terjadi?” tanyaku, bingung.

“Oppa pingsan didepan pintu, oppa tidak ingat?” Hyori menatapku lekat-lekat. Aku hanya menggeleng.

“Demammu sangat tinggi, Jongwoon-ah. Tidakkah kau ingin ke rumah sakit?” kali ini eomma yang bersuara. Reflek, kuraba keningku dan ternyata sebuah kompres telah berada disana.

“Anni, eomma. Sebentar lagi demamku pasti akan turun, aku hanya kelelahan. Lagipula saat dipesawat aku tidak bisa tidur.” Ujarku beralasan. Sempat kulirik appa yang hanya menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Kau sungguh tidak ingin ke rumah sakit oppa?”

“Ne, Hyori-ah. Gwenchanayo..” jawabku, seraya tersenyum menenangkan. Kulihat yeoja itupun membalas senyumku.

“Baiklah, eomma ke dapur dulu. Akan eomma buatkan bubur untukmu.”

“Beristirahatlah oppa, cepat sembuh..” Hyori mengusap pipiku sekilas, sebelum akhirnya ikut eomma pergi ke dapur. Meninggalkan aku dan appa yang kini terdiam dalam waktu yang kaku.

Appa mendekat dan duduk di dekatku. “Kau harus ke rumah sakit, Jongwoon-ah.”

Aku mendesah pelan, tau bahwa bagaimanapun juga appa adalah satu-satunya orang yang tau tentang keadaanku saat ini.

“Appa tenang saja, aku tidak apa-apa.” Sahutku pelan.

“Jangan membuatku merasa bersalah padamu. Appa hanya ingin kau.. tak lagi menyiksa dirimu sendiri.” Ujar appa, terdengar lelah. “Appa sangat merasa bersalah… pernah menyalahkanmu dan mengirimmu ke Paris. Kau pasti.. sangat menderita. Maafkanlah appamu yang tak berguna ini, nak.. jeongmal mianhae..”

“Berhentilah membahas masalalu itu appa. Yang appa lakukan, sudah benar. Tidak usah merasa bersalah padaku appa. Karena bagiku appa adalah appa terbaik yang ku punya.” Aku melempar senyum lembut kearahnya. Berusaha meyakinkannya bahwa aku memang benar-benar tidak pernah membencinya atas perlakuannya dulu. Aku yakin, ini adalah takdir yang telah ditulis Tuhan pada lembar kisah hidupku, yang mau tak mau harus kujalani dengan penuh rasa syukur dan sepenuh hati.

XXXXX

Hyori POV

Dengan seksama ku pandangi layar ponselku tanpa tujuan yang jelas. Aku hanya ingin mengalihkan pandanganku dari dua manik teduh milik seorang namja yang kurasa dapat melihat semua yang tak ingin ku tunjukkan padanya, bahkan hanya lewat pandangan saja.

“Hyori-ah..” entah sudah berapa kali panggilan itu tak bosannya ia lontarkan padaku, yang berpura-pura tak mendengarnya. Aku hanya sedang bingung. Aku dan namja ini sedang berbincang dihalaman belakang rumahku.

“Hyori-ah..” lagi, panggilan itu terdengar. Aku sedikit tersentak saat ada yang menjalar di atas punggung tanganku. Saat kulihat, tangannya telah menggenggam lembut telapakku. “Apa yang sedang kau pikirkan, hm?” tanyanya lembut.

“Anni oppa, tidak ada..” jawabku masih menunduk.

“Apakah kau sedang ada masalah? Ceritakanlah padaku..” ia mencondongkan tubuhnya kearahku.

Aku menggeleng pelan. “Aku baik-baik saja, oppa..”

Kudengar ia menghela napas pelan, lantas jalaran pada telapakku mulai mengendur perlahan. Aku sedikit heran karena ia melepas genggamannya dan menjauhkan tubuhnya yang semula condong kearahku, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

“Ternyata aku memang tak pernah terlihat olehmu ya..” aku mengangkat wajah sedikit dan menatapnya yang kini memandang jauh kedepan. Ia menyunggingkan seulas senyum tipis.

“Bahkan aku tidak sepenting itu untuk berhak tau apa yang sedang mengusik pikiranmu..” sambungnya. Dan kalimat itu lagi-lagi membuatku merasa bersalah pada Lee Donghae, namja tampan dihadapanku ini.

“Bukan seperti itu oppa, aku hanya…” aku bingung harus berkata apa padanya, aku takut dan tak ingin melukai hati namja yang kelewat baik hati ini.

“Hanya tak bisa mencintaiku..” lirihnya. “Kau tau Hyori-ah? Kadang aku merasa bingung, sebenarnya hubungan kita ini apa namanya ya?” sambungnya sambil tertawa sakratis. Semakin membuatku merasa tak enak padanya.

Kau begitu dekat, tapi hatimu tak dapat kuraih sama sekali..” ujarnya lagi.

Aku meremas tanganku sendiri mendengar ucapannya barusan. Ku lirik Donghae oppa, ia menundukkan kepalanya kali ini, entah apa yang sedang ia tatap.

Hyori-ah bodoh! Lihat apa yang telah kau lakukan pada malaikat dihadapanmu ini! Tegakah kau terus melukai perasaannya seperti ini? Hanya demi seseorang yang jelas-jelas tak akan pernah kau miliki, walau seberapa lama pun kau menunggu!

Ya, benar. Selama apapun aku menunggu, tetap saja tidak akan merubah apapun. Mungkin Yesung oppa sudah menyadari hal ini sejak lama, dan sepertinya sekarang adalah giliranku untuk memahami dan menerima bahwa… kami tidak akan pernah bersatu.

Ku hela napasku perlahan. Lantas tanganku terulur menggenggam jemari Donghae oppa. Aku tersenyum saat ia mengalihkan pandangannya dan menatapku. Kulihat ada sebuah kebingungan yang terpancar dimatanya.

Dengan pelan, kukatakan sesuatu yang membuatnya menatapku tak percaya lantas tersenyum kearahku dan balas menggenggam erat jemariku.

“Oppa tau? Sebelumnya hidupku diselimuti kabut, hingga sulit melihat apa yang seharusnya ku lihat. Tapi cinta oppa membuat kabut itu tersapu perlahan. Hingga akhirnya aku bisa melihat oppa… berdiri didepanku dengan cinta yang tak pernah habis oppa berikan. Berhentilah berpikir oppa tidak penting, karena itu salah. Aku hanya melihat oppa sekarang, dan oppa adalah yang terpenting saat ini. Saranghaeyo oppa..”

XXXXX

Yesung POV

“….akhirnya aku bisa melihat oppa… berdiri didepanku dengan cinta yang tak pernah habis oppa berikan. Berhentilah berpikir oppa tidak penting, karena itu salah. Aku hanya melihat oppa sekarang, dan oppa adalah yang terpenting saat ini. Saranghaeyo oppa..”

Saat hendak melangkah ke dapur untuk mengambil segelas air, secara tak sengaja, aku mendengar sekilas kalimat yang baru saja diucapkan Hyori. Entah ada apa denganku hingga rasanya kakiku lemas dan tak sanggup menopang tubuhku. Aku merapat ke dinding dan menyandarkan tubuhku disana. Sekaligus bersembunyi, mungkin.

Ku pegang dadaku, tepat dimana sesuatu itu berdenyut perih. Tuhan.. kenapa rasanya harus sesakit ini? Apakah aku belum bisa merelakannya?

Seharusnya aku sudah siap untuk mengetahui hal-hal semacam ini, bukan? Kenyataan bahwa hati Hyori bukanlah milikku lagi saat ini. Ada yang lebih baik dan lebih pantas untuk bersanding dengannya. Dan orang itu bukanlah aku.

Perlahan kulangkahkan kakiku pergi dari tempat itu, menuju kamar. Tak ingin lebih banyak mencuri dengar percakapan yang hanya akan semakin meremukkan hatiku.

Terimalah kenyataan, Kim Jongwoon! Seruku dalam hati. Ya, aku harus bisa merelakannya.

Bukankah cinta adalah saat kita ikut bahagia melihat orang yang kau cintai bahagia bersama orang lain, sekalipun itu bukan dirimu, kan?

XXXXX

it can’t be if it’s not you

I can’t be with you

it’s okay if I’m hurt for a day and a year like this

it’s fine even if my heart’s hurts

yes because I’m just in love with you

(Kim Jongwoon ~ It Has to be You) English translation

Author POV

Akhirnya setelah cukup bersenang-senang dan mengunjungi banyak tempat menarik. Hyori salah mengira saat Yesung akan membawanya kembali pulang. Mobil namja itu malah berhenti didepan sebuah café dengan interior yang sangat mendukung untuk dijadikan salah satu tempat pilihan untuk berkencan atau sekedar makan malam. Seharian ini Hyori dan Yesung telah menghabiskan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat menarik.

“Oppa, untuk apa kita kesini?”

Namja itu tersenyum misterius. “Kau akan tau sebentar lagi.”

Hyori hanya bisa diam saat Yesung menggandengnya masuk ke dalam café itu. Mereka lantas duduk disebuah meja yang diperuntukkan dua orang.

Yesung memanggil pelayan, yang segera menghampiri sambil membawa buku menu.

“Kau mau pesan apa Hyori-ah?”

Yeoja itu terlihat serius membaca daftar menu. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Yesung untuk memandangi wajah gadis cantik itu. Andai saja waktu bisa berhenti dan hari indah ini tak pernah berakhir. Tapi itu adalah hal yang mustahil. Untuk saat ini saja, ia ingin lebih meneliti tiap inci wajah Hyori, yang mungkin sebentar lagi tak akan pernah ia lihat lagi.

“Oppa..” Yesung tersentak kaget saat telapak Hyori melayang-layang didepan matanya.

“Ah, mian aku melamun. Kau sudah pesan?” tanya Yesung pada Hyori yang memandangnya dengan aneh.

“Sudah. Oppa tidak memesan?” tanya Hyori. Yesung menyerahkan kembali buku menu pada pelayan tanpa memesan, dan pelayan itupun pergi dengan catatan yang dipesan Hyori.

“Aku tidak lapar.” Jawab Yesung sambil tersenyum.

“Tapi oppa bahkan belum makan sejak kita jalan-jalan tadi.” Ujar Hyori. “Oppa, kau sakit? Wajahmu terlihat agak pucat.”

“Anni, aku baik-baik saja.” Sahut Yesung. “Hyori-ah…”

“Waeyo oppa?”

“Apa kau senang hari ini?”

“Ne, aku sangat senang sekali oppa mengajakku jalan-jalan seharian ini.” Yeoja itu tersenyum lebar pada namja dihadapannya ini. “Dan oppa belum mengatakan alasan kenapa hari ini terasa special, hm?”

Yesung tersenyum perlahan. “Tidak ada alasan khusus, hanya ingin menghabiskan hari ini denganmu saja. Apa tidak boleh?”

“Aniya~ tentu saja boleh, oppa sudah membuatku sangat senang, gomawo oppa.”

Yesung tertawa lalu mengacak lembut rambut yeoja itu. “Tunggulah sebentar, aku ke toilet dulu.”

“Ne..”

Hyori memandang punggung namja yang berjalan menjauh itu, entah mengapa sebagian dari dirinya sangat mengkhawatirkan keadaan Yesung. Namja itu terlihat lebih lelah dari biasanya. Padahal, namja itu baik-baik saja bukan?

XXXXX

Yesung POV

SREEEKK

Entah sudah berapa banyak lembar tissue yang kuhabiskan di toilet ini untuk mengelap ujung hidungku. Lantas kulemparkan pada tempat sampah terdekat. Aku memandang bayanganku sendiri dicermin. Terlihat jauh dari kata ‘baik-baik saja’. Tapi mau bagaimana lagi, ini mungkin waktu terakhir yang kupunya untuk melukis senyuman diwajah Hyori. Aku tidak boleh tumbang sekarang. Aku harus bertahan, sebentar saja.

Kulangkahkan kakiku keluar dari dalam toilet ini. Aku berhenti sejenak dan berbalik, menatap tempat sampah yang menampung banyak gumpalan tissue dengan darah disetiap lembarnya.

Tuhan, aku harus bertahan, sebentar lagi saja.

XXXXX

Author POV

Hyori lagi-lagi melirik jam tangannya entah untuk yang keberapa kalinya. Kenapa namja itu lama sekali? Sudah 15 menit sejak ia pergi pamit ke toilet.

Yeoja itu hampir saja berdiri dan menyusul Yesung ke toilet, saat tiba-tiba seseorang yang ia cemaskan itu berdiri di atas panggung kecil, tempat dimana band café ini menghibur pengunjung. Hyori menatap tak percaya.

“Annyeong haseyo..” sapa namja itu, suara ramahnya terdengar diseluruh sudut café melalui speaker. Suasana café mendadak hening. “Malam ini saya, Kim Jongwoon, ingin memberikan sesuatu untuk seorang yeoja yang duduk disana.” Seketika hyori merasa pandangan seluruh mata pengunjung beralih menatapnya.

“Sesuatu yang akan saya berikan ini tidak berbentuk benda. Hanya saja saya ingin ia mengingat hari ini untuk selamanya. Sebuah kenangan, itulah yang ingin saya berikan. Hyori-ah berjanjilah untuk selalu mengingat hari ini dan jangan pernah melupakanku.” Setelah berkata demikian, namja itu menghampiri dan duduk didepan sebuah grand piano. Ia sebenarnya lumayan gugup ditonton oleh banyak orang. Penerangan dalam café mulai meredup perlahan, menjadi remang-remang. Sejenak ia mengambil napas panjang, lalu mulai menarikan jemarinya diatas tuts piano, memulai intro.

even today I wonder in my memory

I’m pasing around on the end of this way

you’re still holding me tightly,

even though I can’t see you any more

Hyori menatap lekat-lekat wajah namja tampan didepan sana. Rambut namja itu berkelip tertimpa lampu panggung yang menyorot diatas kepalanya. Sangat tampan dan berkesan.

I’m losing my way again

I’m praying to the sky

I want see you and hold you more

that I want to see you and hold you more

siapapun yang melihatnya pasti akan menyadari bahwa namja itu benar-benar bernyanyi dari hati. Suara dan penghayatannya saat bernyanyi membuat setiap orang merinding mendengarnya.

it can’t be if it’s not you

I can’t be with you

it’s okay if I’m hurt for a day and a year like this

it’s fine even if my heart’s hurts

yes because I’m just in love with you

tanpa ada yang menyadari, ditengah-tengah lagu, pening menyerang kepala Yesung. Tapi namja itu tetap berusaha menekan rasa sakitnya dan berkonsentrasi melanjutkan permainannya.

my bruised heart

is scream to me to find you

where are you?

can’t you hear my voice?

if I live my life again

if I’m born over and over again

I can’t live without you for a day

you’re the one I will keep

you’re the one I will love

I’m… yes because I’m happy enough if I could be with you

Dipenghujung lagu, Yesung memberikan falset tinggi yang sempurna dan sukses membuat hampir semua pengungjung berdiri, memberikan standing aplauss.

Namja itu tersenyum puas, membungkukkan badannya dan menatap sekeliling café. Lalu fokusnya berhenti pada sosok yeoja yang duduk dalam diam sambil menatapnya penuh haru. Wajah gadis itu sudah basah oleh air mata. Yesung masih bisa melihat Hyori tersenyum kearahnya, sesaat sebelum ia kehilangan kesadaran, semua terasa berputar, memusingkan dan gelap.

BRUUKKK

Tubuh namja itu tumbang seketika, dengan banyak darah mengalir dari hidungnya.

XXXXX

Rumah sakit bukanlah tempat yang Hyori sukai. Bau obat-obatan sangat terasa disini. Tapi sudah hampir dua pekan ia menghabiskan waktunya ditempat ini.

“Kau harus merelakannya, Hyori-ah. sudah 2 minggu Yesung hyung koma seperti ini. Tidakkah kau kasihan padanya yang terlalu lama menanggung rasa sakitnya? Ia menunggumu siap.. relakanlah dia pergi..” kalimat Donghae terus menyesakki pikirannya.

Relakan. Relakan. Relakan, Hyori-ah!! Rutuknya sendiri dalam hati.

Dengan berat, Hyori mengangkat kepalanya dan menatap Yesung yang terbaring dihadapannya. Tak bergerak sama sekali sejak dua minggu yang lalu. Berbagai macam kabel menempel ditubuh itu. Masker oksigen penopang hidupnya itu pun masih terpasang, menutupi hampir separuh wajah tampannya.

“Rasanya… baru kemarin oppa berada disampingku, bermain piano dan menyanyi untukku..”

“Oppa, kau terlihat baik-baik saja selama dihadapanku.” Gumam Hyori lirih. “Kau bahkan tidak menceritakan penyakitmu padaku. Apa aku sudah tidak penting untukmu, huh?” Hyori menunduk saat matanya kembali terasa perih. Ia memejamkan matanya sesaat. Jangan menangis. Jangan menangis, Kim Hyori. Yesung oppa tidak pernah suka melihatmu cengeng begini.

“Apakah kau menganggap kanker otak adalah penyakit sepele seperti flu, begitu? Kenapa oppa tidak berobat saja? Kenapa malah pulang dan diam-diam merasakan sakit itu sendirian?” Hyori menatap wajah Yesung, lalu kembali menunduk.

“Ini sudah dua minggu.. oppa tidur terlalu lama.” Hyori masih terus bicara sendiri. “Semua orang bilang, oppa…sudah… tidak akan… bangun lagi.” Air mata menetes pada wajahnya. Yeoja itu mulai terisak, bahunya bergetar menahan tangis. Tapi tak berhasil.

“Kenapa… oppa… suka sekali… meninggalkanku sendirian?” Hyori menatap namja itu lagi. “Semula… aku yakin oppa akan bangun dan merecokiku lagi..”

“…Oppa akan sadar, sehat kembali lalu pulang ke rumah, bermain piano diruang tengah, dan menyanyikan semua lagu yang bisa kita nyanyikan bersama… Oppa tau? Aku selalu senang mendengar suara oppa ketika bernyanyi. Oppa membuat semuanya menyenangkan.” Hyori menarik napas sejenak, sebelum melanjutkan, “Dan kupikir itu akan bertahan selamanya..”

Hyori menggeleng pelan. “Tapi tidak ada yang abadi kan, oppa? Begitupun dengan aku, dan semuanya.” Ia menggigit bawah bibirnya dan terisak lagi. “Mianhae oppa, kali ini saja jangan marah padaku karena aku menangis seperti ini..” Hyori menarik napas dengan susah payah.

“Aku akan mencoba… merelakan oppa pergi. Oppa tidak perlu khawatir, ada appa, eomma dan Donghae oppa yang akan menjagaku disini. Aku pasti akan menjadi gadis yang penurut setelah ini, aku juga tidak.. tidak akan… cengeng lagi.. aku janji..oppa..”

Hyori mencodongkan tubuhnya, dan mengecup lembut kening namja itu. Setetes air matanya jatuh dan mengalir dipipi Yesung. “Saranghae oppa..”

Tak lama setelah itu, terdengar bunyi panjang dari monitor yang setau Hyori adalah alat deteksi detak jantung. Hyori terlampau kalut untuk menyadari apa yang telah terjadi hingga seseorang mendekap dan menyeretnya menjauh dari tubuh namja itu. Seorang dokter dan beberapa perawat mengerubungi tampat tidur Yesung. Disampingnya ada eomma yang menangis dalam pelukkan appa.

“Ada aku disini Hyori-ah..” suara Donghae seperti magnet yang menyeretnya pada kenyataan. Namja itu memeluk dan membelai lembut kepalanya, mencoba memberikan kekuatan.

Kemudian Hyori melihat dokter dan suster-suster itu menjauh dari ranjang. Ia mencoba mencerna apa yang terjadi, saat dilihatnya monitor itu tetap menunjukkan garis lurus yang panjang.

Donghae memeluknya semakin erat. Membuat Hyori kembali menangis dan terisak lebih keras dari sebelumnya.

Dia sudah pergi. Dia sudah pergi ketempat dimana seharusnya ia kembali. Dan setelah ini Hyori tidak akan pernah menemukannya lagi. Tidak di rumah, dikamarnya, didepan piano di ruang tengah.. tidak dimanapun.

Selamat tinggal oppa.. terimakasih karena sudah pernah ada…

if I live my life again

if I’m born over and over again

I can’t live without you for a day

you’re the one I will keep

you’re the one I will love

I’m… yes because I’m happy enough

if I could be with you

-THE END-

Ffuuuuhhh *niup poni*

Akhirnya dipost juga FF sekuel requestan reader ini

Pengennya sih bikin yang super sad, tapi jadinya kayak gini~~

TINGGALKAN JEJAK YAAA~~ 😀

Gomawoo ^^

-Rainbow-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s