Failed Cinderella’s Date Night #OneShoot

Standar

Big Bang Fanfiction: Failed Cinderella’s Date Night.

Author : Nicky DellaFelis

-Happy reading-

Yaaaak ini dia kelima pangeran kitaaa… melangkah turun dari mobil mewah yang mengkilap (backsound: High High – TOP & GD).

Pangeran pertama yang keluarrr adalaah… yak Kang Dae Sung oppa! Ia berdiri dengan tegak sambil melihat sekeliling, lalu memakai kacamata hitamnya sambil membentuk tanda v dibawah dagunya.

Kemudian… datang lagi sebuah mobil sport yang tak kalah keren, lalu Tae Yang oppa dan Seung Ri oppa the cute maknae turun bersamaan dari kedua sisi mobil, mereka memasukkan tangan mereka ke dalam saku jaket mereka, dengan memasang raut muka ala tuan-muda-terkeren-sedunia.

Berikutnya, melangkah turun dari mobil yang sama dengan Dae Sung oppa, Tabi, T.O.P, Ti.O.Pi, atau Choi Seung Hyun oppa! Ia keluar dengan gaya cool khas-nya, sambil melemparkan his death smile ke arah penulis.  Aaah apakah Tabi oppa baru saja tersenyum padaku?? *pingsan seketika*

“hei! Jangan pingsan dulu dong! Aku kan belum dipanggil!”.

Oh iya jangan pingsan… ceritanya masih lanjut. Dan datanglah mobil terakhirrr… meluncur memasuki TKP… eh tapi mobil siapa ini? Apa itu mobil pak mantri?

Belum sempat ia melakukan ritual turun-dari-mobil-dengan-keren-nya, ia sudah membuka jendela mobil dan ngelempar penulis pake jok mobil, “enak saja kau bilang pak mantri! Aku ini the gorgeous G-dragon, the KwonLeader tau!”.

Aaah iya ya maaf Jippaaaa… *sambil menyingkirkan jok mobil* aku kan cuma bercanda. Mianhae. Eh apa kau baru saja mengajakku bicara?? *plak*

“sudah jangan bicara padaku lagi, aku muak tauk”, jawab GD oppa sambil turun dengan susah payah dan tidak keren dari mobilnya.

Yaaaah aku dimarahin Jippa T.T

“woe ngobrol aja neh! Ini ceritanya gimana! Kita dipanggil kesini disuruh ngapain??” sahut Tae Yang oppa.

Aaaah iya mianhae, jadi ceritanya kalian adalah siswa di salah satu SMA paling bergengsi di Korea Selatan, orang kaya, sombong, disegani dan dikagumi seluruh siswa siswi di sekolah tersebut.

“sekolahnya bagus gak?” Tanya Dae Sung oppa.

Ya bagus dong oppadeul… namanya aja gakyo bergengsi. Lagian masa sih aku ngasih yang jelek-jelek buat kalian *pipimemerah*

“nanti ceritanya ada yeojanya gak?” Tanya Seung Ri oppa, antusias.

Ada. Nanti ceritanya kalian sama seorang yeoja siswi sekolah itu juga.

“cantik gak??” Tanya GD oppa.

“brisik, tanya terus”, Tabi oppa ngegampar Jippa pake panci, “buruan dimulai dah”.

Okai, awal cerita langsung saja kita ke teeee kaaaa pe!

Mereka keren… yeoja yeoja berteriak histeris ketika mereka lewat… dan ketika mereka berjalan dengan angkuh… semua mata memandang ke arah mereka… mereka itulah siswa-siswa terpopuler di Seoul. Ji Yong, Seung Hyun, Tae Yang, Dae Sung, dan Seung Ri.

Jam 2 siang, sudah waktunya jam pulang sekolah, dan koridor yang biasa mereka lewati penuh dengan fans-fans mereka yang ingin melihat mereka secara langsung. Mereka pun tiba di tempat parkir.

Di dalam mobil, Seung Ri membuka percakapan, “hyung, kita main-main dulu yuk”.

“aku setuju. Aku sedang bosan di rumah”, timpal Tae Yang.

“kalau begitu, kita pergi kemana?”, Tanya T.O.P yang sedang berada di kemudi.

“kemana lagi kalau bukan…”

“ke Star Night!” sahut GD semangat.

Star Night adalah nama dari salah satu café milik orang tua GD. Tapi meski dibilang milik orang tua GD, GD-lah yang mengelola café itu. Bisa dibilang dia bos-nya.

Dalam sekejap mereka sudah berganti pakaian dan sampai disana. Begitu mereka ada di dalam dan memesan, Seung Ri membisikkan sesuatu ke telinga GD, “hyung, liat deh” sambil menunjuk ke suatu arah.

“mwo?”.

Bersamaan dengan itu, seorang yeoja yang masih berseragam lengkap masuk melalui arah yang ditunjuk oleh Seung Ri. Dia masuk lewat pintu belakang.

“seragam itu kan… seragam sekolah kita?”.

“ne!!”.

GD menatap yeoja yang sedang berbicara dengan pegawai restoran itu. Sesaat ia melamun. Kemudian Seung Ri memukul kepala hyung nya dengan sendok, “jangan melamun saja, bagaimana menurut hyung?”.

“aduh…” GD meringis, “kurasa dia kerja part time disini. Tapi aku belum pernah melihat yeoja itu sebelumnya. Kelihatannya dia anak baru”.

“Exactly! Selamat! Anda mendapat sepuluh juta won!”.

“apa maksudmu??”, kata GD, mengalihkan pandangan dari yeoja itu.

“tapi ngomong-ngomong, ini kan café milikmu. Kenapa ada pegawai baru saja kau tidak tau?”.

“café ini memang milikku, tapi yang mengelola bukan aku. Aku cuma terima hasil bersihnya saja”, jawab GD enteng, sambil nyengir setan.

Ketika makanan datang, GD merasa dia harus ke toilet. Maka ia beranjak dari mejanya dan berjalan ke arah toilet. Sewaktu ia melewati meja kasir, ia tak melihat yeoja itu disana. Yasudah, pikirnya. Peduli amat.

Sampai di toilet, ia tak benar-benar ingin menggunakan toilet, ia hanya mengecek tatanan rambutnya di cermin. Hahaha dasar King Of Fashion, kayak cewek aja ke toilet cuma mo nebelin bedak.

Lalu GD yang kesel ngelempar penulis pake tisu toilet, “aku gak nebelin bedak!”.

Tiba-tiba salah satu pintu toilet terbuka, dan seseorang keluar dari sana sambil menggerutu, “ada apa ini ribut-ribut?!”. Tapi ia langsung terdiam ketika melihat namja yang ada di depannya. Bengong, melongo, sesaat hanya hening yang merayap. Kemudian ia berteriak, “KYAAAA!! AHJUSSI! APA YANG KAU LAKUKAN DI TOILET WANITA??”.

TOILET WANITA??, “hei! Siapa yang kau panggil ahjussi!”, ia balas berteriak pada orang yang ada di depannya, yang ternyata adalah yeoja yang tadi berseragam sekolah yang sama dengan sekolahnya, yang sudah mengganti pakaiannya dengan seragam restoran “dan lagi ini bukan toilet wanita! Kau yang salah masuk!”, lanjut GD.

“aaaaiisssh sudah tau bersalah tidak mau minta maaf! Keluar dari sini! Keluar! Keluar!”, bentak yeoja itu sambil memukul-mukul dan mendorong GD ke arah pintu.

“ya! Hei! Hentikan! Kamu mau kupecat??”.

“apanya yang dipecat?! Kau punya hak apa untuk memecatku dari sini?? Dasar ahjussi hidung belang!”.

Tapi kemudian keadaan jadi terselamatkan ketika pintu terbuka dan beberapa pegawai restoran serta teman-teman GD masuk ke dalam, “ada apa ini?”, tanya mereka hampir bersamaan.

“ahjussi ini!”, yeoja itu menunjuk GD, “dia seenaknya masuk ke toilet wanita! Padahal aku sedang ganti pakaian di dalam!”.

“hei sudah kubilang jangan panggil aku ahjussi!”.

“toilet wanita??”, Tae Yang bertanya-tanya keheranan. Ia menunjukkan keheranan yang sama  dengan seluruh pegawai restoran.

“aigooo… Sandara, apa yang salah denganmu??”, ia menarik lengan yeoja itu. Ooh rupanya namanya Dara. Pikir GD. “maaf tuan, maaf tuan. Maaf”. Pegawai restoran itu hanya bisa membungkuk minta maaf.

“waeyo? Ada apa ini?? Kau membela ahjussi ini??”, Tanya yeoja bernama Dara itu. Ia melihat sekelilingnya, dan raut muka orang-orang di sekelilingnya menunjukkan hal yang sama: kekhawatiran. Dara masih belum mengerti apa yang terjadi.

“aku masih bingung apa yang terjadi disini”, sahut TOP, “tapi yang ku tahu ini BUKAN toilet wanita”, ia lalu membalik pintu toilet, dimana disana tertempel gambar toilet pria yang besar.

Melihat itu, Dara seakan disambar petir. Ia terkejut dan kakinya terasa langsung lemas seketika. Matanya membelalak lebar seakan tak percaya. Ia melihat sekeliling, lalu menunduk dengan malu.

“ya. Kau. Kau telah melakukan kesalahan besar”, GD melotot ke arah Dara.

“jweisonghamnida, ahjussi”.

“SUDAH KUBILANG JANGAN MEMANGGILKU AHJUSSI!!”, GD pasti sudah menghajar Dara kalau saja tidak dihalangi oleh Dae Sung dan Tae Yang.

“ya, Dara, dia adalah bos café ini!”, bisik pegawai lain pada Dara.

“jweisonghamnida, jweisonghamnida, tuan”, katanya sambil membungkuk, berusaha menyembunyikan tubuhnya yang gemetaran karena takut.

“tolong maafkan dia, tuan. Dia pegawai baru. Wajar kalau dia belum hafal letak toilet pria dan toilet wanita”, timpal pegawai lain.

“aaah tidak bisa dibiarkan”.

“hyung, maafkan saja dia”, bisik Seung Ri, sambil melemparkan isyarat berbunyi “dia-kan-teman-sekolah-kita”.

GD membalas, “memangnya-kenapa-kalau-dia-teman-sekolah-kita??”. Dengan mantap, GD berpaling ke arah Dara. Ia telah membuat keputusan, “pecat dia”.

“anniyoooo!!”, Dara mengejar GD yang berlalu dengan santai keluar dari toilet, ia lalu berlutut di depan GD, “jweisonghamnida, tuan! Tolong maafkan aku! Aku berjanji aku tidak akan mengulanginya lagi, maaf aku tidak tahu! Tuan boleh memotong gajiku selama setahun, tapi tolong jangan pecat aku! Aku susah payah mencari pekerjaan ini!”, serangkaian kata maaf meluncur dari bibir Dara, sambil terus berlutut di depan GD.

GD menghela napas. Ia lalu melirik teman-temannya. Berharap mendapatkan solusi. Dae Sung membuka mulutnya, “kurasa sebaiknya hyung maafkan saja dia”, katanya.

“hei G,” TOP menimpali, “apa kau mau membiarkan yeoja secantik dia berlutut mengemis-ngemis di hadapanmu?”, katanya. Seketika Dara merona merah karena dipuji oleh namja paling keren yang pernah ia lihat. Aaah TOP oppa emang pandai ngerayu XD

“apa-kubilang-kan?” bisik Seung Ri.

GD menunduk melihat yeoja yang sedang berlutut di hadapannya, yang ternyata diam-diam mengeluarkan rintik air mata, membuat GD tak tega. “okay, aku maafkan kau”, jawabnya singkat, “aku tidak mau menerima uang hasil potongan gajimu, jadi aku tidak akan melakukannya. Tapi, JANGAN COBA-COBA MENCARI MASALAH DENGANKU LAGI, arrasseo?”

Mendung yang suram berganti dengan matahari yang bersinar cerah terlihat dalam senyum Dara, “gamsahamnida, tuan! Gamsahamnida!”.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, GD berlalu meninggalkan restoran (yang sebenarnya menyembunyikan perasaan kagumnya terhadap cantiknya Dara ketika tersenyum XD) sebelum sempat menghabiskan makanan yang dipesannya, diikuti teman-temannya yang hanya tertawa kecil di belakang GD melihat kelakuannya. Sedangkan penulis udah ngakak setan.

Di kantin sekolah.

“aku malu sekali”, cerita Dara pada temannya, Gong Min Ji, tentang kejadian di tempat kerjanya kemarin, “aku hampir saja dipecat” katanya sambil makan mie ramen.

“salah eonni juga sih”, jawab Min Ji, “kalo aku jadi eonni, aku pasti sudah mencari pekerjaan lain gara-gara mati karena malu”.

“micheosso?? Itu pekerjaan paling bagus yang pernah didambakan oleh seorang siswi sekolah!”.

“lagian bagaimana bisa eonni bekerja di sebuah tempat yang bosnya saja eonni tidak tahu?”.

“aku memang belum pernah bertemu dengannya. Pegawai lain bilang kalo bos memang jarang datang ke cafénya, dia mempekerjakan orang lain untuk memanageri café karena dia banyak urusan”.

Min Ji mengangguk-angguk geje tanda mengerti, “tapi siapa orang yang sehebat itu?”.

“pegawai bilang orang-orang sering memanggilnya G-Dragon”.

“G-Dra….?”, Min Ji tertegun mendengar nama itu, “ya ampun Dara-eonni, kau pasti mati!!”.

“memangnya kenapa?”, sambil bertanya begitu, Dara berdiri dari kursinya sambil membawa cangkir kopinya, lalu berbalik untuk memesan mie ramen lagi. Unpredictable, saat ia berbalik ada orang yang berjalan ke arah berlawanan dengannya. Tabrakan pun tak terhindarkan. Kopi dalam cangkir Dara tumpah menodai kemeja orang itu.

“aiiisssh… sialan…”

“jwe… jweisonghamnida! Aku…” tapi Dara lebih terkejut lagi ketika melihat bahwa orang yang baru saja ia tabrak adalah orang yang sama yang bermasalah dengannya kemarin.

Ketika GD berpaling dari kemeja bernoda kopinya ke orang yang baru saja menabraknya, terlihat sekali bahwa darahnya sudah naik sampai ke ubun-ubunnya, “kau lagi!”.

Sedang Min Ji hanya menutup mata, takut mengetahui apa yang terjadi.

“bukankah sudah kubilang untuk tidak mencari masalah denganku??” bentak GD menohok.

“aa.. aku tidak sengaja!”, Dara tergagap-gagap. Puluhan pasang mata di kantin kini mengarah kepada mereka berdua.

Tanpa pikir panjang, GD melepas kemejanya yang bernoda kopi, sehingga kelihatan dia hanya memakai kaos oblong hitam bertuliskan, “too fast to live, too young to die”, kemudian membuang kemejanya ke lantai begitu saja. Dan pergi dengan geram, tapi tidak kehilangan cirinya yang cool khas seorang leader (backsound: G-Dragon – Heartbreaker).

“tu… tunggu! Kemejamu!”.

“biarkan dia, eonni. Dia bisa membeli lagi lusinan kemeja dengan mudah”.

Dara memungut kemeja dengan lesu, merasa bersalah, sehingga kehilangan selera mie ramen-nya, “kau tidak bilang kalau dia murid sekolah ini”.

“aku sudah bilang, kalau kau akan berada dalam masalah besar! Karena kau akan bertemu dengannya setiap hari di sekolah ini. Dia itu namja paling disegani di sekolah ini, dia siswa paling kaya! Dan dengan empat namja yang lain, mereka dipanggil BIG BANG”, jawab Min Ji dengan menambahkan sedikit unsur dramatis.

Dara menarik napas dalam-dalam. Kemudian menghembuskannya keluar bersama beban-beban yang mendarat di pundaknya gara-gara namja angkuh bernama G-Dragon, “aku harus meminta maaf padanya”.

“micheosso?? Dia melepaskan eonni saja sudah baik! Kalau kau masih mau menempel padanya, bisa-bisa dia malah mempermainkanmu. Anggap saja masalah ini sudah selesai, lupakan kau pernah berurusan dengannya, dan jangan memikirkannya lagi”, kata Min Ji lebay, padahal GD gak sesadis itu. Ia hanya berusaha menenangkan Dara yang tak mendengar wejangan mulia dari chingu Koreanya.

“ngomong-ngomong eonni, kau akan mengikuti pesta itu kan??” tanya Min Ji.

“pesta?”.

Di dorm (asrama) Big Bang.

“aiiisshh bau apa ini??”, dengus GD sang penanggung jawab kebersihan ketika melangkah memasuki dorm Big Bang, yang lalu menyemprotkan pengharum ke segala penjuru ruangan.

“Ji Yong-ssi, ngomong-ngomong mana kemejamu?” tanya Tae Yang sang penanggung jawab laundry dari balik ruangan mencuci.

“jangan tanyakan tentang kemeja”, jawab GD, yang langsung tepar di sofa.

“oh aku tau dimana kemeja itu!” teriak Seung Ri, ketika sedang bermain catur dengan Tabi, “siswi yang bekerja di café itu yang membawanya”.

“yaaaah!! Skak mat!” teriak Tabi girang.

“apa?? Tunggu tunggu!!” Seung Ri berusaha menahan.

“apa maksudmu dibawa yeoja yang bekerja di café??”, tanya Tae Yang.

“sudah ku bilang jangan tanyakan!!” bentak GD.

“chingudeul, malam ini mau makan apa??” tanya Dae Sung, sang penanggung jawab makanan, dari dapur.

“kasi tau nggak yaaa??” goda Seung Ri, sambil melirik GD yang manyun.

“Seung Ri-ssi, kau bicara apa?? Kau berbicara padaku atau siapa??”, tanya Dae Sung.

“tidak Dae Sung Hyuuung! Aku berbicara pada Tae Yang Hyung”.

“hei, kau lihat kemana? Ayo main lagi”, ajak Tabi.

“ayo saja! Kali ini aku pasti menang”, Seung Ri mengiyakan.

“hei aku tanya apa yang terjadi pada kemejanya?? Aku jadi tidak bisa mencuci dengan tenang tau!” bentak Tae Yang.

“berhenti membicarakan kemeja!!”, GD sewot.

“hyuuuung kalian mau aku memasak atau tidak??”, Dae Sung berteriak dari dapur, tidak sabar.

AAAAAAH CUT CUT CUT!! INI DORM ISINYA CUMA LIMA ORANG KENAPA BISA BERISIK GENE SEEEH!! (

“benang merah ada banyak di lemari”, jawab Tabi enteng, tetap tidak memalingkan wajahnya dari papan catur yang ada di hadapannya.

Kok pada salah sih adegannya? Pada gak baca naskah ya??

“emang mananya yang salah?”, tanya Dae Sung dari dapur.

Dae Sung oppa ama Tae Yang oppa cukup tanya sekali aja , trus Jippa gak usah sewot-sewot gitu dong… rusak nih narasinya.

“salah siapa emangnya?? Kenapa aku dikasi peran yang sengsara mulu dari kemaren??”.

Lhoh kan tokoh utama… tokoh utama harus sengsara dulu dong…

“sudah jangan bicara lagi. Aku benci kamu. Dasar penulis geje”.

Yaaaah Jippa dari kemarin marah terus siiih ama akuuu.

“trus sekarang kita ngapain??”, tanya Tae Yang.

Jadi kalian ngomongin tentang pesta tahunan sekolahan… dan berencana untuk datang ke sana bareng-bareng. Ayo dimulai! Percakapan dimulai dari Tabi oppa.

“brisik, lagi sibuk nih”, TOP menolak dengan gampangnya.

Aaaah oppa Seung Hyun jahatnyaaaa.

“sudah jangan menangis, cup cup, biar aku saja yang memulai percakapan”, Seung Ri tersenyum pada sang penulis geje.

Kyaaaa Seung Ri oppa baik bangeeet *guling-guling di lumpur* Kalo begitu ayo dimulai!

“hyung, ayo kita ke pesta tahunan yuk? Seminggu lagi”, ajak Seung Ri.

“trus bagaimana nasib kemejanyaaaa??”, Tae Yang nyakar-nyakar dinding di ruang cucian.

“sudahlah, nanti ku ceritakan semua”, jawab Seung Ri kalem.

“ya! Kau meleng kemana?? Ayo cepat sekarang giliranmu”, kata Tabi masih serius sama catur.

“iya, iya, sebentar hyung. GD hyung juga ikut, kan?”.

“molla”.

“aigooo…” kata Seung Ri.

“hai semuaaa… makan malam sudah siaaaap”, Dae Sung datang dari dapur, masih memakai celemek.

“hah?? Makan malam sudah siap??”, Tae Yang keluar tiba-tiba dari ruang cucian, masih memakai sarung tangan karet. Kelihatannya dia sudah melupakan kejadian tentang kemeja.

“yaaaak skak mat!!” TOP berteriak tiba-tiba.

“hyung, ayo makan dulu! Jangan main catur saja”.

“GD hyung, kenapa kau tidak ikut??”, tanya Seung Ri, terlihat cuek padahal sudah 18 kali dia kalah main catur lawan TOP.

“okay, okay, aku akan ikut”, jawab GD, yang pada dasarnya adalah namja yang tidak kuat bila dipaksa. Seperti kejadian di café. “hanya untuk menunjukkan bahwa King Of Fashion selalu datang ke pesta manapun”, lanjutnya.

“sudah, berhenti main catur, berhenti mencuci baju, berhenti membicarakan kemeja geje, dan berhenti membicarakan pesta. Sekarang mari kita makan malam”, kata Dae Sung kalem.

Mereka pun makan malam dengan tenang. Selama prosesi makan malam terjadi, tak ada yang bicara. Tak ada yang komentar. Setelah memakan masakan Dae Sung malam itu, semuanya tidak bisa berhenti ke kamar mandi selama tiga hari.

Di kantin sekolah (backsound: Big Bang – VIP).

“hei, lihat lihat…” bisik Minji.

“mmm..?” tanya Dara dengan mulut penuh mie ramen. Ia melihat ke arah yang ditunjuk Minji.

Pada saat Dara berpaling dari mangkuk mie ramennya, tepat pada saat itu pula The Gorgeous Big Bang lewat di depan mereka. Dengan sang maknae yang melemparkan senyum pada fansnya, yang hanya membuat mereka berteriak sampe kedengeran di Argentina.

Dara berhenti mengunyah mie ramen, sesaat tertegun dengan sosok GD yang COOOOL. Lebih cool dari udara di Korea pada musim dingin.

“mereka keren sekali,” gumam Minji, terpaku sesaat, kemudian dengan mudah melupakannya, “ngomong-ngomong, eonni akan pakai baju apa di pesta nanti??”.

“hako tedak ikot. Ako tedak ponya gaon”, jawab Dara dengan mulut penuh mie.

“aigoo… dapatkan gaun lah! Bagaimana kek caranya”.

“kalo hako belang tedak ya tedak”, Dara ngotot, sambil meneguk kuah di mangkuk mie, “aaaah enaknya”, kemudian Dara berdiri.

“hei, eonni mau kemana?”.

“pesan mie ramen lagi”, kata Dara sambil membereskan mangkuknya.

“mwo?? Eonni, kau sudah habiskan dua mangkuk!”.

“ne, ne, aku tahu”, jawabnya enteng, “kau kira aku tidak bisa menghitung?”.

Minji hanya bengong sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan teman barunya yang berjalan ke arah counter kantin.

Di Star Night café, siang harinya.

Canggung. Mungkin kata itu yang paling tepat untuk menggambarkannya.

GD sedang duduk di salah satu kursi di café, sedangkan Dara berdiri di sampingnya, menunggu pelanggannya itu menyebutkan pesanannya dengan tidak sabar, sambil dengan gemetaran memegang buku catatan. Sementara itu, teman-teman GD ngakak setan ditahan setengah mati melihat skenario ini.

“tu… tuan GD, cuma anda yang belum memesan”, tanya Dara sambil melihat sepatunya, tak berani memandang wajah GD.

“cappuccino”.

“di.. dingin atau panas?”.

“dingin”.

“dengan atau tanpa krim?”.

“pakai krim”.

“mi.. minum disini atau dibawa pulang?”

“MENURUTMU?”.

“ma.. maaf, aku belum biasa”. Katanya, kemudian meninggalkan meja dengan perasaan malu.

“kau jahat sekali, Ji Yong-ssi”, komentar Tabi, sambil nahan ngakak sampe perutnya sakit. Duh, dia manis banget kalo ketawa.

“huakakakakak”, Seung Ri ngakak lebar-lebar, tidak tertahan lagi.

“ya. Hentikan. Apa yang kau tertawakan??”, GD nahan kesel.

“sudah, sudah”, Tae Yang berusaha menenangkan suasana, yang sebenarnya juga gak juat nahan ketawa, “tidak baik menertawakan teman seperti itu”.

“ya”, Dae Sung setuju,  tapi hanya sementara, “teman yang kemejanya kena noda kopi!”.

Semuanya kembali ngakak lagi. GD manyun. Mereka belum berhenti ketawa. Akhirnya GD gebugin satu satu pake bangku.

Di kamar Dara, esok harinya.

Hari ini tidak ada shift-nya bekerja di café. Dia kini hanya guling-guling sambil meluk guling di kasurnya. Dia bimbang. Malam ini, pesta dansa tahunan sekolah diadakan.

Ia bangkit. Kemudian membuka lebar-lebar lemarinya. Yang isinya cuma celana jeans, jaket belel, syal dan mantel musim dingin, t-shirt, piyama, celana pendek, dan seragamnya. Tidak ada gaun. Ya, TIDAK ADA GAUN. Ulang Dara dengan dramatis. Ia tergeletak di kasurnya dengan kecewa.

Tunggu, tunggu… jangan putus asa… kau harus datang ke pesta itu, supaya narasinya jalan!

Dara bangun tiba-tiba, “siapa yang bicara??”.

Ups. Lupa ya. Dia kan tidak bisa melihatku.

Dara semakin takut, “siapa disana?? Tunjukkan dirimu!”.

Eit, eit, tenang, tenang. Aku bukan orang jahat. Masalahnya adalah, kau tidak bisa melihatku.

“si… siapa kamu??”.

Aku adalah penulis naskah ini.

“penulis naskah?”.

Eh, salah ding. Aku, aku adalah… peri penolongmu!

Dara mengangkat alis, “peri penolong!”

Yeah, yeah. Aku adalah peri penolong. Kau adalah Cinderella yang ingin pergi ke pesta dansa, tapi tidak bisa pergi karena tidak punya gaun yang pantas. Nah, aku adalah ibu peri-mu. Jeng jeng jeng.

“aku.. Cinderella? Tapi aku kan Sandara Park?”.

Kebanyakan tanya nih orang. Iya, aku tau kau Sandara Park, aku kan yang bikin cerita ini, mana mungkin aku tidak tahu. Tapi cerita ini kan judulnya Failed Cinderella’s Date Night.

“cerita? Cerita apa??”.

Tuh kan, salah omong lagi. Sudah, lupakan perkataanku yang barusan. Pokoknya, aku akan menolongmu. Kalau tidak, narasinya bisa kacau. Jadi, kau ingin pergi ke pesta dansa kan?

Dengan malu-malu, Dara menjawab, “iya”.

Dan kau tidak punya gaun?

Dara mengangguk.

Oke. Gaun seperti apa yang kau inginkan?

Dara menunduk dengan lesu, “buat apa aku datang ke pesta dansa? Tidak ada yang membutuhkanku disana. Lagipula… disana ada GD. Dia pasti tidak suka kalau aku disana”.

Haduhh susah banget meyakinkan dia. Sudahlah, ini kan pesta semua orang! Siapa peduli sama namja sok cool berbaju aneh-aneh yang ke toilet cuma mau benerin tatanan rambut? Kau bisa kehilangan kesempatan bersenang-senang kalau memperdulikan dia!

“hei penulis geje… I heard you…” bisik GD.

Ups. Salahku *nampar diri sendiri*

“benar juga ya. Siapa peduli sama dia!”.

Nah… gitu dong. Okai. Ini gaun buatmu, triiiing! Dan sebuah gaun indah pun muncul (geje abis), sebuah gaun terusan selutut warna hitam, lengkap dengan sepatu dan aksesorisnya.

“wuaaaah! Bagus sekali gaun ini! Darimana datangnya semua ini??”.

Aku curi dari wardrobe 2ne1. Ayo buruan dandan, trus kita langsung meluncur ke teee kaaa pe!

Di tempat pesta (backsound: Big Bang – La La La).

Aduuuh apa yang kau tunggu sih?? Cepat masuk ke tempat pesta!

“aku… aku tidak percaya diri”, kata Dara, sambil melihat gaun yang dikenakannya.

Kau malu pada siapa?? Sedikit yang mengenalmu disana, kau akan anak baru.

“benar juga kau”, ia lalu keluar dari semak-semak tempat persembunyiannya. Kemudian ia tiba-tiba berhenti berjalan. Ragu mulai merayapi dadanya lagi.

APA LAGI??! (

“bagaimana kalau GD melihatku?? Aku sudah janji tak akan cari masalah dengannya”.

Capek deeeeh *cakar-cakar tanah* memangnya kalau dia melihatmu itu masalah??

Dara terlihat berpikir sebentar. Kemudian memantapkan diri, “baiklahhh. Oke. Tarik napas dalam-dalam. Keluarkan. Let’s roll!”.

Tapi kalau misalnya si Dara punya kekhawatiran akan GD, itu pertanda kalau dia mulai menyukainya. Bagus, bagus. Narasi berjalan dengan baik. Hohoho.

“hah? Kau barusan bilang apa, ibu peri?”.

Hah? Bukan apa apa. Eh, aku pergi dulu ya.

“pergi? Bukankah kau akan menemaniku sampai ke dalam??”.

Aaah kau ini bagaimana, aku ini sibuk. Aku harus ke tempat lain. Apa jadinya cerita ini kalau tidak ada aku? Kalau aku menemanimu terus, narasinya bisa kacau. Mudah saja, kau tinggal masuk ke dalam ruangan dan cari Minji.

“ba…baiklah”.

Okai. Aku pergi dulu ya! *buff* menghilang dibalik kepulan asap. Meskipun sebenarnya wujudku juga gak bisa dilihat Dara sih.

Big Bang sudah berada di dalam ruang pesta. Mereka sedang menikmati pesta dengan tenang.

“jadi, pestanya seru, kan?” tanya Dae Sung pada GD.

“lumayan,” jawab GD cuek, sambil meneguk minumannya.

“ngomong-ngomong hyung, style apa yang kau pakai ini?”, tanya Dae Sung heran, sambil menatap pakaian yang dikenakan GD dengan aneh.

“ini kunamakan style ‘rapper nyasar ke pesta Cinderella’, keren kan? Ini jas hitam dengan line putih, kemudian ditambah dengan topi fedora yang keren ini”, jawab GD bangga.

“yeah”, Dae Sung mendengus, “kau selalu jadi raja fesy… aigooo!”

GD menunggu Dae Sung mengatakan ‘raja fesyen’, tapi Dae Sung berhenti di tengah-tengah dan tiba-tiba matanya melotot terkejut, meskipun matanya masih tetap sipit. Ia terpaku pada sesuatu yang ada di belakang GD. Penasaran, GD pun menoleh ke belakang. Dan ia terkejut.

Berjarak kira-kira 10 meter dari tempatnya berdiri, ia melihat seorang yeoja cantik yang berjalan dengan anggun dan lemah gemulai. Jeongmal arumdawoyo. Seketika itu juga, sang Raja Fesyen merasa seperti telah menemukan Ratu Fesyen. Tapi ia langsung berubah pikiran ketika mengetahui siapa yeoja itu.

“aaahh… dia cantik sekali kan?”.

“aiiishhh kau mengagetkanku!”, kata GD hampir misuh, ketika Seung Ri muncul tiba-tiba di sampingnya.

“jangan mengalihkan pembicaraan. Ayolah. Sandara sangat cantik mala mini, kan?”, goda Seung Ri, sambil menaikkan alis.

GD sedikit ragu, “ne, kau menang”, katanya pada akhirnya, “tapi aku tetap tidak menyukainya”.

“ah, hyung. Kau bisa saja”, Seung Ri menyenggol GD yang salting digoda seperti itu.

Sementara itu….

“Min Ji!”.

“aigoo! Dara-eonni! Kau cantik sekali! Darimana kau dapatkan gaun ini? Kau bilang kau tidak punya gaun?”, Min Ji memberondong Dara dengan pertanyaan-pertanyaan.

“hehehe, ceritanya panjang”.

“ya, syukurlah akhirnya kau bisa datang ke pesta ini”, kata Min Ji, “tapi… apa itu?”.

“apa?”.

“ada noda kemerahan di bagian belakang gaunmu”.

“hah?”, Dara berusaha melihat ke bagian belakang gaunya, tapi tidak bisa.

“aku sedang berpikir, jangan-jangan ini…” begitu menyadari noda apa itu, Min Ji langsung menutupinya dengan badannya, “geez! Apa kau kedatangan tamu?”.

“apa??!”, Dara berpikir, ia ingat ini memang sudah masuk tanggalnya, “mu… mungkin saja”.

“ya Tuhan! Untung saja kau pakai gaun hitam! Cepat ke toilet dan bersihkan noda itu selagi belum mengering! Aku akan ke toko terdekat membeli pembalut”.

“I, iya”. Dara menghambur ke toilet sambil menutupi noda kemerahan di gaunnya dengan tas, dan tanpa buang waktu langsung masuk ke dalam. Ya Tuhan! Kenapa baru sampai di pesta saja sambutannya sudah begini??

Begitu masuk ke salah satu toilet, ia merasa dirinya sudah aman. Ia memastikan kalau ia memangkedatangan tamu. Ternyata memang iya. Kemudian Dara berusaha membersihkan noda di gaunnya hanya dengan air. Tapi nodanya tak kunjung hilang. Memang sengaja kubuat begitu. Kalau nodanya hilang, mau jadi apa cerita ini.

“sial! Padahal ini gaun pinjaman!”, keluhnya.

Kemudian terdengar bunyi pintu dibuka. Ada seseorang masuk.

“ah… ternyata dengan topi fedora pun rambutku masih kelihatan berantakan”, Dara bisa mendengar orang itu berbicara.

Itu.. itu kan.. suara GD!!”, jerit Dara dalam hati.

“tak apalah, rambut berantakan pun aku tetap keren”, GD bicara lagi.

tidak salah lagi, itu GD!! Pria yang ke toilet hanya untuk membetulkan tatanan rambutnya kan hanya GD”, gumam Dara, “ya ampun! Apa aku salah masuk toilet lagi??”.

Dara sedikit berharap kali ini GD yang salah masuk toilet. Tetapi itu tidak masuk akal, GD lebih mengenal tempat ini disbanding dirinya. Dia juga asal masuk tadi. Kalau dia tertangkap basah lagi…

Segera Dara mengirim sms emergency kepada Min Ji yang berbunyi: “help. This is urgent. Aku berada di toilet pria. LAGI”.

Satu menit kemudian, Dara mendapat balasan dari Min Ji: “aigoo! Eonni, apa yang kau lakukan disana?? Cepat keluar!”.

Dara: “kalau aku bisa, aku sudah keluar dari tadi, bodoh! Ada GD di luar, dan dia tak pergi-pergi juga. Aku tak mau dia melihatku. Bisa bahaya kalau dia tau aku salah masuk toilet lagi. Dia akan mengira aku yeoja penguntit toilet pria”.

Min Ji: “lalu bagaimana?”.

Dara: “bantu aku keluar dengan selamat. Kau alihkan perhatian GD supaya dia keluar dari toilet. Setelah itu aku akan keluar. Kebetulan hanya ada aku dan dia disini”.

Min Ji: “micheosso? Aku tidak tau caranya mengalihkan perhatian. Kau tunggu saja dia keluar”.

Dara: “DIA BISA SEJAM DISINI!!”.

Min Ji: “baik aku punya ide”.

Dara: “apa itu?”.

Min Ji: “aku akan memadamkan listrik. Saat lampu mati, kau harus secepatnya keluar dari sana”.

Dara: “kau pikir aku bisa berjalan dalam gelap??”.

Min Ji: “tak ada pilihan lain. Tunggu, aku akan mematikan listrik. Beritahu aku kalau kau sudah keluar dari sana”.

Dara panik. Ia harus bisa berjalan dalam gelap kalau tak mau GD membunuhnya. Ia bingung, jantungnya berdegup kencang, dan kakinya menghentak-hentak lantai. Yang tanpa disadari olehnya hentakan itu didengar oleh GD dari luar. GD yang paling mengerti fashion, bisa tau kalau itu hentakan itu adalah hentakan dari sepatu high heels wanita, hanya dengan sekali mendengarnya.

apa ada yeoja di dalam sana?” gumam GD dalam hati, “ah, mana mungkin”.

Sementara itu, Min Ji sudah sampai di pusat pengendali listrik seluruh sekolah. Ia memang paling tau seluk beluk sekolah ini, mulai dari jalan pintas dari pintu belakang menuju kelas-kelas tanpa ketahuan guru, spesifikasi rak-rak yang menyimpan buku-buku tertentu di perpustakaan, sampai cara membajak mesin minuman kaleng di kantin.

Tanpa buang waktu, Min Ji langsung menekan sakelar utama. Dalam sekejap, seluruh sekolah menjadi gelap seketika. Musik yang tadinya mengalun lembut di aula pesta, tiba-tiba mati dan berganti teriakan takut dan kecewa dari semua tamu pesta.

“ada apa ini??”, teriak GD terkejut, berusaha menerka-nerka dalam gelap. Ia merogoh sakunya untuk mengambil handphone. Ketika handphone itu menyala, ia mendengar pintu salah satu toilet dibuka, “siapa disana?”.

Belum sempat GD mengarahkan cahaya di handphone nya ke orang yang baru saja keluar dari salah satu toilet itu, tiba-tiba handphonenya direbut dari tangannya, dimatikan dengan cepat, lalu dilempar ke sudut ruangan, “hei! Siapa itu! Apa yang kau lakukan!”.

GD belum sempat melihat wajah orang itu. Ia mendengar langkah kaki yang panik. Tapi sebelum orang itu keluar dari toilet, GD berhasil meraih lengannya. Dapat!

Eh, tetapi… kenapa aku langsung bersentuhan dengan kulit?

Orang itu memberontak, berusaha melepaskan genggaman GD di lengannya. GD berusaha melawan, dia penasaran siapa orang itu. Terlebih setelah dia menyentuh rambut panjang dan kain yang menjuntai mirip rok. Dia semakin yakin bahwa itu adalah seorang yeoja. Tapi karena mereka berdua sama-sama ngototnya, akhirnya mereka berdua terjatuh ke lantai, cukup berdekatan.

“aduh…” GD meringis.

Saat itulah orang itu bebas dari genggaman GD, dan ia langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk bangkit dan keluar dari toilet.

“hei tunggu!”, GD berusaha menahannya. Tapi sudah terlambat, kelihatannya dia sudah jauh. Pasrah, GD merangkak dalam gelap untuk menemukan handphone nya. Tapi belum juga ia temukan handphone-nya, listrik sudah menyala lagi. GD lalu bangkit dan berjalan menuju handphone nya yang tergeletak di sudut ruangan.

“sebenarnya apa yang terjadi??”.

“AAAHH ini hal terbodoh yang pernah kulakukan!” Teriak Dara di toilet wanita, berjarak agak jauh dari toilet pria. Membuat semua yeoja di sekitarnya melihat ke arahnya.

“Dara-eonni!” Min Ji masuk ke toilet wanita, “kau tidak apa-apa??”.

“tidak. Aku mendapat cakaran di pundak, genggaman kuat di lengan, rambutku kusut, dan badanku sakit semua karena jatuh”.

“tidak apa-apa. Yang penting kau sudah keluar”.

“kau tau Min Ji? Aku akan pulang saja. Aku merasa lemas”.

“mwo? Kau baru sebentar disini”.

“aku takut bila melihat GD. Sudahlah biarkan aku pergi”.

“hmmm. Baiklah. Istirahatlah”.

“oh iya. Terima kasih pembalut yang kau belikan, hehehe. Kebetulan aku sedang kehabisan”, lalu dengan gontai Dara melangkah keluar dari toilet wanita.

Di Star Night café beberapa hari setelah pesta itu.

“wah, cerita yang menarik”, komentar Tabi sambil menyeruput espresso-nya.

“jadi kau mengira dia itu seorang yeoja?”, tanya Tae Yang.

“bagaimana tidak. Suara hentakan sepatunya seperti suara hentakan high heels. Dia memakai pakaian tanpa lengan. Dia berambut panjang, dan dia memakai rok!”, cerita GD, berapi-api.

“tapi bagaimana keadaan handphone mu?”, tanya Dae Sung.

“handphone ku tidak apa-apa. Ya! Kenapa yang ditanyakan malah handphone dan bukannya aku??”, GD berkata dengan serius.

“hmmm… seorang yeoja yang salah masuk ke toilet pria”, gumam Tabi, “rasanya pernah mendengar kasus seperti itu, ya”.

“ihirrrr…” Seung Ri menaikkan alisnya penuh semangat kepada GD.

“tunggu, tunggu, apa kalian mau bilang…” GD tergagap-gagap, “tidak mungkin!”.

“kenapa bisa tidak mungkin??”, desak Seung Ri, “memangnya ada bukti kalau dia bukan orangnya? Dia ikut pesta malam itu. Dia pakai rok, high heels, dan rambutnya diurai”.

“lalu, MEMANGNYA ADA BUKTI KALAU DIALAH ORANGNYA?”, GD balik bertanya pada Seung Ri. Berdebat dengan GD memang sulit.

“apa yang hyung ingat darinya?”, tanya Dae Sung.

“yang aku ingat cuma…” GD berusaha mengingat-ingat, “dia beraroma harum”.

“ya, banyak yeoja beraroma harum di sekolah kita”, kata TOP.

“anniyo. Maksudku, dia beraroma harum tapi aku yakin itu bukan parfum mahal. Aku masih hafal aromanya”, ia berpikir sebentar, “aaah iya, dan dia menjatuhkan ini di lantai”, GD merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan sesuatu.

“apa itu?”.

“kancing baju. Pasti tercabut sewaktu aku bergelut dengannya”.

“kalau begitu tidak diragukan lagi, Dara orangnya”, kata Seung Ri sambil manggut-manggut.

“bukan!!”.

“memangnya, apa masalahnya kalau dia memang orangnya?”, cecar Tae Yang.

“mwo?”.

“kalau memang dia orangnya, itu bukan masalah bagimu, kan? Tapi kenapa kau yakin sekali kalau dia BUKAN orangnya?”.

GD kehabisan kata-kata, “a… aku… aku cuma…”

Sementara itu, tak ada seorang pun dari mereka berlima yang mengetahui bahwa Dara meringkuk dengan jantung berdegup kencang di ruang pegawai, mendengarkan percakapan mereka dengan teliti. Lalu merasakan suatu gejolak di dalam dadanya.

Di sekolah (backsound: Big Bang – Lies).

GD, TOP, Tae Yang, Dae Sung dan Seung Ri sedang berjalan dengan santai di lorong, sebelum Dara tiba-tiba muncul dari tempat persembunyiannya dan menghadang mereka.

Pertama GD terkejut, begitu pula yang lain. Tapi kemudian GD berusaha mengabaikannya dengan menghindar-yang kemudian diahadang lagi oleh Dara. Begitu terus sehingga membuat yang lain penasaran.

GD tak tahan lagi, “okay. Apa maumu?!”.

Dara berusaha mengatur nafasnya, “a… aku mau minta maaf atas kejadian di café, dan di kantin tempo hari”.

“maaf? MAAF?!”, mulai deh GD naik darah, “maaf ya, tapi maafku bisa-bisa habis kalau kau minta terus”.

“ya, aku memaafkanmu”, jawab Dara enteng.

“siapa yang minta maaf?!”.

“barusan kan kau bilang, ‘maaf ya’, iya kan??”.

“aku tidak benar-benar meminta maaf padamu, aku tidak bersalah padamu dan aku tidak butuh maafmu”.

“tapi aku tetap akan memaafkanmu”.

“DIAM!”, potong GD, “kalau kau tak ada perlu lagi denganku, aku pergi”.

“tungguuu aku belum selesai!”, Dara memegang lengan GD. Ya Tuhan, ternyata lengannya kecil sekali. Aku jadi iri. Gumam Dara dalam hati.

“apa?? Cepat katakan!”.

“oh iya!”, Dara tersadar, “ini milikmu, kan?”, katanya sambil menyodorkan sebuah kantong plastik.

GD menatap kantong plastik itu dengan curiga. Dia menyambarnya lalu melihat apa yang ada di dalamnya, ternyata itu adalah kemeja bernoda kopinya yang kemarin. Perbedaannya, kali ini noda kopi itu sudah lenyap dari tempat seharusnya berada. GD cukup terkejut melihatnya.

“kau… mencucinya?”.

“tentu saja! Aku tahu kau marah, dan aku tahu kau bisa membeli kemeja lagi dengan mudah, tapi aku merasa ada yang kurang pas bila belum mengembalikannya padamu. Sekali lagi maafkan aku atas kejadian beberapa hari yang lalu itu ya…”

GD hanya diam, lalu berkata singkat, “gomawo”.

Dara cukup terkejut dengan apa yang dikatakan GD. Belum sempat Dara menjawab, GD sudah jauh di depannya, “cheonmaneyo!”, teriak Dara, “cheonmaneyo oppa!”, ia berteriak meski ia tahu GD tak mungkin mendengarnya. Tapi PADA KENYATAANNYA, GD mendengarnya. Terutama ketika Dara menggilnya dengan sebutan ‘oppa’.

Sementara TOP, Tae Yang, Seung Ri dan Dae Sung terbengong-bengong melihat temannya. Mereka berfikir, GD tak pernah se-salting ini sepanjang hidupnya.

Di kamar GD di dorm Big Bang.

GD sedang serius menulis lagu barunya, saat Tae Yang tiba-tiba menerobos masuk.

“aigoo! Tidak bisakah kau mengetuk?”.

“tidak. Ada sedikit pintu yang perlu kuketuk di dunia ini”, kata Tae Yang. Penulis jahat nih, kalimat barusan kan copas dari Secret Garden. Kemudian Tae Yang mengulurkan tangannya, “Ji Yong-ssi, selamat ya”.

GD heran, “untuk apa?”.

“untuk kembalinya kemejamuuu!”, ia langsung menarik tangannya lagi dan menyambar kantong plastik yang tergeletak begitu saja di meja dan mengeluarkan isinya, “wooow sudah bersih!”.

GD tidak begitu memedulikan Tae Yang, ia teruskan menulis lagu. Tae Yang terus meperhatikan kemeja itu, mengagumi keindahannya. Ia lalu mendekatkan kemejanya ke hidungnya, “waaaah aromanya harum sekali…”, ia menghirup aromanya dalam-dalam, “ini pasti lavender”.

Dengan sedikit bertanya-tanya, GD melirik Tae Yang, “lavender?”, lalu ia bangkit dan merebut kemejanya dari tangan Tae Yang, “coba kuhirup baunya”.

GD mencium aroma harum dari kemeja itu, harum yang tidak asing. Ia lalu menyadari, “Tae Yang hyung! Kau tau merk parfum apa ini??”.

“parfum apanya? Itu bukan parfum. Itu bau cairan pelicin, cairan yang biasanya disemprotkan ke pakaian ketika disetrika”, kata Tae Yang sang master bidang laundry dengan mantap.

Sesaat, GD hanya menimang-nimang kemeja itu di tangannya. Ia sedang berpikir.

“apa yang kau tunggu, GD hyung?”.

Tiba-tiba Seung Ri muncul di sampingnya lagi, “aisshh kenapa kau selalu muncul tiba-tiba??”, protes GD.

“aaah sudahlah. Jangan berpikir apa-apa lagi. Ayo cepat datangi dia”, kata Seung Ri.

“a.. apa yang kau bicarakan?”.

Aduuuh sudahlah cepat pergi temui dia!

GD menoleh, “kau! Penulis geje! Lebih baik diam saja!”.

Habis kalau tidak dipaksa seperti ini kau tidak kunjung pergi. Kalau kau tidak pergi, rusaklah narasi!  Ayo cepat pergi.

“ayo hyung! Cepat pergi!”, desak Seung Ri.

Apa yang kau tunggu, GD oppa??

“hei! Penulis geje dan Seung Ri! Kenapa kalian memaksaku seperti itu?? Jangan-jangan kalian bekerjasama di belakangku!”.

Penulis geje dan Seung Ri pun lirik-lirikan ala setan narsis, “kami sudah membuat perjanjian di belakang panggung. Yang penting kan honor tambahan, iya kan penulis??”.

Iya dong oppaaaaa. Sekarang untuk GD oppa, sudah ayo cepat pergi.

GD termenung, “haruskah aku pergi?”.

“harus!!”, jawab Tabi dan Dae Sung yang muncul tiba-tiba.

Aaaah oppadeul, kalian datang untuk membantu ya??

GD akhirnya memantapkan keputusan akhirnya, “baiklah, aku pergi!”, sambil menggenggam kancing baju itu, ia berlari menuju pintu dan pergi tanpa mengecek tatanan rambutnya terlebih dahulu.

Sementara itu, masih di kamar, semua oppadeul ikut bahagia melihat GD. Tapi wajah bertanya-tanya muncul di muka Dae Sung, “mana Tae Yang hyung?”.

“tuh”, Seung Ri menunjuk ke pojok kamar. Disana Tae Yang berjongkok dengan mengerikan, memeluk-meluk kemeja, menghirup-hirup aroma kemeja, dan mengagumi putih bersihnya.

Di rumah Sandara.

Layaknya remaja galau pada umumnya, Dara luntang-luntung gak jelas di sofa. Sambil sesekali melirik handphone-nya, kemudian luntang-luntung lagi. Kemudian panggilan Tuhan menyadarkannya: bel di pintu rumah berbunyi.

“iyaaa, sebentar”, teriaknya.

Begitu pintu dibuka, betapa terkejutnya ia melihat sosok yang berdiri di ambang pintu. Ia tak percaya pada apa yang dilihatnya, “oppa… ma, maksudku tuan, apa yang anda lakukan disini??”.

GD tak menjawab. Sesaat dia hanya diam. Ia lalu menarik nafas panjang, mengumpulkan keberanian untuk mengungkapan penjabaran panjang, “aku tau aku bukan pangeran dari istana kerajaan yang sedang mencari putri. Aku bahkan tidak datang kemari dengan menunggang kuda putih, ataupun berlari menerjang angin di tengah hujan deras, tapi aku hanya naik mobil yang biasa kukendarai ke sekolah. Aku kesini tidak membawa bunga mawar, maupun coklat dengan hiasan pita pink. Aku pun tidak membawa cincin dan aku juga tidak akan berlutut sambil menyerahkannya padamu. Aku adalah King Of Fashion, tapi aku bahkan tidak mengecek tatanan rambutku saat hendak pergi menemuimu. Kisah pertemuan kita pun tidak romantis dan tidak diawali dengan baik, tidak ada angin bertiup dan tidak ada musik yang mengalun ala film india. Aku juga tau kau bukan Cinderella yang meninggalkan sepatu kaca, berdansa dengan sang pangeran di pesta, dan pergi sebelum jam berdentang dua belas kali karena keindahanmu akan sirna. Tetapi kau adalah SANDARA PARK yang selalu salah masuk ke toilet pria, dan kau pergi bahkan sebelum pesta berlangsung lama, dan sebelum sempat berdansa dan menikmati malam bersama sang pangeran yang tidak pernah ada. Dan yang ku tau, meski lewat jam dua belas malam, KEINDAHANMU TAK AKAN SIRNA”, GD cukup sulit menghafal kata-kata yang panjang itu, “sekarang tujuanku kesini adalah…”

Dara menuggu jawaban dengan dagdigdugser, “adalah..?”.

Tiba-tiba GD meringis sambil memegang sekujur tubuhnya seolah-olah dia sedang sakit, “BI.. BISAKAH KAU BANTU MENGOBATIKU?? AKU… AKU BARU SAJA JATUH TADI…”.

Dara melongo, “aaaaah… memangnya kau habis jatuh dimana??”.

GD diam sebentar untuk efek dramatis, kemudian menjawab, “JATUH HATI KE PADAMU…”.

Mendengar itu, Dara membisu, dan GD bersumpah melihat pipi Dara jadi lebih merah daripada bata, “te.. terima kasih…”, ucapnya.

GD tersenyum, “aaah kelihatannya aku perlu mengembalikan ini padamu”.

“apa?”.

“bukan sepatu kaca”, jawabnya, kemudian menyerahkan sesuatu, “kancing ini pasti jatuh ketika kita berkelahi di toilet”.

“aaaah kau menemukannya”, kata Dara girang, “dengan begini aku bisa membetulkan dan mengembalikan pakaian itu!”. Tentu saja harus dikembalikan. Gue bisa dibunuh ama manager 2ne1 kalo gak balikin itu property.

“mwo? Pakaian itu pinjaman?”.

Dara menyipitkan mata, “tentu saja. Aku kan bukan Ratu Fashion”, Dara berhenti sebentar, “tapi aku berharap bisa menjadi Ratu Di Hatimu…”

Sekarang ganti GD yang memerah dagdigdugser.

“ngomong-ngomong… bagaimana kau tau kalau yeoja yang berkelahi denganmu di pesta itu adalah aku?”.

“tentu saja aku tau” jawab GD, “kau kan selalu salah masuk toilet”.

“iiiih jawab dengan benar!”, Dara manyun.

“iya iya. Hehe. Aku tau dari kemeja yang kau kembalikan padaku, kau ternyata menggunakan pelicin beraroma lavender untuk menyetrikanya kan? Nah, aroma lavender itu pula yang selalu kuingat dari yeoja yang berkelahi denganku di toilet”.

Dara jadi sedikit malu, “oh begitu”.

Kemudian, lagi-lagi canggung. Mereka sama-sama tidak tau apa yang harus dikatakan. Dasar anak muda labil!

“jadi…” GD memulai, “aku pergi dulu”, atau mungkin mengakhiri.

“mwo? Oppa sudah mau pergi?”.

GD berbalik dan melihat Sandara tepat di matanya, “oppa, kau bilang?”.

“tidak suka?”.

“tak apalah. Ngomong-ngomong… nnggg..”.

“ngomong-ngomong..?”.

“kau ada waktu…?”.

“minggu nanti??”.

“ne, ne, minggu nanti. Kau punya waktu untuk…”

“makan siang??”.

“ya! Makan siang. Makan siang. Ini adalah…”

“kencan?”.

“ya, kencan. MA.. MAKSUDKU BUKAN! Ini bukan kencan, ini hanya…”

Dara tersenyum melihat GD salting di depannya.

“baiklah! Kau menang. Ini memang kencan”, jawab GD.

“yeeee. Perlukah aku pakai sepatu kaca??”.

“tak perlu. Pakai saja sepatu murah yang biasa kau pakai ke sekolah”.

“jahat sekali”.

“tentu saja. Oh iya, jangan lupa. Nanti malam ada shift mu bekerja”.

“mwo??”, Dara terkejut, “nanti malam tidak ada shift-ku bekerja, iya kan? Hei oppa, tunggu oppa! Jippaaaa!”.

Tapi GD sudah berbalik dan meninggalkan Dara. Sambil menyembunyikan senyumnya yang berbunga-bunga. Dalam perjalanan pulang, GD yakin bahwa langit tak pernah serendah itu untuk diraihnya, sehingga ia bisa terbang dengan bebas di awan.

THE END

***********

Ayo Jangan lupa RCL! DON’T be a SILENT READER!

Shared here by hope

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s