If You Love Me More # Part 4

Standar

If You Love Me More

 

Author             : DM

Cast                 : Lee Donghae

Shin Min Ran

Kim Jong Woon

Cho Eun So

Super Junior Member

Genre              : Romance

Length             : 4/?

 

Annyeong readers~~~

Adakah yang menunggu FF ini???

WARNING !!!

Ceritanya tambah gaje n typo masih bertebaran….

Jangan lupa RCL yaa….

 

Happy reading~~~

Flashback part 3

“Nde?” tanya Min Ran karena tak mendengar ucapan Eunhyuk. Eunhyuk cepat-cepat menelan makanannya. Aku harap Eunhyuk tidak mengulangi pertanyaan bodohnya itu.

“Apa kau punya namjachingu?” tanyanya lagi. Min Ran terlihat kikuk. Aku menunduk dan berusaha agar tak mendengar jawabannya.

 

Next part….

 

Donghae pov

 

“Ani oppa. Aku tak memiliki namjachingu” jawab Min Ran pelan. Jawabannya seperti sebuah percikan cahaya yang menerangi sisi yang gelap. Ada sebuah harapan yang muncul. Harapan yang akan menjadi sebuah kesempatan dan kenyataan.

“Jinja?” tanya Eunhyuk atunsias. Kini aku mengangkat kepalaku untuk melihat Min Ran. Min Ran hanya menjawab pertanyaan Eunhyuk dengan sebuah anggukan.

“Bagaimana kalau aku menjadi namja chingumu, apa kau mau?” tanyanya cengegesan.

“MWORAGO???” tanyaku dan Min Ran bersamaan. Kami sama-sama kaget mendengar pertanyaan Eunhyuk. Aish, apa-apaan dia? Bukankah dia tahu kalau aku menyukai Min Ran? Kenapa malah dia menembak Min Ran? Aish, dasar pagar makan tanaman, umpatku kesal.

“Hahaha…kalian lucu sekali. Yak! Hae-ah, kenapa kau kaget seperti itu? aku kan masih normal, wajar saja kalau aku menyukai Min Ran” ucapnya yang membuatku geram. Aku mencoba menahan emosiku dan aku tumpahkan (?) semua emosiku nanti di dorm. Awas saja kau LEE HYUKJAE.

“Oppa, kenapa oppa berbicara sepeti itu?” tanya Min Ran yang sudah kembali normal.

“Kau kan single, aku juga begitu. Bagaimana kalau kita menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih?” tanyanya yang membuatku muak mendengarnya. Kau benar-benar keterlaluan hyuk. Dasar monyet, otak yadong.

“Mianhae oppa. Tapi aku sedang tak ingin menjalin hubungan seperti itu” jawab Min Ran datar. Hahaha, rasakan kau hyukjae. Ingin rasanya aku tertawa sekeras-kerasnya melihat wajah Eunhyuk yang kecewa.

“Ah, begitu. Aku lupa kalau kami harus menjaga Yesung hyung. Kami pulang dulu Ranie” ucapnya buru-buru. Jadi begini jika cinta ditolak? Hahaha, kasihan sekali. Malangnya nasibmu.

“Oppa marah?” tanya Min Ran dengan nada bersalah.

“Ani. Aku hanya mengetesmu tadi. Sebenarnya ada seorang namja yang sangat menyukaimu” jawab Eunhyuk santai. Mengetes? Memangnya pernyataan cinta hanya untuk pengetesan saja? Apa yang dia bilang barusan? Ada seorang namja yang menyukai Min Ran? Siapa yang dia maksud? Bukannya yang menyukai Min Ran dan yang Eunhyuk tahu itu aku. Apa dia mencoba untuk membongkar rahasiaku? Aish, bagaimana ini?

“Nugu oppa?” tanya Min Ran bingung.

“Kau akan tahu nanti. Hae-ah, kajja kita pulang” ajaknya. Lebih baik aku pulang dari pada Eunhyuk semakin bicara yang tidak-tidak.

“Ranie, kita pulang dulu” pamitku pada Ranie. Dia hanya tersenyum dan mengantarkan kami sampai di depan pintu apartemennya.

“Ne. Gomawo oppa sudah berkunjung kesini. Lain kali, datanglah kesini lagi” ucapnya. Aku hanya mengangguk dan segera meninggalkan apartemen mewah itu.

***

“Ya! Ya! Kau ingin membuatku mati?” teriak Eunhyuk yang duduk di sampingku. Aku tak menghiraukan teriakannya dan tetap mengemudi dengan kecepatan diatas normal.

“Hentikan Hae-ah. Aku tak ingin mati. Aku masih belum menikah” ucapnya memelas. Aku mengerem mendadak dan menyebabkan tubuh kurusnya terpelanting ke depan. Dia mengelus dadanya dan bernapas lega.

“Kau kenapa? Kau itu belum bisa menyetir dengan baik. Jangan ngebut seperti itu? kau pikir kau sedang balapan sekarang? dan kau pikir kendaraan-kendaraan itu hanya semut yang tak terlihat?” rutuknya panjang lebar. Aku memukul setir karena emosi yang tak tercurahkan (?).

“Ya! Ya! Kau itu kenapa? Kenapa jadi emosi seperti ini?” tanyanya. Aku menatapnya dengan tatapan yang penuh emosi. Dia memundurkan badannya hingga kepalanya terbentur kaca mobil.

“Apa-apaan kau hah? Kenapa bicara seperti itu pada Min Ran? Kau lupa yang ku katakan tadi malam padamu?” tanyaku emosi. Dia tersenyum dan sedetik kemudian tawanya pecah. Benar-benar menyebalkan.

“Hahaha,,,kau cemburu? Kau pikir aku benar-benar menyukainya?” tanyanya yang membuatku mengerutkan kening. Apa maksudnya? Apa dia tidak menyukai Min Ran?

“Aku hanya ingin mengetahui apakah dia sudah memiliki namja chingu apa tidak. Dan ternyata pesonaku yang tampan ini tak mampu menariknya. Ku rasa kau punya kesempatan yang baik Hae-ah” ucapnya lagi. Apa benar begitu? Jadi dia benar-benar tidak menyukai Min Ran? Aku langsung memeluknya erat.

“Uhuk,,uhuk… Ya! Kenapa kau hoby sekali ingin membuatku mati? Kalau aku mati, siapa yang akan menjadi couplemu? Tak ada manusia sebaik, setampan dan semanis aku yang mau menjadi couple manusia ikan sepertimu” aku menjitak kepalanya dan melepas pelukanku.

“Ya! Kau itu aneh sekali. Apa kau sudah bosan hidup? Makanya ingin membunuhku supaya ikut mati bersamamu” decaknya kesal.

“Hyukie-ah, gomawo. Mianhae, aku benar-benar emosi. Aku kira kau itu seperti pagar makan tanaman. Ternyata aku salah” ucapku penuh penyesalan. Tak seharusnya aku marah-marah padanya. Seharusnya aku bertanya baik-baik padanya. Toh, jika dia juga menyukai Min Ran, apa hakku? Min Ran kan bukan yeoja chinguku. Jadi pantas saja jika dia menyukai dan menjalin hubungan dengan namja mana saja. Eunhyuk menepuk pundakku pelan.

“Gwenchana. Sekarang kau tahu kan apa yang harus kau lakukan? Katakanlah yang sebenarnya” ucap Eunhyuk dan tersenyum padaku. Dia benar-benar namja yang baik hati. Aku beruntung memiliki couple seperti dia.

“Aku akan menunggu waktu yang tepat. Pasti Min Ran akan kaget jika aku memberitahunya dalam waktu dekat ini. kami kan baru kenal. Lagian, aku masih ingin melakukan pendekatan padanya” jawabku yang mendapat anggukan dari Eunhyuk.

“Kajja kita pulang. ah, sebaiknya aku saja yang menyetir. Aku tak ingin mati muda” ucapnya dan langsung mendapat jitakan dariku. Enak saja dia bicara seperti itu. Apa iya, kemampuan menyetirku seburuk itu? Dia keluar dari mobil dan menarikku supaya keluar. Dengan malas aku berganti posisi dengan Eunhyuk. Kini dia tengah menyetir dan membawaku kembali ke dorm.

 

Donghae pov end

 

 

Min Ran pov

 

Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa aku sadari, sudah hampir satu tahun aku berada di Seoul. Aku membuka bisnis coffee shop. Entah mengapa, aku ingin membuka usaha sendiri. Sebenarnya appa menyuruhku untuk tinggal di Taiwan dan meneruskan perusahaannya. Tapi aku lebih memilih tinggal di Seoul dengan usahaku sendiri. Ya, walaupun penghasilannya tidak sebesar penghasilan jika bekerja di perusahaan, tapi aku cukup menikmati pekerjaanku ini. Aku lebih senang memanage diriku sendiri daripada seseorang mamanage ku. Jika aku bekerja di sebuah perusahaan, otomatis aku akan menjadi bawahan dan harus mematuhi segala perintah atasan. Aku paling tidak suka akan hal seperti itu. menurutku, hal seperti itu hanya akan mengunci kreativitasku. Aku tidak bisa melakukan apa yang aku mau. Aku melirik jam tangan perak yang melingkar manis di tangan kiriku.

“Sudah jam sembilan malam” gumamku. Aku segera membereskan pekerjaanku. Semua pelayan telah kembali pulang. Hari ini coffee shop ku yang ku beri nama “ga-eul” yang berarti musim gugur -entahlah, darimana datangnya ide memberi nama itu. aku sangat menyukai musim gugur, akhirnya nama itu terpilih begitu saja- ditutup lebih awal karena ini adalah hari minggu. Aku menghela napas panjang setelah pekerjaanku selesai ku bereskan. Aku pun bergegas keluar. Ku lihat sebuah mobil baru saja berhenti di depan coffee shopku. Seorang namja keluar dari mobil dan mendekatiku yang tengah berdiri di depan pintu.

“Mianhamnida tuan. Kami sudah tutup satu jam yang lalu” ucapku sopan padanya. Tiba-tiba aku merasa tanganku diseret oleh seseorang. Ya, seorang namja yang baru saja aku sapa menarikku, aniyo, lebih tepatnya menyeretku masuk ke dalam mobilnya.

“Ya! Kau mau apa? Turunkan aku disini” teriakku saat mobil mulai melaju dengan kencang. Namja dengan masker, kacamata hitam dan topi ini pasti seorang penculik. Dia tidak ingin aku melihat wajahnya. Makanya dia menyamar seperti itu. Ottokhe? Eomma, appa, tolong selamatkan putri tunggalmu ini. Ya Tuhan, kenapa harus aku? Apa namja ini tak menemukan yeoja lain untuk diculik? Kyaaa~~~~ ottokhe? Aku mengambil ancang-ancang untuk melompat keluar.

“Ya! Turunkan aku sekarang atau aku akan melompat” aku sedikit membentaknya. Dia tidak akan membiarkanku melompat beneran kan? Mana mungkin dia membiarkan yeoja cantik dan manis sepertiku mengalami luka-luka saat tubuh cantikku ini bersentuhan dengan jalanan. Tapi ternyata aku tak berhasil. Namja sialan ini semakin mempercepat laju mobilnya. Aku pun bersiap-siap untuk melompat keluar. Tapi sebuah tangan menarikku. Namja sialan itu telah membuka penyamarannya. Aku membulatkan mataku tak percaya saat melihat siapa yang aku sangka seorang penculik ini.

“Oppa~” seruku. Dia tersenyum, tapi pandangannya tetap fokus pada jalanan di depan. Tangannya yang sempat menahan tanganku tadi sudah kembali memegang setir mobil.

***

Kami duduk dalam diam menghadap sungai Han yang terbentang luas di depan. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami. Dinginnya malam ini begitu menusuk hingga ke dalam hatiku. Ada perasaan campur aduk dalam hatiku. Perasaan yang tak mampu aku jelaskan karena aku juga tak mengerti apa yang sedang aku rasakan.

“Kau…” / “Oppa,,,” kami bersamaan mengeluarkan suara. Aku jadi salah tingkah.

“Oppa mau bicara apa? Oppa duluan saja” ucapku memberinya kesempatan untuk berbicara.

“Ani, kau saja dulu” ucapnya. Mau tak mau aku memulai pembicaraan. Daripada aku mati bosan disini.

“Kenapa oppa mengajakku kesini?” tanyaku hati-hati. Aku tak ingin dia tersinggung atas pertanyaanku karena aku tahu pasti dia memiliki tujuan tertentu.

“Hhmm,,,aku hanya ingin menghirup udara segar saja. Ku lihat tadi kau baru keluar dari ga-eul. Ya sudah, aku mengajakmu kesini. Lagi pula aku tidak ada teman” jawabnya.

“Mengajakku? Lebih tepatnya kau itu memaksaku dan menyeretku oppa” balasku kesal. Dia terkekeh. Dia terlihat sangat manis. Omo~ kenapa kau sangat menggemaskan oppa?

“Kenapa memandangku seperti itu? jangan-jangan kau terpesona oleh ketampananku ya?” dia menertawakanku sekarang. aish, kenapa dia bisa tahu kalau aku menatapnya? Membuatku malu saja.

“Ya, oppa itu PD sekali. Oppa tu tidak tampan. Masih ada yang lebih tampan dan manis dari oppa” ucapku. Dia menoleh ke arahku. Matanya membulat sempurna.

“Nugu?” tanyanya. Wajahnya sangat lucu saat terkejut seperti itu.

“Nae appa” jawabku santai.

PLETAk

Dia menjitak kepalaku. Aish, apa-apaan dia itu.

“Ya! Kenapa kau menjitakku oppa?” tanyaku kesal. Dia malah tertawa terbahak-bahak.

“Tetap saja aku lebih manis dan tampan. Appamu kan sudah tua. Sedangkan aku masih muda dan masih segar(?)” ucapnya. Segar? Memangnya oppa sayuran, daging atau buah yang baru saja dibeli dari supermarket? Ada-ada saja.

“Ya! Oppa memang segar. Seperti ikan yang baru saja ditangkap nelayan” aku pun berlari menghindarinya. Kalau tidak, pasti aku akan mendapatkan jitakan yang kedua.

“Ya! Ranie,,,jangan lari kau” ku lihat dia bangkit dari tempat duduknya dan mengejarku. Aku semakin mempercepat langkah kakiku. Bisa bahaya jika dia menangkapku. Lagi-lagi sial, aku tak bisa berlari terlalu lama. Jangtungku tidak begitu kuat dan akhirnya dia bisa menangkapku.

“Akhirnya kau tak bisa menghindar lagi” ucapnya. Aku memohon padanya agar tidak menjitakku lagi dengan kedua tanganku. Aku tidak bisa bicara karena masih mengatur napas dan detak jantungku agar kembali normal.

“Gwenchana?” tanyanya dan melihatku yang tertunduk lesu. Aku hanya mengangguk. Ku rasakan ada tangan yang merangkul pundakku. Dia menuntunku kembali ke tempat yang kita tempati tadi. Kini detak jantungku kembali normal begitupun napasku.

“Kau kenapa?” tanyanya khawatir. Ya, aku bisa melihat dari matanya yang nampak khawatir padaku.

“Jantungku tidak terlalu sehat oppa. Aku akan cepat kelelahan jika berlari” jawabku pelan.

“Mianhae, aku tak tahu. Kenapa kau malah berlari tadi? Apa kau tak sadar apa yang akan menimpamu?” tanyanya. Aku hanya tersenyum. Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku senang dia mengkhawatirkan diriku. Aku senang dia peduli padaku.

“Bagaimana usahamu?”

“Berjalan sangat baik oppa. Aku sangat senang. Akhirnya aku bisa menjalani bisnisku sendiri” jawabku bangga. Semua orang sangat menyayangkan saat aku memilih membuka usaha coffee shop karena aku lulusan Oxford dan juga lulusan terbaik.

“Kenapa harus jauh-jauh ke Oxford kalau hanya ingin membuka bisini coffee shop?” ejeknya. Aku mengembungkan pipiku karena kesal. Seenaknya saja dia mengejekku. Aku kuliah di Oxford untuk mendapatkan ilmu yang akan ku gunakan untuk membuka usaha. Setidaknya aku bisa tahu bagaimana caranya memanage sebuah usaha.

“Setidaknya ilmuku lebih banyak dari pada ilmu yang kau kuasai oppa” balasku.

PLETAK

Lagi-lagi dia menjitak kepalaku.

“Ya! Oppa selalu saja menjitak kepalaku seenaknya” ucapku emosi. Dia pikir kepalaku ini batu? Yang tak akan merasa kesakitan saat dijitak oleh tangannya itu.

“Kau selalu bicara seenakmu. Makanya aku menjitakmu” jawabnya santai. Siapa yang bicara seenaknya duluan? Benar-benar menyebalkan.

“Aku kan bicara kenyataan oppa. Aku jujur apa adanya” jawabku. Dia kembali ingin menjitak kepalaku, tapi aku telah melindungi kepalaku dengan kedua tanganku. Haha, kali ini kau tidak akan bisa menjitak kepalaku lagi oppa.

CUP~~~

Ku rasakan sesuatu menempel lembut di pipiku. Aku membulatkan mataku dan menyentuh pipi kiriku.

“Saranghae” bisiknya. Belum hilang kekagetanku, kini aku semakin kaget dengan ucapannya. Apa aku sedang bermimpi? Ani, pasti ini hanya mimpi. Ya, ini pasti hanya mimpi dan sebentar lagi aku akan terbangun.

 

TBC….. Jangan lupa RCL…

Kira-kira siapa ya namja itu??

Ayo readers….tebak……

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s