If You Love Me More # Part 5

Standar

If You Love Me More

 

Author             : DM

Cast                 : Lee Donghae

Shin Min Ran

Kim Jong Woon

Cho Eun So

Super Junior Member

Genre              : Romance

Length             : 5/?

 

Adakah yang penasaran akan sosok seorang namja di part 4?

Adakah yang tahu,,siapa namja itu??

Dari pada banyak ngomong,,langsung saja temukan jawabannya di part ini…

Jangan lupa RCL….

Hati-hati, typo masih bertebaran…

 

Happy Reading~~~

Flashback part 4

“Saranghae” bisiknya. Belum hilang kekagetanku, kini aku semakin kaget dengan ucapannya. Apa aku sedang bermimpi? Ani, pasti ini hanya mimpi. Ya, ini pasti hanya mimpi dan sebentar lagi aku akan terbangun.

 

Next part…..

 

Author pov

 

Min Ran masih tertegun atas apa yang baru saja terjadi. Dia masih tidak percaya akan apa yang didengarnya. Namja yang duduk di sampingnya terlihat bingung. Dia merasa bersalah atas apa yang dilakukannya baru saja. Dia juga tidak tahu kenapa berbuat begitu. Sesuatu hal di luar dugaannya. Sesuatu yang ingin sekali dilakukannya, tetapi dalam keadaan sadar. Bukan dalam keadaan seperti ini.

“Mianhae, aku tak bermaksud seperti itu” namja itu meminta maaf. Min Ran menoleh ke samping kirinya. Seorang namja yang manis dan tampan tengah duduk di sampingnya.

“Berarti aku tidak bermimpi. Apa yang aku rasakan baru saja itu benar-benar kenyataan? Ani, ini tidak boleh terjadi. Andwe!” pikirnya. Min Ran menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia berharap apa yang baru saja terjadi hanya sebuah mimpi, meskipun dia sangat menginginkannya.

“Oppa, apa…maksud…oppa ber..buat..seper..ti itu?” tanya Min Ran gugup. Apa yang terjadi dengan namja di sampingnya itu hingga berbuat seperti itu. Dia benar-benar bingung.

“Aku menyukaimu” jawab namja itu. Min Ran kembali terkejut. Untung saja dia tidak mati jantungan gara-gara terkejut terus sejak tadi.

“Ya! Pantas saja oppa. Aku kan sudah seperti dongsaengmu sendiri” jawab Min Ran kikuk. Dia meyakinkan dirinya bahwa ini hanya kebetulan dan bukan sebuah harapan apalagi kesempatan.

“Ani, aku benar-benar menyukaimu. Seperti seorang namja yang menyukai seorang yeoja. Bukan seorang oppa terhadap yeodongsaengnya” ucapnya tegas. Min Ran berdiri dan menatap namja itu lekat-lekat.

“Ini tidak boleh terjadi oppa. Kau sudah memilikinya. Aku tak ingin menjadi orang ketiga. Ya, ini tidak boleh terjadi. Andwe!” balas Min Ran dan langsung berlari meninggalkan tempat itu.

Tapi namja itu berhasil menahan tangan Min Ran dan membalikkan tubuh Min Ran agar menghadap padanya.

“Kau tak pernah menjadi orang ketiga. Aku memang menyukaimu. Aku mendekatinya karena ingin memperoleh informasi mengenai dirimu. Tapi dia salah paham akan kedekatan dan kebaikanku selama ini. aku menyadari kalau aku benar-benar menyukaimu Ranie. Ku mohon, tunggulah beberapa saat lagi. Aku akan menyelesaikan masalahku dengannya” namja itu meyakinkan Min Ran. Hampir saja Min Ran mengangguk, menyetujui ucapan namja yang kini hanya berjarak beberapa centi di depannya. Tapi, pikiran untuk menyutujui ucapan konyol namja itu segera ditepisnya.

“ANDWE! Ini tidak benar oppa. ANDWE!!!” Min Ran menghempaskan tangan namja itu dan kembali berlari menjauh dari namja yang sedikit terhenyak dengan jawaban Min Ran.

Namja itu berlari mengejar Min Ran, tapi Min Ran terlebih dulu masuk ke dalam taxi. Namja itu berlari ke arah mobilnya dan meninggalkan sungai Han yang nampak indah dengan terpaan sinar bulan malam ini.

 

Author pov end

 

Yesung pov

 

Sudah satu minggu setelah kejadian malam itu kami tak lagi berkomunikasi. Pasti dia sangat marah padaku. Dia sangat dekat dengan member yang lain. Dia sering datang ke dorm dan membawakan kami makanan. semua member menyayanginya. Mereka menganggap Min Ran seperti yeodongsaeng sendiri. Aku sangat merasa bersalah atas apa yang aku lakukan padanya. Aku mendatangi coffee shopnya, tapi dia tidak ada disana. Salah seorang pelayan mengatakan bahwa Min Ran sedang mengambil cuti. Aku mendatangi apartemennya dan dia tetap tidak ada. Aku menghubungi Eun Soo, tapi Eun Soo juga tidak tahu. Aku harus mencarinya kemana lagi?

Ddrrrttt…..dddrrrttt….

Ponselku bergetar. ku harap telepon dari Min Ran, aku segera merogoh saku celanaku dan menyentuh layar ponselku. ah, ternyata dari eomma.

“Yeoboseyo”

“…..”

“Ada apa eomma?”

“……”

“Ah ne, aku akan segera kesana”

“…….”

“Ne eomma. Annyeong~”

Aku segera ke Handel n Gretel. Eomma bilang ingin membicarakan sesuatu denganku. Entah apa itu, untung saja aku tidak ada jadwal, sehingga aku bisa memenuhi panggilan eommaku itu dengan cepat.

***

Kini aku telah sampai di Hendel n Gretel. Aku langsung menghampiri eomma yang sedang sibuk di belakang.

“Eomma~” panggilku. Yeoja paruh baya yang sangat berarti itu menoleh dan tersenyum. Rasanya sangat senang bisa melihat senyumnya. Aku akan melakukan apapun agar senyuman itu selalu mengembang di wajah cantiknya yang sedikit demi sedikit mulai keriput.

“Jong Woon-ah, kau sudah datang? kajja” eomma mengajakku ke suatu tempat yang lumayan sepi dari pengunjung. Aku duduk tepat di depan eomma.

“Eomma ingin membicarakan apa? Apa sangat penting?” tanyaku penasaran. Tidak biasanya eomma menghubungi dan memintaku cepat datang kesini.

“Eomma ingin kau melamar Eun Soo. Kalian kan sudah sekitar setahun berpacaran” ucap eomma. Aku membulatkan mataku. Masalahku dengan Min Ran belum selesai dan aku harus melamar Eun Soo? Apa-apaan ini? apa ini sebuah karma karena aku mempermainkan perasaan dua orang yeoja?

“Tapi eomma…..” aku mencoba menolak. Tapi eomma segera memotong ucapanku.

“Eomma mohon kali ini turuti keinginan eomma. Dia yeoja yang baik dan juga sangat mencintaimu. Eomma hanya ingin kau mendapatkan yeoja yang benar-benar mencintaimu” ucap eomma dengan mata yang berkaca-kaca. Aku tak bisa mengatakan apa-apa. Aku tidak ingin melihatnya menangis karenaku. Bagaimanapun juga, kebahagiaan keluarga, terutama eomma jauh lebih penting dari pada kebahagiaanku sendiri. Sebesar apapun usahaku membahagiakan eomma, tak akan pernah sebanding dengan apa yang eomma lakukan dan berikan padaku.

“Baiklah. Aku akan melakukan apa yang eomma inginkan” ucapku. Meskipun ada perasaan tidak ingin, aku yakin kalau ini yang terbaik untukku. Kepergian Min Ran mungkin sebagai tanda bahwa aku dan dia memang tidak ditakdirkan bersama dan aku harus menerima kenyataan bahwa aku harus menerima dan harus benar-benar mencintai Eun Soo dengan sepenuh hati.

“Gomawo Jong Woon-ah. Kau memang anak yang berbakti” ucap eomma dan mencium keningku. Aku langsung memeluknya. Ku harap aku benar-benar melakukan yang terbaik untuk eomma.

“Eomma, aku kembali ke dorm dulu” ucapku dan mengendorkan pelukanku.

“Ne. Besok malam eomma akan mengundang keluarga Eun Soo. Pastikan kau datang, arra?” ucap eomma. Aku hanya mengangguk dan memaksakan diri untuk tersenyum. Aku segera meninggalkan Hendel n Gretel dan menuju ke sebuah tempat untuk menenangkan diriku sejenak.

“Aku benar-benar harus melupakan Min Ran. Semuanya sudah diatur sedemikian rupa. Aku akan memulai hidupku tanpa bayang-bayang Min Ran lagi. Ku harap aku bisa meskipun aku baru menyadari perasaanku ini. Perasaan yang ternyata sudah tiga tahun mengisi relung hatiku. Awalnya aku rasa hanya sebuah rasa suka, tapi ternyata aku salah.  Rasa suka yang tumbuh menjadi cinta dan yang harus aku matikan dengan tanganku sendiri” aku berteriak keras melepaskan semua kekesalanku. Menyesali kebodohanku yang jatuh ke dalam kesalahan yang sama dan lebih besar.

“Ranie-ya, seandainya kau menerimaku saat itu, aku akan segera mengatakan pada Eun Soo apa yang aku rasakan sebenarnya. Tapi kau malah menghindariku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? haruskah aku menyerah?” teriakku pada laut lepas di depanku. Teriakanku melebur menjadi satu dengan suara ombak yang bergemuruh. Tubuhku terhempas ke pasir putih pantai ini. air mataku perlahan mengalir dan semakin deras, seperti hujan yang biasa mengguyur bumi ini. Tapi tentu saja ini berbeda karena apa yang aku rasakan ini jauh lebih sakit daripada apapun.

 

Min Ran pov

 

Sudah seminggu aku berada di Taiwan. Aku pergi secara mendadak. Appa menghubungiku dan memberitahu kalau eomma sedang sakit. Tanpa pikir panjang, aku segera berangkat ke Taiwan. Aku bahkan tak sempat pamit dengan siapa pun. Setidaknya aku bisa menenagkan diriku disini setelah kejadian yang tak pernah ku duga itu terjadi. Ku harap dia tidak merasa bahwa aku menghindar darinya. Ku harap dia bisa mengerti apa yang aku rasakan.

“Mianhae oppa, aku tidak pernah jujur padamu. Mianhae telah berbohong mengenai perasaanku padamu. Ku harap kau bisa mengerti. Semua ini juga untuk kebaikanmu” gumamku dan merapatkan mantelku. Kini aku tengah berjalan-jalan di negara yang berkembang pesat di dunia ini. Suasana disini sangat menyenangkan. Sepertinya aku betah tinggal disini. Aku terus berjalan dan tanpa sadar menabrak seseorang. Aish, paboya.

“I’m sorry” ucapku. Aku tak bisa berbahasa mandarin. Dan lebih bodohnya lagi aku menolak ucapan appa yang menyuruhku pergi bersama Song ajhussi. Apa yang akan ku katakan jika bertanya atau berbicara sesuatu padaku? Apa aku harus kabur? Aish, tidak mungkin. Ottokhe? Aku sibuk dengan pikiranku sendiri hingga suara seseorang yang aku kenali membuyarkan lamunanku.

“Ranie~” panggilnya. Aku mengangkat kepalaku dan melihat seorang namja manis dan tampan tengah menatapku. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku meyakinkan diriku bahwa aku tak salah lihat.

“Kenapa kau disini? Kau sedang liburan?” tanyanya. Aku benar-benar tak salah lihat. Tapi, kenapa dia ada disini? Apa dia berlibur? Atau ada jadwal disini? Jika dia disini, berarti ada member yang lain juga? dan otomatis ada dirinya. Ah,,,ottokhe? Aku sedang tak ingin bertemu dengannya.

“Kenapa kau diam saja?” tanyanya lagi. Aku menghela napas panjang dan menatapnya.

“Kenapa oppa ada disini?” tanyaku tanpa memperdulikan pertanyaannya. Aku tak ingin bertemu dengan yang lain.

“Ya! Kenapa kau malah balik bertanya?” tanyanya. Aku hanya tersenyum gaje ke arahnya. Dia menarik tanganku dan mengajakku ke sebuah restoran, sekadar ngobrol dan minum sesuatu yang hangat untuk menghangatkan badanku ini.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau ada disini?” tanyanya kembali. Aku menyeruput hot chocolateku dan menatapnya.

“Oppa masih ingat ceritaku tentang keluargaku yang tinggal di Taiwan kan? Seminggu yang lalu, appa menghubungiku. Eomma jatuh sakit dan aku segera berangkat kesini” jawabku. Dia hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

“Oppa sendiri, kenapa ada disini?”

“Suju M sedang ada jadwal disini. Sudah dua bulanan aku dan member suju M berada disini”

“Kenapa oppa berada disini? Memangnya sekarang sedang tak ada jadwal?”

“Kebetulan tidak ada. Aku hanya ingin jalan-jalan sebantar. Tak tahunya aku bertemu denganmu. Sudah lama sekali rasanya kita tak bertemu. Selain aku sibuk dengan jadwalku, kau sibuk dengan usahamu. Apalagi aku berada di Taiwan untuk beberapa waktu. Bagaimana keadaan di Korea? Apa ada sesuatu yang terjadi saat aku pergi?”

DEG!!!

Tiba-tiba jantungku berdetak lebih cepat. Aku teringat kembali kejadian satu minggu lalu. Kenapa aku harus kembali mengingat kejadian itu? Benar-benar menyebalkan.

“Ranie, gwenchana? Kenapa wajahmu menjadi pucat? Apa kau sedang tak enak badan? Atau apa memang terjadi sesuatu di Korea?” tanyanya lagi dengan tatapan penuh kekhawatiran.

“Ani oppa. Na gwenchana. Tidak ada kejadian apa-apa. Aku hanya teringat eomma. Aku pulang dulu oppa” pamitku. Lebih baik, aku pulang saja. Pikiranku sedang tak normal sekarang.

“Chankamman! Aku ikut” ucapnya dan menghampiriku yang berdiri tak jauh darinya. Kami berdua menuju rumah sakit tempat eomma dirawat. Dokter bilang eomma mengalami infeksi lambung. Sudah seminggu lebih eomma dirawat disini dan kemungkinan besok sudah boleh pulang ke rumah. Aku membuka pintu bertuliskan 89 itu dengan perlahan. Seorang yeoja paruh baya sedang berbaring di ranjang putih dengan selang infus di tangan kirinya.

“Ranie, kau sudah datang? Nugu?” tanyanya dan menunjuk Donghae oppa yang berdiri tak jauh dariku. Aku menghampiri eomma dan disusul oleh Donghae oppa.

“Dia temanku di Korea eomma. Namanya Lee Donghae” aku memperkenalkan Donghae oppa pada eomma. Eomma tersenyum manis pada Donghae oppa.

“Annyeong ajhumma. Lee Donghae imnida” ucap Donghae oppa mengenalkan diri dan membungkukkan badannya.

“Annyeong Donghae-ssi. Sepertinya wajahmu tidak asing. Kau seperti artis yang sedang naik daun” ucap eomma sambil berpikir. Mungkin eomma sedang mengingat-ingat wajah Donghae oppa.

“Eomma benar, dia adalah seorang artis. Dia member boy band Korea yang sangat terkenal itu” balasku. Ku lihat Donghae oppa mengelus bagian belakang lehernya. Dia terlihat malu aku memuji super junior.

“Wah, ternyata kau lebih manis dan tampan dibandingkan di layar TV. Ranie, kau beruntung sekali bisa berteman dengan namja seperti dia. Kalau kau menjadi menantuku, pasti cucu-cucuku nantinya akan manis dan tampan seperti mu. Aigo~ kau benar-benar menggemaskan” aku melongo mendengar kata-kata eomma. Apa aku tidak salah dengar? Menantu? Ku lirik Donghae oppa sekilas. Wajahnya merona. Semburat malu di kedua pipinya terlihat sangat jelas.

“Eomma, jangan bicara yang tidak-tidak. Jangan membuatku malu” ucapku pada eomma.

“Eomma kan hanya mengutarakan isi hati eomma saja. Lagian, kalian terlihat terasi” tambah eomma. Ingin rasanya aku lenyap dari ruangan ini. sehingga tak perlu malu jika bertemu dengan Donghae oppa.

“Ajhumma terlalu memuji” Donghae oppa akhirnya angkat suara? Mwo? Apa yang barusan dia katakan? Eomma dan Donghae oppa ini sama saja. Lebih baik aku meninggalkan mereka berdua. Sepertinya mereka akan cepat akrab.

“Ya! Kau mau kemana?” tanya eomma saat aku perlahan-lahan meninggalkan mereka.

“Aku hanya ingin ke ruangan dokter sebentar eomma. Ingin menanyakan keadaan eomma. Aku tidak lama” ucapku dan langsung keluar sebelum eomma berbicara lagi. Akhirnya bisa keluar juga. Aku berbincang-bincang dengan dokter yang menangani eomma. Dokter bilang eomma boleh pulang dan harus menjaga kondisi badannya. Dan harus makan dengan teratur dan makan makanan yang benar-benar bergizi dan higienis. Aku segera kembali ke ruangan eomma. Aku tak ingin eomma khawatir jika aku terlalu lama meninggalkannya. Saat aku buka pintu kamar rawat eomma, aku tak menemukan Donghae oppa. Apa dia sudah pulang? entahlah. Aku mendekati eomma dan duduk di tepi ranjangnya.

“Dokter bilang eomma sudah boleh pulang” ucapku senang. Akhirnya eomma pulang juga ke rumah.

“Donghae tadi mendapat telepon dari managernya. Katanya mereka akan kembali ke Korea. Apa kau tak ingin ikut bersamanya?” tanya eomma. Mwo? Ikut? Untuk apa? Eomma, sebenarnya apa yang ada di pikiran eomma? Aku menghembuskan napasku pelan.

“Ani. Aku ingin merawat eomma disini” jawabku. Eomma tersenyum dan menarikku dalam pelukannya.

“Dia namja yang baik dan sepertinya dia tertarik padamu. Bukalah hatimu untuknya. Eomma yakin, kau akan bahagia” bisik eomma. Donghae oppa memang namja yang baik, terlalu baik malah. Tapi aku tak yakin bisa membuka hatiku untuknya. Karena hatiku hanya ada satu dan hanya ada satu namja yang bisa mengisi hatiku. Tapi bukan dia.

***

“Kau tak ingin kembali ke Korea?” tanya eomma saat kami sedang duduk santai di sofa.

“Eomma mengusirku?” tanyaku. eomma tersenyum dan terkekeh pelan.

“Kenapa kau berpikir begitu? Kau kan harus mengurus usahamu disana. Manager seperti apa kau yang tak bisa bertanggung jawab seperti itu” ucap eomma. Sudah hampir satu bulan aku berada disini. Aku merasa sangat betah dan tak ingin kembali.

“Tapi aku ingin merawat eomma” balasku. Sudah cukup lama aku jauh dari appa dan eomma.

“Kau lihat sendiri kan kalau eomma sudah sembuh? Sudahlah, jangan terlalu khawatir seperti itu. kau kan bisa kesini lagi. Tapi apa kau tega meninggalkan usahamu yang susah payah kau bangun itu?” eomma benar. Aku harus segera kembali mengurus coffee shopku. Apalagi appa sudah kembali dari Kanada. Eomma tak kan sendirian lagi.

“Ne. Aku akan kembali besok eomma. Ku harap eomma tidak sakit lagi” jawabku. Aku memeluk eomma sangat erat sebelum aku kembali ke Korea.

 

TBC…. RCL…..RCL……RCL…….

Jangan lupa tinggalkan jejak….

Ok readers~~~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s