In This World… You

Standar

Oneshoot            : In This World…You

 

Cast                       : Lee Junho (2PM)  X Han Yara

 

Support by          : 2AM – Can’t Let You Go Even If I Die (Translate)

 

+++

Didunia ini…Hanya dirimu… Percayakah kau?

Ya, hanya dirimu..

Aku seperti hidup karenamu, aku bahagia karenamu

Bahkan aku menangis pun karenamu.. Lalu, mau kah kau hidup untukku?

Jika pun tidak, terimakasih untuk segalanya…

Karena aku bahagia…

 

+++

 

22 Agustus 2008

 

“Annyeong Yara-ssi..”

Aku mengangkat wajah dari buku-buku tebal yang ada dihadapanku dan tengah kubaca. Aku merasa rohku ingin  keluar dari tubuhku sendiri begitu melihat wajahnya, bahkan saat mendengar suaranya saja aku serasa terbang kesurga. Namja itu berdiri dengan membawakan secangkir cokelat panas, dia tersenyum sangat manis bersamaan dengan angin musim semi yang tiba-tiba saja berhembus seolah menertawakan suasana yang entah kenapa menjadi canggung, bagiku…entahlah baginya.

 

“Hei.”Sapaku ramah dan mengangkat sebelah tangan “Silahkan duduk~..”ajakku, bergeser kesamping dan menepuk tempat yang tersedia untuknya, sebuah bangku panjang di Taman Kota.

 

“Gomawo~..”Katanya sambil membungkuk lalu duduk disebelahku, Hmm…Dia tampak manis dengan sweater tebal berwarna biru tua yang ia kenakan.

 

“untukmu..”Aku menoleh begitu mendengar suaranya lagi bahkan belum sempat aku menjawab ucapan terima kasihnya, dia menyodorkan secangkir cokelat panas dengan cangkir kertas itu padaku sementara aku menerimanya dengan gerakan canggung.

 

“Gomawo~..”Ucapku padanya yang hanya dibalas dengan sebuah senyuman.

Aku menghirup aroma cokelat panas ini, belum meminumnya hanya menikmati aromanya saja. Aku tak berbicara apa-apa padanya dan diapun begitu, dia hanya diam sama sepertiku yang perlahan mengekori sosoknya secara tak langsung.

Dia Lee Junho.

 

“Kenapa diam saja?..”Tanyanya memecah kebisuan, perlahan aku menggerakkan kepala untuk menoleh kepadanya, sebelah alisnya terangkat, dia bertanya padaku.

 

“Waeyo?..”Ia memperjelas.

Aku menggigit bibir bawahku,ragu. Memangnya aku harus berkata apa? Ah~ Apa ada yang kulupakan?

Atau memang sengaja kulupakan?

 

“Yara-yah~ sejak kapan kau menjadi pelupa?..”Tuturnya lembut, angin musim semi seolah mengiringi suaranya, terdengar semakin lembut.

“Mmm,Aku~..”Aku ragu mengucapkannya, aku bingung…Aku masih takut.

“Apa perlu kuulangi? Yang 2 bulan lalu aku ucapkan padamu dan tak kunjung kau beri jawaban?..”Ungkapnya sementara aku tertunduk, gugup dan bimbang.

 

“Baiklah..”Desahnya, lalu bangkit dari duduknya dan kini malah duduk bersimpuh lutut dihadapanku, perlahan tangan hangatnya menjalar dan kini ia merengkuh jemari ku seutuhnya.

Dua bulan yang lalu aku memang mendengarnya,aku mendengar apa yang diungkapkannya.

“Dua bulan yang lalu, saat ulang tahunmu aku mengatakan ini, dan sekarang bisa kah kau menjawabnya? Aku menunggu~..”

 

Dan senyuman dimatanya itu membuatku sulit bernafas, aku hanya merasa tak pantas untuk Lee Junho.Namja yang tampan, yang mempunyai suara yang khas, pandai menari dan bernyanyi…

Sedangkan aku, Han Yara,,, siapa?

 

“Jangan fikir kau bukan yang terbaik untukku, tak pantas untukku. Apa aku perlu mengulanginya?..”

Mungkin dia merasakan tanganku yang basah, tanganku yang gemetar…. Tapi, semuanya tertutupi dengan rengkuhan jemari Junho yang hangat dan menenangkan.

 

“Yara-yah~..”Lirihnya, lembut seolah membawaku ke surga. Sebelah tangannya terlepas dan ia meletakkan sejumput rambutku kebelakang telinga, aku bisa menangkap matanya yang mengekori diriku…Terus dan terus hingga aku merasa tak bisa lagi bernafas.

 

“Mau kah kau menjadi bagian hidupku? Yara-yah~Saranghaeyo..”Dan bersamaan dengan itu, angin musim semi berhembus. Mulutku terkunci rapat, bungkam tak dapat berkata-kata..

 

“Junho-ya~..”Lirihku padanya, aku tak tahu harus menjawab apa. Aku..Aku memang mencintainya, tapi?

Dia mendekatkan wajahnya dengan wajahku, aku mengamati matanya yang terus menatap mataku hingga tanpa sadar…. Bibirnya meninggalkan jejak dibibirku…

 

“Junho-ya~..”Aku berbicara namun tak bersuara, hanya dalam hati karena Junho masih menciumku.

“Tolong katakan, Ya..”Ucapnya disela-sela ciuman kami… Lalu aku memejamkan mata, mengangguk dan sekarang membiarkan diri Junho memelukku erat…

 

Dia pasti tahu jawabannya…

 

+++

 

14 Februari 2009

 

“Yara-yah pejamkan matamu..”

 

Aku baru ingin menoleh tapi langsung kudengar suara yang memerintahkanku untuk menutup mata, entah suara dari mana. Aku kini duduk disebuah taman bersama bangku panjang yang kududuki, aku baru ingin menoleh kekanan dan kekiri, bermaksud mencari sumber suara tapi tiba-tiba sudah ada tangan yang besar nan hangat menutup kedua mataku yang tidak mempunyai lipatan ini.

 

Aku seperti mengenal suaranya…Tapi ragu..Aku mengenal harum parfumenya. Ah~ Aku tahu siapa dia..

“Junho-yah, ini sudah pasaran. Cepat singkirkan tanganmu dari mataku atau aku akan menghujanimu dengan ribuan jitakan? Cepat lepaskan, aku ingin memandangi matahari di sore hari ini..”Celotehku padanya, sembari aku menahan tawa. Ini lucu~

 

Aku mendengar namja yang kuyakini Lee Junho ini menahan tawa, sama denganku.

 

“Anniya~ dari mana kau tahu aku Junho? Aku bukan Junho~…”

Dia merubah cara bicaranya, aku semakin tak kuasa menahan tawa. Hyak! Junho babo kau tak bisa membohongi Han Yara.

 

“Junho-yah~…Aku serius…”Dan bersamaan dengan itu tangannya terbebas dari kedua mataku dan bisa kulihat pemandangan langit sore dikota seoul ini, aku menoleh kebelakang bermaksud mencubiti pipinya namun saat aku menoleh ia tak ada. Kutolehkan wajahku kesamping kanan dan tiba-tiba…

 

“Saranghaeyo, Han Yara..Happy Valentine’s day..”

 

Aku terperangah, pertama dia menciumku secara tiba-tiba tepat di ujung bibirku, ujung bibirku! Hyak!! Lee Junho, kau membuatku serasa melayang diangkasa, Arrasseo?

Dan yang kedua, dia mengucapkan kata-kata yang saat aku baik dia ucapkan selalu kami maknai…Kami rasakan hingga kehati.

 

Saranghaeyo~

 

“Tak terasa…sudah 6 bulan kita bersama…Aku tak percaya bisa memiliki peri kecil secantik dirimu Han Yara, aku benar-benar mencintaimu…”Junho merangkulku sementara aku menahan rasa berdebar didada, dia menganggumkan.Aku benar benar mencintainya.

 

“aku lupa memberikan mawar, cokelat ataupun apa saja untukmu dihari kasih sayang ini. Tapi, sekarang aku ada didekatmu dan selalu didekatmu, tak apa kan?..”Dia menelusuri rambut hitamku dengan jemari telunjuknya, membiarkanmu merasakan kesan istimewa ketika ada didekapannya.

 

“Ne, tak apa… Kau selalu disini, didekatku…itu bisa menggantikan segalanya~…”

 

Dia tersenyum, senyum dimatanya, dibibirnya dan kuyakin senyum itu juga dari hatinya.

“Bagaimana kabar keluargamu Junho-yah~, kapan kau akan mengajakku bermain erumahmu?..”

Dan tangannya yang semula menggenggam tanganku terasa menegang, dengan sangat kuat. Aku pun terheran sejenak dibuatnya.

 

“Mm, Junho-yah~… “Seruku, membuyarkan lamunannya yang olehku tampak sedikit melamun.

“Apa harus kesana? Masih banya tempat yang lebih indah kan..”

 

Aku belum menjawab. Hmm, waeyo Junho-yah? Apa dia tidak mau mengenalkanku denganAppa dan Eommanya, padahal aku sudah mengenalkan Junho dengan kedua orang tuaku.

 

“Masih banyak lagi tempat yang sangat indah, tidak perlu kerumahku..”Dia menegaskan, entah kenapa dari cara bicaranya terdengar seperti menyimpan sebuah kemarahan, terpendam disana.

 

Aniya~ Junho bukan keluarga yang tak mampu, bahkan Eomma dan Appanya adalah pengusaha sukses. Lalu kenapa?

Junho menoleh kearahku, sinar bahagia di matanya tiba-tiba hilang dan wajahnya….rapuh

“Ayo kita pulang..”Ajaknya tiba-tiba, dia menarik tanganku, dengan tangannya yang terasa dingin seperti es.

Aku ikut berdiri karena ajakannya, tiba-tiba saja dia sedikit terhyung dan jatuh hingga menabrak pundakku. Hanya terhuyung saja dan itu menjadi tanda tanya.

 

“Mm, Junho-yah, waeyo?..”Tanyaku ketika dia mencoba menegakkan diri, aku memegang kedua pundaknya dan mendapatinya yang sedang memejamkan mata kuat-kuat.

Waeyo, chagiya~..”Dan sekali lagi dia tidak menjawab, hanya menatapku dengan senyum yang disahakannya.

Kenapa?

 

++++

 

22 Agustus 2011

 

Tak terasa…Ini sudah tahun ketigaku bersama orang yang sangat kucintai, yang kuingat namanya dalam setiap tidurku dan sangat berharap jika aku memimpikannya. Dia Lee Junho, namja baik hati yang selalu bersikap romantic dan perhatian padaku. Aku benar-benar mencintainya..

 

3 Tahun ini…Saat dia berulang tahun aku memberikannya sebuah kejutan dan dia sangat senang, senang itu benar-benar terpancar dari wajahnya… Aku bahagia jika dia bersenang hati dan diapun selalu seperti itu padaku… Kami selalu perhatian dan kuharap ini untuk selamanya…

 

“Gomawo~..”Aku membungkuk dan mengambil barang belanjaanku yang baru saja kubayar. Bibi penjaga toko itu mengangguk dan mengucapkan kata terima kasih lagi untukku.

 

Aku ingin berkunjung ke apartement Lee Junho… Rupanya, dia tidak tinggal bersama kedua orang tuanya. Dan Junho mengungkapkan ini sejak kami 2 tahun bersama… Hanya mengungkapkannya dan tanpa alasan. Aku tak ingin ada yang dia sembunyikan padaku, dan Junho bilang memang tidak ada.

 

Lantai 4 nomor 102, au berhenti tepat didepan pintu bernomor 102 ini dan menekan belnya.

Hari ini, tahun ketiga kami dan aku ingin memberikannya kejutan. Biasanya dia selalu menjemputku jika ingin bermain keapartementnya tapi hari ini berbeda…Aku untuknya dan selamanya..

Pintu ini tak kunjung terbuka, keningku berkerut samar dan kukerucutkan bibirku…Apa Lee Junho tak ada diapartementnya?

 

Aku memberanikan diri untuk menyentuh kenop pintu ini perlahan kuputar dan akhirnya…terbuka.

Aku menoleh kekanan dan kekiri, ah~ mereka pasti sudah tahu kan aku sering berkunjung kesini, jadi apa yang harus dikhawatirkan?

 

Pintu kini sudah terbuka seutuhnya dan aku melangkah dengan langkah yang sangat hati-hati juga…khawatir. Sembari dalam perjalanan kesini aku terus mengiriminya pesan dan tak kunjung dibalas olehnya, padahal sekarang sudah pukul 11 siang apakah dia masih tidur?

“Junho-yah~..”Seruku ketika mulai mencari sosoknya diruangan ini, tidak ada diruangan tengah…Dia tak ada disini.

Aku melanjutkan langkahku…Kini keruang tidurnya..dan kudapati dia sedang tertidur disana.

Hatiku…tiba-tiba rasanya khawatir. Apakah Lee Junho sakit?

“Junho-yah~..”Ucapku pelan tapi terdengar, dia bergeming disana, mungkin tak mendengar suaraku.

Kini aku tepat disebelah tempat tidurnya, dia tertidur dengan tenang, wajahnya pucat dan sangat lelah. Memang, memang dalam beberapa hari ini dia terlihat seperti kurang sehat, dia selalu saja terhuyung tiba-tiba sembari memegangi dadanya…Aku tak tahu ada apa dengannya, dia selalu mengatakan bahwa dia baik-baik saja..

“Junho-yah..”Ucapku lagi dengan suara yang pelan dan bersamaan dengan itu aku menyentuh wajahnya dengan jemariku, wajahnya yang terasa sangat dingin. Kutelusuri rrambut hitamnya dengan jari telunjuku…dia masih terjaga belum terbangun.

 

“Apa kau terlalu mengantuk hah? Aku datang, untuk menemuimu bukan untuk melihatmu tidur..”Aku berbicaranya padanya dengan senyum yang kukulum dibibir, dia masih belum terbangun dan aku menyentuh tangannya yang sangat dingin.. Ada apa sebenarnya dengan Junho?

 

“Junho-yah?..”Kali ini aku berseru dengan suara yang tegas. Ada apa ini? Batinku dengan gelisah yang merajai hati.

“Junho-yah? Kau tidur kan?..”

 

Tangannya yang berada dalam genggamanku tiba-tiba bergerak, matanya pun perlahan –lahan mulai terbuka hingga akhirnya dia menatapku… Jujur, aku tidak pernah ingin mengkhayal jika suatu hari nanti dia pergi…dengan cara apapun.

“Chagi~..”Suaranya sangat serak bahkan hampir tak terdengar, tanpa sadar aku mengenggam erat tangannya sementara mataku fokus pada sosoknya.

 

“Junho-yah…”Aku fokus menatap matanya, dia ingin bangkit untuk duduk namun sedetik kemudian dia hampir terhuyung kebelakang sembari memegangi dada. Dia.. kenapa?..

“Junho-yah..”Pekikku sembari menahan pundaknya, dia memejamkan mata uat-kuat entah apa yang terjadi padanya…aku mendadak takut.

 

“Kau baik-baik saja?..”Tanyaku dengan rasa khawatir yang terus saja menguasai hati ini, dia yang dalam posisi terbaring mengangguk dan mencoba tersenyum.

“Aku hanya pusing sejak semalam, makanya jam segini aku masih tertidur..”

Aku tahu..Matanya yang lelah itu seperti berbohong.

 

“kau sakit, Junho-yah?..”Aku meraih kedua tangannya dan menggenggamnya lebih erat lagi.

Dia menggeleng “Anniya~ Aku baik-baik saja…”

Dan entah sampai kapan dia akan berkata seperti itu..Didalam kenyataan bahwa dia lelah…

 

“Sejak beberapa hari ini kau terlihat tidak baik, Chgaiya~ Aku tak mau kau kenapa-napa… Apa kau tak menyadari wajahmu sudah seperti mayat hidup hah? Dan tanganmu dingin sekali..”

Dia mencoba tertawa…Entah apa yang lucu, tetapi setiap aku selalu menggerutunya dia memang selau seperti itu, mendadak ingin tertawa.

 

“jangan membohongiku..”tambahku, sementara dia masih menahan tawa. Hyak! Junho-yah apa kau tak tau aku panic melihatmu seperti tadi?

 

“Aku tidak berbohong Han Yara~, aku baik – baik saja…”Ia bangkit- berusaha bangkit lebih tepatnya—aku membantunya dan kini ia terduduk diranjang, masih dengan wajah yang letih.

 

“Happy Aniv..”Ucapnya tepat didepan wajahku, dia tersenyum meskipun senyuman ini sangat berbeda…dia benar-benar berbeda…dia seperti ingin pergi…

 

“Aku bahagia… 3 tahun ini aku sangat bahagia bisa bersamamu..”Dia mengungkapkan kesenang dihatinya, perlahan ia mendekat dan detik itu juga dia memelukku yang masih diserang dengan tanda tanya.. Aku-masih-khawatir-padanya.

“Aku juga..”Aku membalas pelukannya, dia mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan apa yang diucapkannya selalu kupercayai karena itu benar, namun kali ini aku boleh tak percaya kan?

 

“Teruslah ada didekatku…dan percaya padakku… Saranghae..”Bisa kurasakan dia mengecup puncak kepalaku dengan sangat lembut dan aku merasakan ketenangan disana..Dia selalu membuatku merasa baik dan apakah aku sudah seperti itu untuknya?

 

Aku tersentak dengan mataku yang membulat saat tiba-tiba dia terbatuk dengan memegangi dadanya.

 

“Junho-yah..”Seruku kuat sembari memegangi lengannya. Dia sekuat mungkin mengatur nafas dan ini semakin membuatku takut.”Junho-yah, ada apa?..”cecarku.

 

Dia diam dan tak menjawab…Sampa sesaknya reda aku hanya bisa memperhatikannya… Tak ada yang perlu dia tutupi… Dia sakit…

 

“Waeyo Junho-yah..”Setelah ia berhasil mengatur nafasnya aku melepaskan pelukanku padanya, dia tak merespon tapi menuruti “Kau sakit? Jangan pernah membohongiku..”

 

Dia tertawa kecil… “anniya~ ..”

 

Dan dia selalu mengatakan kata itu …Anniya.

 

“Sayang ini hari kita, jangan bersedih…jangan khawatir akan apapun aku akan selalu baik, kau mau kan menemaniku untuk hari ini? Kita berjalan-jalan kesebuah tempat? Jam 8 malam, datanglah ke restaurant yang selalu menjadi tempat favorite kita.. Kau akan bahagia untuk selamanya karena malam itu…percayalah…”

 

Dia membuatku tersihir…Hingga aku lupa ada yang lebih penting daripada terus membahagiakanku…Adakah aku membahagia kannya?

 

 

+++

 

1 September 2011

 

Tangannya dingin. Wajahnya pucat. Air mataku menetes. Aku takut.

 

Aku menatap sosoknya yang kini terbaring lemah dirumah sakit, dia tidak baik-baik saja… Dia tidak seperti apa yang dia ungkapkan.

 

Sejak 22 Agustus 2011 dan itu sudah beberapa bulan yang lalu, dimalam dimana dia meminta untuk datang merayakan hari jadi kami, malam yang sangat penuh dengan kesan cinta namun akhirnya….

 

Dia ternyata tidak baik…Dia hanya berusaha menjadi baik.

Dia matahariku…Dia pangeranku…Dia segalanya untukku.

Dan apakah aku sudah menjadi segalanya untuknya? Kurasa iya, dan ia pun pasti menjawab iya.

Karena hanya dia…

 

DItahun yang ketiga, malam yang menyenangkan…Dia mempersembahkanku Candle light dinner, sangat indah…Indah dan indah hingga aku sulit untuk mengungkapkannya. Dia menjadikanku putrid dimalam itu, dia menjadikan ku segalanya dimalam itu …

 

Hingga tiba-tiba saat kami tengah berbagi canda dan tawa, wajahnya yang lelah itu tampak semakin lelah dan aku terus saja khawatir namun dia memintaku untuk tak mengingat segalanya yg membuatku khawatir…

Saat itu…Aku mengepalkan tangaku dengan kuat jika mengingatnya…Entah kenapa, dia tiba-tiba saja menjadi sesak dan….Ia tak sadarkan diri…Sampai hari ini, 1 semptember 2011…

 

Aku…Aku tak pernah mengkhayal sedikitpun jika ia pergi… Tidak pernah..

 

“Junho-yah~..”Aku meraih tangannya, menatapnya dengan hati yang bergetar dan tangis yang tak mampu lagi tertahankan..Dia pasti tersiksa dengan alat-alat kedokteran yang menunjukkan kondisi vitalnya saat ini, dia pasti sangat tersiksa…

 

“Junho-yah~…Kapan kau akan bangun? Bangun lah untukku, ini sudah lama sekali dan aku merindukan senyummu..”

Dengan berat aku menoleh kearah alat pendeteksi jantung lalu kembali ke sosoknya. Jantungnya masih berdetak dengan normal, matanya terpejam dan wajahnya benar-benar tenang…Aku takut dia pergi..

 

“Junho-yah~, kenapa baru sekarang? Kenapa sejak dulu kau tak memberitahukannya? Kau menjagaku, kau melakukan segalanya untukku dan aku beranggapan yang sama tapi kenapa? Apa aku tak boleh tahu, apa kau takut aku menangis? Bangunlah..”

 

Karena bagiku dia mengubah segalanya…Apakah Han Yara cocok dengan Lee Junho dan pantas mendapatkannya? Namja yang hampir sempurna itu sedangkan Han Yara hanya gadis biasa?

Dan lee Junho mengatakan ‘iya’ 3 kata yang merubah segalanya…

 

“Bangunlah…Eomma dan Appamu belum bisa datang, tapi kau akan tetap bangunkan? Atau kau menunggu mereka..”

Kurasakan tangannya yang bergerak bersamaan dengan dokter yang memasuki ruangan Junho…aku senang…Dia akan sadar…dan apakah dia akan hidup selamanya…denganku?

 

“Junho-yah..”Aku menyerukan namanya seiring dengan matanya yang mulai terbuka, mata yang selalu menunjukkan senyum kehangatan…

 

“yara-yah~..”Suaranya tak terdengar tapi bisa kutangkap mulutnya yang bergerak mengucapkan namaku…

“Dokter apa yang sebenarnya terjadi..?”Tanyaku pada sang dokter, dia sama sekali tak memberitahukanku apapun…Apa yang terjadi dengan Junho dan entah kenapa aku tak memikirkannya kenapa, aku hanya fokus pada Junho yang membuat duniaku terasa gelap ketika dia seperti ini..

 

Aku melihat tangan Junho yang perlahan meraih lengan baju si Dokter, dokter itu menatap Junho yang menggelengkan kepalanya dan sidokter entah kenapa mengangguk pasrah…

 

“ dia baik-baik saja ..”

Aku tersenyum meskipun tak terlalu percaya, namun sosok yang terbaring disana tersenyum membuatku ikut tersenyum dan tiba-tiba menjadi percaya…Karena dirinya…

 

Lee Junho akan selalu untuk Han Yara…

 

+++

 

2 Januari 2012….

 

Dingin, ruangan ini terasa dingin dan obat-obatan bau khas rumah sakit mendominasinya. Aku berdiri didepan pintu UGD dengan kegelisahan yang terus saja mengusik hati ini, aku mengupayakan rasa gelisah ini agar pergi namun apa daya ia tak ingin pergi.

 

Aku gelisah karenanya…Batinku sembari meremas jari. Sesekali aku melirik ponselku, berharap seseorang yang sejak tadi kukirimi pesan akan membalasnya ataupun menelponku balik, namun? Nihil. Aku terus menghubunginya namun sama sekali tak ada jawaban, apakah ia memang tak peduli?

 

Pintu yang menjulang dan berwarna putih itu kini terbuka, memampangkan pemandangan sosok seorang dokter dengan 2 suster dibelakangnya. Wajah dokter itu tampak lelah dan sudah berupaya keras. Tanpa sadar aku mengepalkan telapak tangan, mungkin hingga buku jemariku memutih. Namun, aku memang khawatir.

 

“Bagaimana, dokter?..”Ucapku,serak dan ingin menangis. Aku gelisah, sejak tadi aku gelisah. Karenanya.

“Junho-ssi..”Dia menggantungkan kalimatnya, membuatku menahan nafas antara takut dan bahagia mendengar apa yang selanjutnya akan dokter ini katakana. Jujur, aku benar-benar ingin masuk kedalam ruangannya, menggenggam erat tangannya dan membiarkannya membelai rambutku. Dia pasti akan baik-baik saja. Pasti. Demiku. Dan aku deminya. Yara demi Junho dan Junho demi Yara.

 

Sementara aku memikirkan apa saja hal bahagiaku dengannya, disamping itu aku juga menahan sedih. Tadi…Aku menemukan Junho dikamarnya, saat bertamu kerumahnya. Kuketuk pintu kamarnya dan tak ada balasan, bibi yang menjadi pembantunya mengatakan jika Junho tak kunjung keluar dari kamarnya sejak beberapa hari yang lalu, dan dia juga sangat jarang menemuiku~ Namun sering menghubungiku~

 

Dia mengurung diri, kudengar dia terbatuk dan seperti sesak…Aku tak tahu…Aku berusaha membuka pintu kamarnya dan dia sudah terkapar disamping tempat tidur, matanya terpejam dan dia memegangi dadanya. Menahan sakit. Ada apa? Disaat itu aku tak bisa menebak apapun melainkan terus menangis, Dia berarti dan aku takkan pernah ingin bahkan mengkhayal sedikitpun jika dia akan pergi…dariku.

 

Entah dia ada masalah apa…Aku tak tahu… Bukankah Yara untuk Junho dan Junho untuk Yara? Lalu kenapa, Junho mulai tertutup padaku?

 

“Kelainan jantung…Apa dia sama sekali tak memberitahukan ini pada keluarganya?..”

 

Dan aku merasakan bahwa aku menahan nafasa. Apa?

 

Aku membisu sementara Dokter memegang bahuku yang mendadak menegang.

“Dia sudah sadar, dan memaksa untuk pulang sekarang juga. Saya tidak tahu harus bagaimana, dia memerlukan perawatan yang lebih..”

 

Dan aku merasa, Aku tak mengerti akan dirinya. Akan yang disembunyikannya.

 

“Apa..Apa Junho bisa…”

“Yara-yah, Mari kita pulang..”Ucapanku tiba-tiba terpotong oleh kedatangan seseorang, dengan postur tubuhnya yang tegap dan lebih tinggi dariku. Aku ternganga kecil ketika dia meraihku dan menarikku untuk pergi sementara ia, dia tak menggubrisku yang mencoba memberontaknya.

 

“Junho-yah..”Ucapku, berharap dia menghentikan langkah dan membiarkanku bercakap-cakap lebih lanjut lagi dengan dokter tadi.

 

Namun dia tetap berjalan..

 

“Junho-yah, apa yang terjadi denganmu? Junho-yah mengapa menyembunyikannya? Waeyo?!..”aku meninggikan nada bicaraku diakhir kalimat, kami sudah berada diluar rumah sakit dan langkah Junho terhenti. Genggamannya kini melemah dan tangannya terlepas dari pergelangan tanganku dengan lemah, menggantung diudara.

“Junho-yah..”Sedikit terbesit rasa khawatir dibenakku dan kini aku berdiri tepat dihadapannya. Memandangi wajahnya yang sayu dan pucat….serta lelah.

 

“Chagiya..”Ucapku, parau. Tanganku kugerakkan perlahan untuk  merengkuh pipinya yang terasa benar-benar dingin. Dia menatap kosong keangkasa, entah memandangi apa dan yang jelas aku takut tak bisa membuatnya mengerti.

 

“Junho-yah..”Yang terakhir kali aku mengucapkan namanya, dengan suara parau juga serak dan dia sama sekali tak menyahuti..Bersamaan dengan ini air mataku luluh, mengalir begitu saja dengan mudahnya dan Junho tetap bergeming. Aku pandangi sosoknya yang benar-benar tampak lelah, aku 5 tahun bersamanya~ Aku sudah 5 tahun bersama Junho. Han Yara sudah menjalin sebuah kasih selama 5 tahun dengan Lee Junho.

 

“Aku..Aku tak apa..”Akhirnya dia menyahuti, suaranya lebih serak daripadaku dan terlihat rapuh, bahkan bukan sosoknya saja tapi suaranya pun terdengar rapuh.

 

Setitik…Dua titik…Hingga titik berikutnya…Dia tak menghapus air mataku.

 

Bukankah Lee Junho untuk Han Yara?

 

“junho-yah , dengarkan aku… Apa yang terjadi denganmu?..”

 

Dia berhenti…Kami sama-sama terdiam.

 

“Didunia ini, aku hanya menyerahkan seluruhnya padamu… Hanya kau lah yang percaya dan bisa mengerti aku, jadi kau hanya cukup mengerti jika aku baik-baik saja..”

 

“kau tidak baik-baik saja!..”Potongku dengan suara yang keras, sedetik kemudia tangisku pecah dan kurasakan dia yang memelukku.

 

“Aku mencintaimu… Jadi percayalah aku akan baik-baik saja..”

 

“Kau membenci Eomma dan Appamu karena mereka tak pernah perduli padamu kan? Kau pernah secara tak sengaja mengucapkannya, Junho-yah kita membutuhkan orang yang kita sayangi dan kenapa ka..”

 

“Aku hanya menyayangimu.. Percayalah, mereka bukan yang terpenting karena mereka tak memberikanku arti apapun… Mereka hanya selalu sibuk dan aku hanya sebuah tempat persinggahan..”

 

Sudah lama aku mengetahuinya.. Junho adalah sosokyang rapuh, tapi dia tetap berusaha membuatku tersenyum atas segalanya…

 

“Kau yang memberikanku sebuah arti, maaf jika ini terlalu rumit, aku bukan tak percaya padamu jika memberitahukan ini…Bukan, aku hanya takut kau menangis, kau….orang yang memberiku arti dari segalanya..”

 

Tangisku tumpah dipundaknya…Dia tak percaya siapapun bahkan orang tuanya kecuali aku…Semua memang bisa merubah segalanya… Kenyataan bisa merubah segalanya.

 

“Junho-yah~..”Pekikku ketika kurasakan tubuhnya memberat, aku tak kuasa menahan berat badannya dan kini kami sama-sama terjatuh dengan Aku yang menimpa tubuh Lee Junho…

 

Jika aku orang yang memberinya arti, maka sebaliknya juga untukku kan? Maka apa yang kita harapkan dari orang yang sudah memberikan kita sebuah arti? Ia tak boleh pergi kan?

 

“Junho-yah~..”Aku segera bangkit dan menepuk pipinya, matanya kembali terpejam dan dadanya naik turun mengatur nafasnya yang sesak.

 

“Junho-yah~..”Pekikku dan semua orang langsung mengerumuniku yang tengah memangku kepala Junho.

 

“Junho-yah..”Kali ini suara ku pelan, bersamaan dengan orang-orang yang membopong tubuh Junho kedalam rumah sakit…

Dia tidak boleh pergi~ Aku membatin dengan tangis…

 

+++

 

4 Januari 2012

Kenyataan…siapakah yang  bisa mengubahnya?

 

Tangis memenuhi ruangan ini…Tangisku pun sekarang, tangis yang mengiring kepergian…

 

Dia…Orang yang memberikanku sebuah arti dan yang kuberi sebuah arti, begitu kami menganggapnya…

Dia…yang lebih mempercayaiku, daripada semuanya bahkan yang sedarah dengannya…

Dia…yang rapuh, yang menyimpan kesakitan…

Dia…yang kini pergi, membiarkanku sendiri…Membiarkanku untuk terus percaya padanya…

 

Aku menatap sosoknya yang terbaring kaku diranjang rumah sakit, Jantung yang didonorkan untuk Junho ditolak oleh tubuhnya…Dia terlambat mendapatkan donor itu, dia terlambat dan pergi saat operasi baru saja berlangsung…

Aku masih tak percaya…Batinku sembari mendekat kearahnya…

 

Appanya menangis…Eommanya menangis… Mereka tidak tahu bahwa selama ini mereka sangat dibutuhkan untuk sosok itu,tak mengerti…

 

Eommanya mundur dan memeluk Appanya, menangis dijarak yang cukup jauh dari sana…

 

“Junho-yah~..”lirihku, memegangi pipinya yang sangat dingin…

 

“Jika aku yang memberikanmu arti segalanya, kenapa kau harus pergi?..”lirihku, perih dan sakit.

Aku menunduk, mencium puncak kepalanya dengan memejamkan mata…Merasakan ketenangan saat dulu ketika ini berlangsung..

 

Aku pun bingung mengapa air mata ini terus mengalir sedangkan dia sudah baik-baik saja disana? Dia pasti akan menjagaku disana..

 

Aku meletakkan telingaku didadanya…Sama sekali tidak terdengar apapun…

Aku tak mampu lagi menahannya sekarang, biar saja air mata ini terus tumpah… Ini tanda jika aku benar-benar kehilangannya… Dan cinta ini akan selalu untuk dia…Yang rapuh..yang memendam sakit…Dan mencintai dengan tulus…

 

Untuknya, yang memberiku arti….

Untuknya, yang membuatku percaya…

Untuknya, yang kini pergi…

 

Mungkin, sebenarnya dia tak ingin meninggalkanku…Karena baginya, aku memberikannya sebuah arti…Yang meski aku tak tahu apa, tapi aku senang…

Dia tak ingin pergi, sebenarnya…

Dan aku juga tak ingin ia pergi, sebenarnya…

Setiap kata-kata yang diucapkannya selalu terngiang ditelingaku “Aku akan baik-baik saja..”

 

Dan itu membuatku merasa lebih baik.. Kukecup sekali lagi keningnya dan kutatap wajahnya dengan senyum yang terlukis diwajah…

 

Kau, yang terindah..

 

Why do you lie, saying it’ll be okay?

How will my heart that hurts this much

Be healed so easily?

How will I live without you?

That’s why I

Can’t let you go, even if I die

How am I suppose to let you go?

Whether you go or leave, fix my heart

If you can’t fix it so that I won’t be in pain

So that I can at least live I wouldn’t be able to live anyway

I can’t let you go, even if I die

 

+++

END

 

 

Miahaeyo gaje dan abal, tidak jelas dan terkesan maksa~ mohon pendapatnya memberdeul. RCLnya please~ gomawo -Autumn

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s