Key’s Story #OneShoot

Standar

ini Ff titipan member..

Aq menpost’a ssuai iianx dia krim

So, Comment lah FF ini

Biar chingu kita ini lbh smngat lg mnlisnya..

 

Karena ini panjang aq bgi jdi 2 bgian

 

So, BEKOCOT

 

……………………………………………………………………

 

Author : ViKeyBum

 

Post by Snow

 

Title: Key’s Story // Part 1A

 

Main Cast :

–          Key

 

–          Minho

 

–          Eunjung

 

Other cast : Find by your self

 

Mian ya kalau geje chingu,,Ni first FF ku. Masukannya ya..

 

Hepi Riding..”)

 

 

Udara sehabis hujan meninggalkan aroma Khas yang masuk bersama udara yang kuhirup, membuatku semakin menikmati cuaca hari ini.

 

“Key ah!” Teriak Suara yang tak asing bagi ku. Aku tersenyum kecil sebelum aku berbalik badan dan melihat Onew Hyung yang terengah –engah karena mengejarku. Wajah innocent itu selalu membuatku geli.

 

“Ya, kenapa kau malah senyum –senyum?” Tanya nya dengan nafas masih terengah –engah.

 

“Annio. Memangnya kau ini dari mana hyung? Kenapa sampai ngos –ngosan gitu?” Tanyaku padanya.

 

“Aku baru saja melihat Minho bersama Eunjung. Apa benar mereka jadian?” tanya Onew Hyung padaku.

 

“Molla.” Jawabku sambil mengangkat bahu. Sebenarnya aku sedikit kecewa mendengar perkataan Onew Hyung barusan.

 

“Kenapa dia mau dekat dengan Eunjung lagi? Dasar Namja Pabbo!” umpatku dalam hati.

 

“Kajja.” Ajak ku pada Onew Hyung yang masih merapikan nafasnya(Nyetrika kali..Rapi). Onew Hyung mengikutiku.

 

@ school.

 

Aku duduk dikursi dan ku rebahkan kepalaku di meja. Pandanganku menerawang keluar jendela, membayangkan Namja bernama Minho yang sekarang “mungkin” sedang bersama namjachingu baruya si nenek lampir Eunjung. Mata ku serasa panas, ketika terpintas wajah nenek lampir itu.

 

Entahlah, kenapa aku sangat membenci yoeja itu, padahal kami tinggal bertetangga sejak kami lahir. Yah, salah satu nasib terburukku adalah dilahirkan pada Tahun, Hari, tanggal, jam bahkan kami menangis bersama saat dilahirkan. Kedua orang tua kami bersahabat sejak, mungkin aku belum diharapkan hadir didunia ini. Yang membuatku lebih kesal saat orang tua ku mulai membanding –bandingkanku dengan Eunjung, dia selalu rajin sekolah dan mendapat nilai bagus di kelas, bahkan dia menjadi juara umum sekolah.  Sedangkan aku hanya menhabiskan waktu untuk bermain ski air.

 

Flashback

 

“Key ah, kenapa kamu ini? Appa sudah memberi apapun yang kamu minta, tapi kenapa nilai rapor mu tidak berubah?”  Appa mengomeliku, namun nadanya datar , bahkan suara itu seperti tidak berniat untuk mengomeliku.

 

“Key ah, apa kau tidak malu pada eunjung, dia perempuan, tapi dia lebih cerdas darimu, bahkan dia menjadi juara di sekolahmu kan?” Umma ku menambahi. Aku semakin muak mendengarnya. Mataku merah menahan marah. Kepala ku serasa ingin meledak mendengar kata –kata itu setiap hari ketika kami akan makan malam bersama.

 

Flashback end.

 

Semenjak kejadian itu aku tidak pernah mau lagi makan malam bersama  Appa dan Umma ku. Sejak usia ku 10 Tahun sampai sekarang 19 Tahun, dan semenjak itu pula aku semakin membenci eunjung.

 

“Key ah, kenapa seharian ini kau diam saja? Ada masalah?” Jjong Hyung membuyarkan lamunan masalalu ku.

 

“Ah, Annio. Aku hanya sedang capek saja Hyung.” Jawabku sekenanya.

 

“Jeongmal? Makanya kau juga harus memikirkan kesehatanmu, Ski air membuatmu melupakan segalanya.” Ucap Jjong Hyung.

 

“Ya, aku tidak seperti itu. setidaknya aku masih memikiran kapan aku harus Mandi.” Candaku pada Jjong Hyung membuatnya tertawa geli.

 

“Ya, Kau ini benar –benar.”

 

Inilah aku, entah dari mana aku mendapatkan kekuatan untuk bisa membuat orang tertawa bila mereka didekatku. Mereka selalu menilai aku namja lucu dan cerewet. Aku dikenal sebagai namja yang selalu ceria dan membawa kebahagiaan bagi tiap orang disekelilingku. Tapi, tidak dengan Appa dan Umma ku, mereka terlalu sibuk dengan dunia mereka, sedangkan aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama Ibu Asuh yang telah mengasuhku sejak aku Bayi.

*******************************

 

 

“Key Ssi.” Suara Eunjung menghentikan langkahku yang hendak beranjak meniggalkan kelas. Aku hanya diam. Eunjung menghampiri ku yang masih duduk diam di bangku ku.

 

“Aku tau kau sangat membenciku, tapi aku mohon jangan bawa kebencianmu pada Minho juga. Kau boleh membenciku, kau boleh tidak menyukaiku, tapi Jebal jangan bawa kebencianmu dalam persahabatan kalian. Karena…”

 

“Cukup.” Suaraku datar, memotong kalimat Eunjung. Eunjung diam. Menatapku tajam. Mata kami beradu. Aku menatapnya sengit. Aku segera meraih tas ku dan meninggalkannya yang masih berdiri terpaku ditempat.

Entahlah, rasanya aku tidak terima melihat sahabat baikku Minho berpacaran dengan Yoeja yang sangat ku benci itu.

 

“Key ah, tunggu aku.” Suara Minho tak  menghentikan langkahku. Minho berlari kearahku.

 

“Ya, kenapa seharian ini ku perhatikan kau cemberut, hah?” Ucap Minho setelah bisa mengiringi langkahku. Aku tersenyum kecil.

 

“Ya, kau ini kenapa sebenarnya?” Minho bingung.

 

“Minho ssi, apa kau tau hal yang paling penting dalam persahabatan?” Aku menatapnya tajam, membuatnya sedikit mengerti maksudku.

 

“Tapi aku mencintainya Key.” Suara Minho seperti cambuk yang memukulku dengan keras. Aku tersenyum getir kemudian meninggalkannya tanpa sepatah katapun.

 

“Key Ah!” teriak Minho padaku, tapi aku tak mempeduikannya.

 

“Bisakah kau hargai perasaan ku?!” teriaknya lagi. Membuatku menahan perihnya kekecewaanku.

 

“Dan Kau, bisakah kau  mengerti  perasaanku, Minho ah?” batinku.  Aku terus melangkah meninggalkannya pergi.

 

 

@ Onew’s home

 

“Key ah, kau tak pulang lagi?” tanya Onew Hyung pada ku yang sedang termangu tak jelas memikirkan apa.

 

“Molla.” Jawabku.

 

“Aku tau masalahmu dengan Minho dan Eunjung, tapi mereka tidak bersalah. Apa kau tau? Kebencianmu itu akan merugikan dirimu sendiri.” Kalimat Onew Hyung seperti benar adanya. Aku merugikan diriku sendiri karena aku kehilangan  sahabatku, Minho. Tapi, aku tak mungkin juga menerima Eunjung, rasanya kebencianku padanya ini sudah mendarah daging. Kebencianku semakin menjadi setelah kejadian 5 tahun yang lalu. Saat hyung ku meninggalkanku untuk selamanya.

 

 

Flashback again

 

“Key Ssi! Teriak Yoeja bernama Eunjung padaku dari seberang jalan saat kami pulang sekolah.  Aku tak memperdulikannya. Aku sangat benci dengan Yoeja itu. Aku mempercepat langkahku  berharap dia tidak bisa mengejarku. Namun tiba –tiba terdengar suara Rem Mobil berdecit yang begitu memilukan telingaku. Aku menoleh dan melihat seseoarang terkapar di jalanan. Darah segar keluar dari sela –sela rambut dikepalanya mengalir membasahi tanah.

 

“Hyuuunnnggg!!!!” teriakku sekuat tenaga sambil berlari kearah tubuh tak berdaya yang tersungkur ditengah jalan. Aku meraih tubuhnya.

 

“Hyung! Sadarlah! Hyung! Ottoke..?!” Tak terasa Air mata ku menetes. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Sementara mulai banyak orang datang mengkerumuni kami.

 

 

@hospital

 

Aku duduk terpekur di lantai didepan pintu ruang emergency. Sementara ibu ku terus menangis dan ayahku bingung menenangkan ibuku. Pandanganku sedikit kabur saat aku melihat Dokter keluar dari ruangan itu. Kedua orangtuaku langsung menghampiri dokter dan menanyakan keadaan Hyung ku.

 

“Ottoke dokter? Ottoke?” pertanyaan ibu ku memburu, berharap sekali bahwa hyungku baik –baik saja. Namun, jawaban singkat membuat tubuh Omma ku lemas, sekilas aku melihat dokter hanya menggelengkan kepalanya sebelum akhirnya aku melihat Omma ku terjatuh. Setelah itu aku tak melihat apapun.

Saat sadar aku hanya melihat wajah Hyung tersenyum padaku.

 

“Hyung, kwencana?” tanyaku padanya. Aku panik teringat keadaannya yang beberapa jam lalu tak berdaya.

 

“Ne. Kibum ah.” Jawab Hyung ku tenang. Aku bernafas lega.

 

“Kibum ah.” Panggil hyungku pelan.

 

 

“Ne?”

 

“Berjanjilah kau akan menjadi Namja yang kuat.” Kata –kata Hyung membuatku bingung.

 

“Apa maksudmu Hyung?”

 

“Kau tau, perjalanan hidup kadang tak adil pada kita, tapi ingatlah, semua yang terjadi adalah yang terbaik. Kau harus tau, aku sangat menyayangimu Key Ah.” Ucapannya diakhiri dengan senyuman tersungging di bibirnya. Sementara aku merasa ada yang aneh dengan  apa yang dikatakan hyungku. Perlahan aku melihat wajah hyungku menghilang dibalik kilauan cahaya yang menyilaukan mataku.

 

“Hyung!!!” teriakku. Aku baru sadar dari pingsanku. Aku melihat sekelilingku. Rumah Sakit. Aku langsung teringat Hyung ku.

 

“Hyung!” aku mencabut jarum infus yang terpasang di lengan ku. Aku berlari gontai menuju ruang Emergency.  Tapi, langkahku terhenti saat melihat Onew Hyung  yang menghampiriku. Onew Hyung adalah sahabat Hyung ku Kim Bum.

 

“Key ah. Tabahlah.” Ucap Onew Hyung lirih.

 

“Ne, dimana Kim bum Hyung? Apa dia sudah dipindah di ruang rawat?” tanya ku pada Onew Hyung khawatir.

 

“Kajja.” Onew Hyung tidak menjawab pertanyaanku. Dia menuntunku ke ruangan yang tak kuketahui. Aku berherhenti melangkah saat aku melihat suasana yang tak nyaman bagiku. Semua orang keluar dari ruangan itu dengan raut wajah duka. Beberapa sahabat Orang tua ku yang mengenaliku menepuk bahu ku dan mengucapkan berbela sungkawa.

 

“Apa ini Hyung?” kataku pada Onew hyung, tak percaya dengan situasi yang kutakutkan. Onew Hyung menggenggam tangan ku erat. Pandangan ku rabun, karena menahan air mata.

 

“Tidak Mungkin.” Ucapku lirih. Aku melepaskan tangan Onew hyung. Aku berjalan mundur menjauhi tempat itu. Tapi tangan Onew hyung lagi –lagi menahanku. Memelukku. Menenagkanku yang semakin membabi buta melihat kenyataan hyung ku telah meninggalkanku.

 

“Anni Hyung, itu pasti bukan dia.” Ucapku pada Onew hyung terisak.

 

“Kwencana, Key Ah. Relakan dia Pergi.” Bisik Onew Hyung yang juga terdengar menahan tangisnya saat memelukku. Air mataku tak bisa berhenti. Aku menagis sejadinya dipelukan Onew Hyung. Appa dan Omma ku tak kuasa melihat ku. (Bayangin Waktu Key nangis di Quasiomodo MV ya Chingudeul. Liat Key nangis di MV itu ajja gx kerasa aku netesin air mata..hikshiksL)

 

Aku melihat Eunjung datang dengan orang tuanya. Mataku memanas. Tanganku mengepal. Aku marah melihatnya. Aku melepaskan pelukan Onew Hyung dan menghampiri Yoeja yang telah membuat Hyung ku kecelakaan karena menyelematkannya.

 

“Pergi Kau dari sini!” teriakku padanya saat akan memasuki ruang duka kakak ku. Pandangan semua orang tertuju padaku, aku tak perduli. Aku juga tak memperdulikan Onew Hyung yang berusaha menahanku.

 

“Kau Pembunuh!” teriakku pada Yoeja itu. Aku melihat mata Yoeja itu berkaca –kaca saat Onew Hyung berusaha membawaku pergi dari tempat itu.

 

“Aku benci padamu, Pembunuh!” Aku berteriak sekuat mungkin kearah Yoeja itu. Kemarahan dan kesedihan menyesakkan dadaku. Air mataku tumpah saat aku melontarkan amarahku pada Yoeja itu. Tubuhku terasa tak kuat lagi menahan kekuatan Onew Hyung yang sekarang di bantu oleh Jjong Hyung mencoba membawaku pergi dari tempat itu. Sementara aku melihat Yoeja itu menangis dan  akhirnya pergi  dari tempat  itu. Tubuhku lemas. Tubuhku ambruk. Aku berteriak sekuat mungkin. Aku tak bisa menerima kepergian hyungku. Onew dan Jjong Hyung membiarkanku menangis. Mungkin mereka juga merasakan hal yang sama denganku, namun mereka tak melampiaskannya seperti yang kulakukan.

 

Flashback End.

 

 

Aku merebahkan tubuhku dikamar Onew hyung yang sudah seperti kamarku sendiri. Semenjak kepergian Ki bum Hyung. Onew Hyung seolah menjadi obat bagiku. kehadiran onew hyung membantuku sedikit demi sedikit menerima kepergian Hyungku. Aku menatap foto hyung ku bersama Onew Hyung. Di foto itu hyungku tampak bahagia sekali. Tersenyum riang tanpa beban.

 

“Apa yang harus ku lakukan hyung?” bisikku lirih menatap foto Hyungku.

 

“Minumlah.” Aku tak menyadari Onew Hyung yang memasuki kamar dan membawakan segelas susu untukku.

 

“Sirro.” Tolak ku.

 

“Minum.” Onew Hyung memaksa.

 

“Hyung, Kau kan tau aku tak suka susu. Aku ini bukan taemin hyung.” Rengekku pada Onew Hyung.

 

“Arra. Aku tau kau buka taemin. Memangnya kau fikir pabrik membuat susu hanya untuk diminum Taemin.” Jelas Onew Hyung membuatku memajukan bibirku.

 

“Palli yo.” Desak Onew Hyung menyodorkan segelas susu padaku. Akirnya aku mengambil dan meminumnya sampai habis dengan hidup ku tutup. Aku meletakkan gelas susu itu di tangan onew hyung dan langsung berlari kedapur untuk mengambil air mineral. Aku tak tahan dengan rasa susu itu. Membuatku mual.  Dan seperti biasa Onew hyung tertawa geli melihatku yang menahan mual.  Beberapa tahun terakhir aku lebih sering menghabiskan waktu ku bersama Onew Hyung. Keluarganya yang kaya raya tidak mempermasalahkan aku yang sering menginap bahkan Omma Onew Hyung menyuruhku untuk tinggal dirumahnya saja. Orang tua ku dan orang tua Onew Hyung memang sudah bersahabat sejak kecil. Dan hubungan persahabatan itu berlanjut pada kami.

**********

 

 

Hari ini aku berangkat sekolah bersama Onew Hyung. Tapi, kami berpisah ditengah jalan karena Onew Hyung tidak lagi sekolah tapi sudah di universitas.

 

“Balajarlah yanga rajin.” Ucap Onew Hyung sambil mengacak –acak rambutku. Membuatku kesal.

 

“Ya!” teriakku padanya. Onew Hyung hanya tersenyum. Aku melanjutkan langkahku. Tapi, Langkahku terhenti saat aku bertemu dengan Minho di depan gerbang sekolah.Aku diam sejenak sebelum akhirnya  pergi berlalu meninggalkannya yang masih diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Aku malas sekali membahas apapun dengannya.

 

“Hyung!” Suara Taemin menghentikan langkahku. Taemin berlari kearahku. Aku tersenyum geli melihat tingkahnya.

“Kajja.” Taemin menggandeng tangan ku dan menarikku memasuki sekolah. Sekilas aku melihat Minho tersenyum dan melambaikan tangannya pada Yoeja yang sangat ku benci.

 

@ kantin

 

“Hyung, sebentar lagi kalian akan lulus, sementara aku masih akan kekelas 2. Pasti bosan sekali kalau tidak ada kalian disini.” Ucap Taemin padaku dan Jjong saat kami di kantin.

 

“Ya, memangnya temanmu Cuma kami di sekolah ini.” celetuk Jjong dengan mulut penuh makanan. Aku hanya tersenyum.

 

“Ah, Minho hyung.” Panggil Taemin saat melihat Minho bersama Eunjung memasuki kantin.  Nafsu makan ku langsung menghilang.

 

“Ya, kalian disini juga.” Balas Minho basa basi. Minho duduk disampingku sementara Eunjung duduk disamping Taemin.

 

“Ya, Noona kau makin cantik saja.” Puji Taemin pada Eunjung.

 

“Jeongmalyo? Gomawo Taemin ah.” balas Eunjung membuatku muak dengan situasi ini.

 

“Oh, Mian. Aku harus ke Perpustakaan. Aku duluan ya.”  Akhirnya aku memilih untuk pergi meninggalkan mereka.

 

“Hyung, kenapa kau pergi?” panggil taemin padaku. Aku hanya mengangkat tangan kiriku tanpa menoleh kearah mereka.

Minho Pov

 

Aku melangkahkan kaki ku malas. Beberapa hari ini aku merasa ada yang hilang dari diriku. Bagian yang sangat penting dari diriku. Ya, aku kehilangan sahabatku. Apakah benar pepatah yang mengatakan “ Saat kau akan mendapatkan sesuatu, bersiaplah untuk kehilangan sesuatu yang lain.” Aku memang mendapatkan cinta dari Yoeja yang juga ku cintai, tapi aku juga kehilangan sahabat ku, Key.  Sejenak aku menyanarkan tubuhku di kursi sekolah. Pandanganku menerawang keluar jendela. Membayangkan saat aku bersama Yoeja yang kucintai. Membayangkan bagaimana perjuangan ku mendapatkan cintanya. Perjuanganku meyakinkan Key, bahwa aku mencintai Yoeja yang sangat dia benci itu. Teringat akan Key yang begitu melarangku untuk mendekati Eunjung. Teringat Key yang sekarang menjauh dariku.

Semua membuatku tak bisa tidur nyenyak akhir –akhir ini. Aku mendesah pelan. Kurebahkan kepalaku di meja. Mencoba sejenak melupakan masalahku.

 

“Minho ah.” suara eunjung membangunkanku.

 

“Oh, kau.” Aku terkejut meliahatnya berdiri didepanku. Eunjung tersenyum melihatku.

 

“Minho ah.”

 

“Hm.”

 

“Mianhae.”

 

Aku mengernyitkan dahi ku tak mengerti.

 

“Gara –gara aku, kau dan Key…”

 

“Ssst..”

 

“Sudahlah, Kau tau, aku sangat menyayagi Key, dan juga aku sangat menyayangi mu. Aku akan berusaha semampuku untuk membuatnya menerima semua ini.”

 

“Annio. Minho ah, kita…” suara Eunjung tertahan. Aku bingung melihatnya.

 

“Kita putus saja.” Ucapnya.

 

“Mwo? Apa yang kau katakan?” Aku tak bisa mengerti kenapa Eunjung mengatakan hal itu.

 

“Mianhae.” Ucapnya lirih. Aku hanya terdiam mencoba mengerti dia mengatakan itu.

 

“EunJung ah, apa kau tak percaya padaku?” Aku menatap matanya yang sudah penuh menahan air mata. Dia hanya terdiam mebaglihkan pandangannya.

 

“Eunjung ah.” Kali ini aku memegang kedua bahunya, memaksanya untuk menatap mataku.

 

“Apa kau ingat? Walau selama ini kau menutupi Kenyataan bahwa kau mencintaiku,karena kerja keras ku menunjukkan aku benar –benar mencintaimu, kau tak bisa mengingkari perasaanmu bukan? Kau mencintaiku kan Eunjung?” jelasku padanya. Mataku mulai berkaca –kaca. Aku tak pernah bisa membayangkan Yoeja yang sangat kucintai ini akan pergi dari ku. Aku menatapnya, menatap matanya yang kini menjatuhkan buliran hangat dipipinya. Yoeja yang sangat Kucintai. Dia hanya mengeluarkan suara isakan, menatapku sendu. Aku melihat ketulusan itu. Ketulusan cintanya padaku, dan karena it aku tak akan membirkannya pergi dariku.

 

“Saranghae, Eunjung ah.” Bisikku sambil memeluknya erat. Eunjung hanya terisak.

=====================================================================

 

 

Sudah 3 bulan dan semuanya tidak berubah. Key masih membenciku karena hubunganku dengan Eunjung. Aku mencoba berbagai cara untuk membuat Key menerima Eunjung. Mulai dari mebuatkan Kue untuknya, mentraktirnya makanan kesukaannya, bahkan aku berdiri sepanjang malam didepan rumahnya ditengah Hujan hingga akhirnya membuatku masuk rumah sakit sekarang.

 

“Ya, kau ini bodoh sekali.” Ucap Jjong Hyung padaku. Aku hanya tersenyum kecil. Terdengar suara namja terengah –engah memasuki ruang rawatku.

 

Key Pov

 

Aku mendapat telphone dari Umma memberitahukan bahwa Umma menemukan Minho pingsan didepan rumah dengan keadaan basah kuyup, wajahnya pucat. Aku panik, aku langsung meraih jaket dan kunci motorku. Melaju dengang kecepatan 100 KM/Jam menuju rumah sakit.

 

Tiba dirmuah sakit setelah memarkirkan motor aku langsung ruang rawat Minho. Tak terfikirkan sedikitpun kebencian ku padanya. Setelah mencari –cari  ruang rawat minho, akhirnya aku menemukannya. Aku langsung membuka kamar itu dan melihatnya tersenyum pucat padaku. Aku melangkah kearahnya dan berusaha mengatur nafasku yang masih memburu.

 

“Hyung.” Panggilnya padaku lirih. Aku menatapnya diam. Sementara Onew, Jjong dan Taemin menatap kami iba. Perlahan buliran hangat menetes dipipiku. Melihatnya begitu lemah membuatku sakit. Wajahnya nampak begitu pucat karena semalaman berdiri diluar rumahku. Sementara aku menginap di rumah ibu asuhku.

 

“Kau ini bodoh sekali.” celetukku padanya. Aku melihatnya tersenyum dan menitikkan air mata. Aku berjalan kearahnya dan memeluknya erat.

 

“Mianhae Hyung.” Bisiknya lirih. Aku buru –buru mengahapus air mataku dan melepaskan pelukanku. Sekarang aku teringat lagi akan Yoeja yang ku benci itu. Minho dan juga Yoeja yang ku benci itu. Aku berdiri dan menatapnya lagi. Aku membuang pandanganku, tak kuat melihatnya tampak begitu lemah.

 

“Jadi kau melakukan ini hanya karena Yoeja itu?” Kataku padanya menahan amarah ku.

 

“Hyung…”

 

“Cukup.” Kataku masih menahan amarah.

 

“Key Ah…”

 

“Kalian tak usah repot –repot membelanya.” Ucapku pada Onew Hyung yang mencoba menahan amarahku.

 

“Hyung…” Suara Taemin mencoba mencegahku pergi. Tapi, aku tetap melangkah meninggalkan ruangan itu.

 

“Chakaman, Key Ssi.” Tiba –tiba Eunjung  masuk keruang rawat Minho. Aku membuang pandanganku saat dia menatapku.

 

“Bisa Kita bicara.” Pintanya padaku. Aku hanya diam. Tiba –tiba Eunjung menarik tanganku.

 

“Apa yang kau lakukan?” Eunjung hanya diam, sementara genngaman tangannya sangat kuat. Dia menarikku sampai ke parkiran rumah sakit yang terletak tidak jauh dari ruang minho dirawat. Eunjung melepaskan tangannya.

 

Author POv

 

“Kau sangat membenciku bukan?” Ucapnya pada Key. Key diam tak menanggapinya.

 

“Yang kau lihat itu, Namja yang tergeletak lemah itu adalah sahabatmu! Kau tau itu?!” Bentak Eunjung pada Key.  semetara yang diajak bicara tetap tak bergeming.

 

“Kau tau dia selalu memikirkanmu, setiap hari dia hanya bercerita tentang dirimu, bahkan saat kami menghabiskan waktu bersama dia selalu membawa boneka Spongebob milikmu yang diam –diam ia ambil dari kamarmu.” Eunjung menahan isaknya. Key tertegun mendengarnya.

 

“Setiap hari dia membawa boneka itu, bahkan berbicara dengannya karena dia anggap boneka adalah pengganti sementara dirimu saat pergi keluar kota. Kemarahanmu padanya dia anggap bahwa kau sedang pergi darinya untuk beberapa waktu, dia berusaha menyusulmu karena dia sangat merindukanmu yang sekarang begitu jauh darinya, kau tau betapa aku sangat menderita meliaht namja yang ku cintai menderita karena sahabatnya meninggalkannya hanya gara –gara aku.” Eunjung terus berbicara walau air mata mengalir deras dipipinya.

 

“Dengar Key Ssi, Aku sangat mencintai sahabatmu, Aku sangat mencintainya, karena itu aku tidak bisa meninggalkannya walaupun karena hal itu kau juga membencinya, aku ada disisinya karena aku mencoba membantunya untuk menghilangkan kebencian yang sudah memenuhi hatimu. Jadi tolong, akhiri penderitaannya, aku mohon padamu.” Eunjung berlutut didepan Key sambil terus meneteskan air mata. Key hanya diam tak bergeming. Key terlalu sakit mendengar kata –kata Eunjung. Key baru menyadari bahwa kebencian telah membuatnya  buta. Tak terasa Key menitikkan air mata.

 

“Jebal Key ah, tolong kembali padanya, aku akan melakukan apapun asal kau kembali padanya.” Tangis Eunjung pilu. Membuat Key memejamkan matanya perih mendengar permohonan Yoeja yang berlutut didepannya itu.

 

“Eunjung ah!” Tiba –tiba suara Minho membuat Key dan Eunjung terperanjat.

 

“Minho…” Ucap Eunjung lirih menahan isak. Sementara mata Key membulat melihat Minho berdiri lemah bersadar dinding.  Eunjung berlari kearah Minho yang mulai berjalan Gontai kearah Key dan Eunjung. Sementara Onew, Jjong mengejar Minho sementara Taemin memanggil dokter.

 

“Minho Awas!!!” Teriak Onew Hyung disusul decitan rem mobil. Dalam sesaat tubuh eunjung dan Minho tergeletak lemah.

 

“Minho!!!!!!!” Teriak Key histeris dan berlari keraha tubuh Minho tergeletak.  Sementara tubuh eunjung tergeletak lemah didepan mobil yang tadi akan menabrak Minho.

 

Eunjung POV

 

“Awas!” Teriakku saat melihat Mobil melaju kearah Minho yang berjalan lemah. Aku mendorongnya kuat –kuat. Tapi, setelah itu aku merasakan hantaman keras ditubuhku. Tubuhku terasa remuk.  Sesaat aku melihat Key memeluk tubuh Minho. Aku berharap dia akan terus memeluknya. Aku merasakan darah segar keluar dari kepalaku. Aku tersenyum melihat Minho yang mulai dalam pelukan sahabatnya, Key.

 

“Mianhae, Key ah, aku telah memisahkanmu dari sahabat baikmu. Kini dia telah kembali. Mianhae Minho ah, Jeongmal Mianhae. Kau adalah kado terindah dari Tuhan yang pernah aku miliki. Terimakasih atas semua yang kau berikan untukku, ketulusanmu, kesabaranmu, kasihmu, dan juga cintamu. Saranghae, Jeongmal Saranghae Minho ah.” Kalimat yang hanya bisa kubayangkan bisa kuutarakan pada Mereka, tapi sepertinya Tuhan tak memberikan waktu lagi padaku. Aku mendengar Minho memanggil –manggil namaku sebelum akhirnya semua terasa gelap dan tenang.

 

Minho Pov.

 

Perlahan aku membuka kedua mataku. Kulihat Key Hyung menangis dan memanggil –manggil namaku.

“Hyung.” Panggilku lirih padanya.

 

“Minho ah.” Key hyung memelukku erat. Aku melihat sekitarku. Onew Hyung dan Jjong Hyung. Tunggu, dimana eunjung? Aku teringat tadi dia mendorongku sampai aku terjatuh. Aku melepaskan pelukan Key Hyung dan mencari Eunjung.

 

“Eunjung ah, Ya, Sou Eunjung!”Aku berusaha menyadarkannya yang  tergeletak tak berdaya dan mengeluarkan banyak darah. Dokter  yang datang bersama taemin langsung memeriksa eunjung. Tapi terlambat.

 

“Eunjung Ah!!!” aku berteriak Histeris. Memeluknya erat. Mendengar dia berbisik lirih ditelingaku. “Saranghae, Minho ah. Mianhae.” Tangisku semakin menjadi.

 

Aku melihatnya tersenyum menatapku sebelum akhirnya mata sendu itu tertutup untuk selamanya.

=====================================================================

 

1 Tahun berlalu. Kini semua telah berubah. Kepergian Eunjung tak membuat hatiku berhenti mencintainya.

 

“Minho ah, kau tau kalau kau mencintai seseorang dengan tulus, dia pasti bisa melihatmu walaupun kau berada ditempat yang sangat jauh.” Aku teringat ucapan eunjung saat menceritakan tentang novel yang ia baca.

 

“Apa kau percaya hal itu?” tanyaku padanya.

 

“Em. Tentu.” Angguknya mantap. Aku hanya tersenyum melihatnya yang menampakkan wajah lucunya.

 

“Aku percaya, karena dimanapun aku berada, walaupun itu sangat jauh aku pasti bisa melihatmu dari sana.” Ucapnya padaku membuatku bingung.

 

“Saranghae, Minho ah.” bisikknya ditelingaku waktu itu.

 

“Na do Saranghae.” Aku mengecup keningnya lembut dan memeluknya erat.

=====================================================================

 

Key Pov

Yeoja itu meninggalkan penyesalan mendalam dalam hidupku. Mungkin selamanya aku akan membencinya. Karena dia telah meninggalkan kepedihan begitu dalam di hidupku. Yoeja Pabbo itu membuatku begitu membencinya dan akhirya aku membenci diriku sendiri.

 

“Mianhae, eunjung ah.” Ucapku pada batu Nisan berwarna putih tulang yang tertancap kokoh tertulis nama Sou Eunjung dihadapanku.

 

Hari ini adalah hari peringatan satu tahun kematian eunjung. Aku mengunjungi makam eunjung sendirian, membawa seikat bunga mawar putih kesukaan nya.

 

“Kau telah menunjukkan padaku kesalahan terbesar yang aku lakukan.” Ucapku pada batu nisan itu.

 

“Apa kau sekarang bertemu dengan Hyung ku?” tanya ku pada Nisan itu, menahan air mata yang sudah memenuhi mataku.

 

“Sampaikan padanya, aku sangat merindukannya. Dan katakan padanya aku minta maaf karena tak mendengar nasihat terakhirnya.” Akhirnya air mataku menetes.

 

“Aku akan menjaganya eunjung ah, Aku akan menjaganya untukmu.” Aku mengusap Batu nisan itu, membayangkan Minho yang sekarang terus terpuruk memikirkan jasad dibalik batu nisan ini.

=====================================================================

 

SAAT KEBENCIAN ITU MERASUK KEDALAM TUBUH SAMPAI KURASAKAN DARAHKU MEMANAS KETIKA MEMIKIRKANNYA. NAMUN, SEMUA BERUJUNG PADA PENYESALAN SAAT AKU MENYADARI KEBENCIANKU MENINGGALKAN KEPEDIHAN YANG BEGITU DALAM. ANDAI SAJA AKU BISA MENGGANTIKAN MU YANG TERBARING LEMAH DI BALIK NISAN INI, MUNGKIN HIDUP SAHABATKU AKAN LEBIH BAIK.

 

Key’s diary

=====================================================================

 

Aku mendekati tubuh Minho yang tergeletak lemah di ranjang kamarnya.

 

“Minho ah.” Panggilku pada Minho.

 

“Hyung.” Jawabnya lirih.  Aku tersenyum padanya, dan dia balik tersenyum padaku.

 

“Apa kau sudah mengunjunginya?” tanyanya lemah.

 

“Ehm.” Anggukku mantab.

 

“dia juga menitipkan salam untukmu, dan juga satu kalimat.”

 

“Jinja? Apa itu hyung?” minho mengernyitkan dahinya.

 

“Dia bilang dia mencintamu.” Ucapku dengan senyum mengembang.

 

“Gomawo Hyung.” Minho tersenyum padaku. Tersirat kerinduan di wajahnya.

 

“Ne, cepatlah sembuh, demam mu ini sudah terlalu lama, kau membuatku khawatir.” Ucapku padanya.

 

“Tentu saja. Aku pasti akan cepat sembuh, asal ada Hyung disampingku.” Ucapnya membuatku tersenyum haru.

 

“Ya! Kalian melupakan kami ya?”  Suara Jjong diikuti Onew dan Taemin memenuhi kamar Minho.

 

“Ya! Kalian ini,kenapa tak mengetuk pintu dulu.” Bantahku mengalihkan pembicaraan.

“hyung, kau ini jahat sekali.” rengek Taemin padaku. Minho tersenyum geli melihatnya.

 

“Sudahlah, kalian juga tau kan, aku juga sangat menyyangi kalian.” Celetuk Minho tersenyum.

 

“cepatlah sembuh hyung, tidak ada yang mengajariku main Game saat kau sakit seperti ini.” ucap Taemin manja.

 

“Ya! Kau ini.” Jjong mengacak rambut Taemin gemas.

 

“Hyung!” Bentak Taemin kesal pada Jjong.

 

“Sudah –sudah.” Onew melerai.

 

“Kita acak –acak yang ini saja.” Onew mengacak rambut Minho cepat, diikuti Jjong, key dan Taemin. Sementara Minho berteriak lemah.

 

“Ya! Kalian jahat sekali. Aku ini sedang sakit.” Teriak Minho lemah. Sementara sahabat –sahabatnya tak memperdulikan teriakan Minho dan terus menganiaya Minho dengan memukulinya dengan bantal. Suara tawa memenuhi kamar Minho.

=====================================================================

 

Mungkin benar pepatah yang mengatakan bahwa “ SAAT KAU MEMUTUSKAN SUATU PILIHAN, MAKA KAU AKAN KEHILANGAN HAL LAIN YANG BERHARGA BAGIMU.”

 

Pilihan Hidup. Hidup penuh dengan Pilihan.

=====================================================================

END

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s