Rain and Me #OneShoot

Standar
  • Author : Jangkrik Borem
  • Tittle : Rain and Me
  • Cast :

Jang Rie Jeong/Rie Jeong

Kim Ryeowook/Wookie

and other

One shot

-Happy Reading-

Pahami betul apa itu cinta dan apa itu nafsu.

All Rie Jeong POV.

Jika orang membenci hujan karena menghambat mereka beraktifitas, maka aku justru senang karena hujan mengurangi luka dihatiku. Jika orang mengumpat hujan saat turun dimalam minggu, maka aku akan berterimakasih karena hujan mengurungku disini dan membuaiku hangat di alam mimpi. Jika orang menghindari hujan karena takut basah, maka aku dengan senang hati menyambutnya, menikmati hawa dingin yang ditimbulkannya, menghirup aroma khas hujan yang begitu melekat di indera penciumanku.

Entah sejak kapan aku jadi begitu menyukai hujan.

Ku pandangi hujan pagi ini lewat jendela kamarku. Karena kamarku berada di lantai 2 dan menghadap ke jalan, maka dapat ku saksikan dengan jelas aktifitas orang-orang di jalanan setiap pagi.

Sesekali aku tertawa manakala melihat ibu-ibu pulang belanja dari warung di seberang sana, tangan kanannya memegang payung sementara yang kiri menjinjing tas belanjaan berisi sayuran dan masih harus `menyincing` kain sarung yang melilit di pinggangnya agar tidak basah kena air hujan. Atau melihat anak-anak sekolah berbondong-bondong berteduh di bawah sebuah payung yang kelebihan muatan, mereka saling menyalahkan satu sama lain, entah menyalahkan apa dan siapa, tapi mereka akan dengan kompak memaki ketika sebuah mobil melintas dan tanpa sengaja menyipratkan air kotor ke seragam mereka karena kondisi jalan yang memang rusak dan berlubang.

Sebuah hiburan pribadi yang tak pernah aku lewatkan setiap pagi saat musim hujan seperti sekarang ini.

Mereka benar-benar `bodoh` itu kan hanya hujan,, mengapa mereka harus menyusahkan diri sendiri??hahahaha…

Tawaku terhenti saat mataku menangkap sosok yeoja berseragam sekolah begitu menikmati hujan,sesekali ku lihat senyumnya terukir dari balik payung transparan. Tangannya dengan sengaja ia julurkan agar dapat menangkap air yang turun dari langit itu,lalu kepalanya menyembul dr balik payung, mendongak berusaha menatap langit, untuk sejenak ia singkirkan payungnya agar tak menghalangi pandangannya lalu memayungi tubuhnya lagi dan tersenyum puas.

Ku rebahkan ragaku di atas kasur lalu otakku mulai memutar masa-masa SMA

***

“Aish.. Hujan lagi!! Menyebalkan” ucap seorang namja yang tengah berdiri disampingku,sambil sesekali melirik jam ditangannya dan beralih ke jalan raya. Dia terlihat begitu gelisah(sumpah bukan geli-geli basah).

Aku tersenyum melihat ekspresinya yang lucu itu,ditambah wajahnya yang imut.

Namja itu bernama Kim Ryeowook biasa di panggil Wookie, dia teman sekelasku,dan sudah sejak kelas 1 aku begitu tergila-gila padanya, dia salah satu obsesiku mengapa aku betah di sekolah yang menyebalkan ini. Tapi sebuah tindakan nyata tak pernah aku lakukan untuk menunjukan rasa sukaku padanya, nyaliku terlalu ciut.

Aku juga tahu dia sudah punya yeojachingu namun makhluk seperti apa yang bisa mengelak dari perasaan seperti ini?? Mungkin boleh ku sebut cinta,selama aku tidak merugikan siapapun bagiku sah-sah saja jika aku mencintai namjachingu milik yeoja lain.

Selama hampir 3th sisa waktu belajarku aku habiskan untuk mengaguminya, memujanya setiap malam, menghayal tentangnya setiap hari dan berdoa semoga Tuhan memudahkan jalanku untuk dekat dengannya.

Dan hari ini terjadi juga,hihi^^

“Hey.. Rie jeong-a! Kenapa kau senyum-senyum seperti itu? Kau membuatku takut”

Ommona..>o< dia menyapaku,,

“em,?,ah! Ngga ada, hanya ada hal yang lucu aja” Jawabku malu-malu sambil menghindari pandangan Wookie. Berdekatan dengannya ternyata tidak semudah yang aku bayangkan selama ini, apalagi jika harus menatap mata indahnya sungguh tidak sanggup.

“Kau menertawaiku ya??”

“Annya.. Aku hanya keinget hal lucu kemarin.”jawabku mengelak, kulirik ke arahnya dia masih menatapku, cepat-cepat ku larikan pandanganku ke jalan raya

“Kenapa ngga ada satupun bus yang lewat? Ngga tau apa orang udah kelaperan.” Padahal setiap nafasku slalu berdoa semoga benar-benar tak ada bus yang lewat agar aku bisa menikmati kesempatan langka ini lebih lama. Tuhan terima kasih,,hujan oh hijan sering-seringlah menahannya untukku.

“Rie jeong?,,” panggil Wookie

“hmm” jawabku tanpa menoleh

“Rie jeong..” kali ini nadanya meninggi.

Aku beranikan diri untuk menoleh dengan segenap perasaan gerogi,

dan..

‘Tuk’

Jari telunjuk Wookie mendarat tepat di pipi kiriku.

“Aw” pekikku pelan seraya mengelus pipi kiriku.

“jika sedang bicara dengan orang,, tatap lawan bicara, jangan buang muka seperti itu, untung ngga ada pemulung lewat,kan bahaya kalau buang muka sembarangan”

“hehe..”

“malah ketawa lagi,,udahlah ketawanya mirip kuda blasteran kuntilanak,jelek tauk!!” ledek Wookie lalu menjulurkan lidahnya “Wlee”

Tubuhku terasa begitu ringan di ejek seperti itu olehnya*gila*.

Hujan makin deras, aku makin senang, karena itu artinya Wookie makin lama tertahan disini bersamaku^^.

Berkali-kali wookie memaki hujan yang tak juga reda dan bus yang tak kunjung datang,lain halnya denganku yang berkali-kali memuji hujan.

“kenapa gelisah gitu sih?”

“malam ini ada acara keluarga,, sangat penting!”jawab Wookie makin gusar dan makin nafsu memaki Hujan.

“acara apa emangnya?”

“acara lamaran”

JEDERR!!…

Suara petir menggelegar terdengar begitu jelas.

“lamaran?? Siapa melamar siapa?” tanyaku dengan nada bergetar.

Ketakutan mulai menjalar menggerogoti hatiku.

“Menurutmu siapa lagi? Masa Appaku yang mau lamaran..”

“tapi secepat itukah? Kau kan masih SMA” ucapku rada protes.

“Aku tak ingin kehilangannya,dia begitu berarti bagiku, aku ingin mengikatnya sebelum ia pergi”

“pergi??”tanyaku tak mengerti sambil terus menahan air mata agar tak membanjiri wajahku.

“Dia akan pindah, ikut familynya ke Jepang, aku tak mau ada namja lain yang berani mendekatinya saat aku tak di sisinya.”

“Apa kau akan menunggunya kembali?? Sampai kapan?”

“Aku tak akan menunggunya, tapi aku akan menyusulnya setelah selesai ujian kelulusan nanti”

Terlihat jelas raut bahagia di wajahnya. Aku tak berani lagi menatapnya terlalu lama. Aku duduk dengan lesu di bangku halte yang sedari tadi kedinginan karena tak satupun makhluk duduk d’atasnya. Aku begitu kecewa, bahkan kisahku berakhir bahkan sebelum dimulai.

Hendak ku ucapkan kalimat ini ‘jika aku tak bisa memilikimu maka siapapun tak akan ada yang bisa milikimu’ namun yang keluar justru kalimat klise ini “selamat ya,,semoga kalian bahagia” seraya ku ulurkan tangan.

Ku telan ludah dengan susah payah karena tiba-tiba saja tenggorokanku terganjal oleh sesuatu yang begitu menyakitkan, membuatku kesulitan untuk mengucapkan kalimat-kalimat lain.

Dia menjabat tanganku lalu tersenyum.

Hujan mulai reda,langit juga mulai gelap, dan udara begitu dingin menusuk hingga ke ulu hatiku.

“kau tidak apa-apa Rie Jeong? Apa kau kedinginan?”

Tin..Tin..

Sebuah mobil berwarna biru berhenti tepat di depan kami, se’orang yeoja yang berada di balik kemudi menyembulkan kepalanya lewat jebdela mobil

“sayang..” sapanya lembut tak lupa tersenyum ramah.

“Oh.. Calon istriku sudah datang” Ucap Wookie kegirangan dan melupakan masalah bus yang tiba-tiba saja tak kunjung datang satupun. Ia berlari menghampiri mobil itu,seketika itu juga jantungku terasa disayat-sayat, dan hatiku serasa dikuliti,begitu pedih dan menyakitkan. Namjaku.. Air mata yang sedari tadi kutahan kini tak betah lagi hanya tinggal di pelupuk mata,ia mengalir deras tak terkontrol membanjiri wajahku. Hawa dingin yang tadi membekukan ragaku kini berubah menjadi hawa panas yang membakar ruang hampa di hatiku.

“Gomawoyo” Bisik Wookie lembut tepat di telingaku sambil menyematkan jaket ke pundakku lalu pergi meninggalkanku yang masih mematung. Sedetik kemudian ia lenyap dari pandanganku,pergi bersama yeoja itu, yeoja yang memanggilnya ‘sayang’, yeoja yang begitu dicintainya, yeoja yang mengalahkanku terang-terangan bahkan sebelum kami sempat berduel, yeoja yang membuatku semakin terlihat menyedihkan.

Aku tidak rela,sungguh tidak rela ‘Namjaku’ diambil olehnya,, Tuhan jangan persatukan mereka di hadapanku.

.

.

DUARR..!!!

Suara itu membuyarkan kesenduanku.

Jalanan yang tadinya sepi tiba-tiba saja ramai oleh orang-orang yang berlari ke satu arah. Ku edarkan pandanganku mengikuti kemana larinya orang-orang itu.

Kutangkap sosok yeoja tengah menangis histeris sambil dipegangi oleh beberapa orang.

Ku dekati dia, kutatap wajahnya lekat-lekat, hampir aku tak percaya dengan penglihatanku sendiri. Ku bungkap mulutku dengan telapak tanganku lalu ku alihkan pandanganku dari yeoja di hadapanku ke mobil yang sudah terbalik karena menabrak tiang listrik,tampak sosok Namja yang begitu ku kenal berada di sana, terkulai lemah tak berdaya berlumuran darah. Orang-orang mulai mengerumuni mobil berusaha menyelamatkan Namja yang terjebak di dalamnya,sementara yeoja di hadapanku terus menangis histeris dan meronta ingin menghampiri Namja di dalam mobil itu.

Pelupuk mata yang belum sempat kering harus kembali basah oleh air mata yang makin deras keluar,, tapi entah setan apa yang merasukiku aku justru tertawa. Tuhan cepat sekali kau mengabulkan do’aku,,

Melihat keadaan sekitarku aku merasa senang dan menang, tapi hatiku menangis dan terus menyesal,di setiap nadiku aku terus memaki diriku sendiri, disetiap nafasku aku terus menghujat diriku sendiri.

Hujan trun lagi seolah-olah ikut merasakan kebahagiaan yang misterius ini,merayakannya bersamaku. Aku tertawa dan menagis bersamaan,aku tak tahu mana yang benar.

***

Tok.. Tok.. Tok..

Ceklek..!!

Seseorang berpakaian rapi serba putih datang menghampiriku. Segera ku bangkit dari ranjang dan duduk di tepian.

“apa kau senang nona karena hujan turun lagi?” sapanya ramah sambil tersenyum.

Aku mengangguk lalu menangis.

Dia mengelus kepalaku lembut “kau sudah minum obat?”

Aku menggeleng lalu tertawa.

“Nona,,” ucapnya pelan

“jangan seperti ini terus,kau tak akan sembuh,, aku harap kau bisa melupakannya dan berhantilah menyalahkan dirimu sendiri,” lalu orang itu memberiku segelas air putih dan menyuruhku meminum obat, 2tablet berwarna kuning. Aku menurut saja.

“Dokter,,sedang apa aku disini? Aku tidak sakit”tanyaku begitu selesai menenggak obat.

“setiap hari kau menanyakan hal yang sama,setiap hari pula aku menjawab dengan jawaban yang sama,, nona,kau disini untuk menyembuhkan jiwamu yang sakit”

“dokter,,mengapa kau tak pernah menanyakan kenapa aku selalu bertanya hal yang sama setiap hari?”

“memang kenapa?”

“karena aku tak tahu kenapa aku berada di sini”

*hening

“Dasar Sinting!!..” ucap orang yang biasa kupanggil dokter itu, kemudian berlalu sambil membanting pintu kamar yang menurutku lebih mirip penjara, hanya saja catnya warna putih.

Hujan makin deras,,dan aku tertawa puas.

End~

RCL ya memberdeul ^^ Hargai author

shared here by Hope story drom fanfiction

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s