Reflection #OneShoot

Standar

Oneshoot            : Reflection

Cast                       :

Jang Wooyoung

X IU/Lee Ji Eun

Support by          : Christina Aquilera-Reflection

 

+++

Kapan aku bisa merasa bahwa ‘aku bisa melakukannya?’ Kapan aku bisa mengatakan pada diriku sendiri ‘inilah aku?’

 

+++ 

 

Who is that girl I see Staring straight back and me Why my reflection someone I don’t know Must I pretend that I someone else for long time When will my reflection show, who I am inside?

 

+++

Kau tahu tidak, semalam dikelas bernyanyi Lee Ji Eun mengamuk karena nilanya yang paling rendah disana..”

 

“Apa kalian tahu? Bahwa Lee Ji Eun pernah menyelinap keruang guru dan menambahkan nilainya agar bisa naik kelas. Ck~ Yeoja itu parah sekali..”

 

“Dan apa kalian tahu? Kalau Ji Eun pernah melawan Mrs.Han bahkan sampai menampar Mrs.Han, karena memberikannya nilai yang rendah dan mengatakan bahwa suara Ji Eun tidak bagus..”

 

“Dia seperti monster, untung saja wajahnya imut..”

 

Begitu mendengar suara yang seperti berbisik-bisik itu Jang Wooyoung menatap kearah mereka sembari mendecakkan lidah, keempat orang yang sepertinya menyadari tatapan Wooyoung itu langsung terkesiap dan langsung beranjak pergi.

Wooyoung hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala selama sudah 2 tahun dia bersekolah disekolah seni ini. Dan kabar yang sama, yang selalu ia dengar, yang menjadi topic pembicaraan, yang merupakan berita buruk adalah setiap siswa maupun siswi yang selalu menyebutkan nama Lee Ji Eun. Seorang Yeoja yang berubah 360 derajat dari pertama murid-murid melihatnya.

Lee Ji Eun menjadi sangat brutal. Lee Ji Eun berubah entah karena apa.

Untuk kedua kalinya Wooyoung mendengar suara sekumpulan orang-orang berbisik meskipun ia tak tahu apa yang tengah diperbincangkan, namun Wooyoung yakin jika yang dibincangkan oleh mereka adalah yeoja itu, yeoja manis yang tiba-tiba saja bersikap kasar dan tak acuh.

 

“Aish~ Bagaimana kalian bisa menghakimi dia seperti itu hah?..”Ucap Wooyoung pelan, sudah panas telinganya mendengar gossip-gosip yang entah benar atau tidak itu, sudah bosan ia mendengarkan nama Lee Ji Eun yang mereka buat menjadi tambah buruk lagi, sudah lelah ia melihat sikap teman-temannya yang selalu mengatai Lee Ji Eun, yang sebenarnya mereka tak tau ada apa dibalik alasan itu.

Wooyoung bangkit dari duduknya dikantin ini, memasang earphone ditelinganya kemudian berjalan sambil menyakukan kedua tangan dibalik jas seragamnya. Fikirannya terus meneriakkan nama Lee Ji Eun, Lee Ji Eun dan Lee Ji Eun. Selama ini ia tak pernah percaya dengan gossip tentang yeoja itu meskipun memang benar adanya, Ia mengerti pasti ada alasaan, ia mengerti pasti ada yang nantinya diungkapkan..Untuk sekarang bahkan sejak Lee Ji Eun berubah ia hanya ingin berada dekat dengan Lee Ji Eun, ingin ada disamping Lee Ji Eun meskipun Lee Ji Eun tidak akan menganggap Wooyoung nantinya.

Lee Ji Eun bahkan sama sekali tidak mempunyai teman.

Wooyoung mendesah jika mengingat-ingat semuanya tentang Lee Ji Eun, mereka hanya teman sekelas dan tak pernah bertegur sapa.

Ji Eun menjadi sosok yang sangat dingin, setelah satu bulan saat tahun pertama ia tidak sekolah dan kembali bulan berikutnya. Ia sangat aneh.

Langkah Wooyoung terhenti tepat diruangan kepala sekolah, ia mendengar sedikit pembicaraan dari dalam sana dan begitu mengamati dari celah yang ada ia tahu siapa yang sedang berhadapan dengan Kepala sekolah itu, orang yang mempunyai kedudukan tinggi dan disegani disekolah ini.

Mata Wooyoung menyipit seketika, ia tahu bahwa siswi yang didalam sana adalah Lee Ji Eun. Tergambar jelas dimata Wooyoung cara yeoja itu mengikat rambut hitamnya.

 

“apa yang terjadi?..”batin Wooyoung sambil mengusap dagunya dengan telapak tangan. Yang jelas dapat dilihatnya Ji Eun hanya menunduk dengan serba salah, apa yang dilakukan yeoja cantik itu memangnya?

Wooyoung melangkah mundur karena merasa tidak sopan, dalam hati rasa penasaran menguasai didalam sana. Ada apa dengan Ji Eun? Itulah yang terus ia pertanyakan sejak detik ia melihat Ji Eun diruangan kepala sekolah.Wooyoung sedikit menjauh namun masih berada disekitar depan ruangan ini, menyandarkan punggungnya disalah satu dinding dengan kepala yang menengadah.

Ia tak mengerti kenapa ingin sekali berada didekat Ji Eun saat ia tengah mengalami kesusahan, padahal yeoja itu pernah menamparnya dan memaki-makinya karena hanya ingin menolong Ji EUn yang tengah berada ditengah kerubungan orang-orang yang meledeknya.

Wooyoung juga tidak mengerti mengapa dia ingin menjadi bagian dalam hidup Ji Eun yang jelas-jelas tidak pernah mau mendekat dengannya, hanya bisa dia tatap dari kejauhan dan wajah itu sama sekali tidak pernah tersenyum.

Tapi…semakin seperti itu semakin Wooyoung ingin berada didekat Ji Eun.

Woouyoung tersentak begitu pandangannya yang tengah menatap dengan kosong mendapati pintu ruangan kepala sekolah terbuka dan terdengar bunyi decitan karenanya, ia buru-buru menegapkan diri dan menyaksikan seorang yeoja yang keluar dari sana.

Lee Ji Eun dengan matanya yang sembab dan wajahnya yang sedikit pucat. Seperti biasa Ji Eun selalu mengikat rambutnya menjadi ekor kuda dengan membiarkan poni pendeknya menutupi dahinya.Wajahnya selalu datar, wajahnya selalu menganggap semua orang lain sama, yaitu : tidak ada yang pernah mengerti dirinya.

Melihat itu semua Wooyoung membatin “Maukah kau percaya aku tidak seperti mereka?..”

Tatapan mata Ji Eun kosong dan Wooyoung mulai khawatir. Ia takut tiba-tiba Ji Eun terjatuh atau semacamnya, sudah 6 detik berlalu Ji Eun melangkah kearah yang berlawanan dari tempat Wooyoung berdiri. Dilihatnya punggung Ji Eun yang melangkah jauh dengan langkah yang diseret-seret.

Dan sampai kapanpun Wooyoung akan selalu merasa jika dia harus ada didekat Ji Eun meskipun Ji Eun tak akan menganggapnya.

Kaki Wooyoung melangkah dengan lincah, berjalan dibelakang Ji Eun yang langkahnya sangat pelan sekali.

“hyak!..”Seru Wooyoung dan dengan gerakan kilat ia berlari kearah Ji Eun yang tak jauh darinya, menangkap tubuh Ji Eun yang dalam sekejap mata Wooyoung memandangnya langsung terhuyung. Lengannya menahan punggung Ji Eun dengan kedua mata mereka yang bertemu, Wooyoung dengan wajah khawatir dan Ji Eun dengan wajahnya yang pucat juga sayu, matanya tidak tertutup hanya menyipit dan tubuhnya yang lemas berontak untuk bangkit dari pertahanan Wooyoung.

 

“Kau..kau baik-baik saja?..”Tanya Wooyoung agak ragu dan terbata, Ji Eun masih tampak sedikit bingung dan hanya bisa mengerjapkan matanya dengan gerakan pelan.

 

“Ji Eun-ah?..”Panggil Wooyoung lagi dengan lembut.  Untuk yang terakhir Ji Eun mengerjapkan matanya dan berontak bangkit dari pertahanan Wooyoung.

 

“Apa kau baik-baik saja?..”Tanya Wooyoung untuk kedua kalinya, yang sebenarnya sejak Ji Eun berubah ingin ia pertanyakan. Ingin sekali rasanya ia menyentuh pundak Ji Eun bahkan mendekapnya tetapi ia tahu Yeoja itu akan berontak. Alhasil, sekaarang Jang Wooyoung hanya berdiri didepan Lee Ji Eun.

 

“Aku taka pa..”Jawabnya singkat dengan pandangan kosong.

 

“Jinjjayo~?..”

 

“Ne..”Ji Eun menatap Wooyoung yang lebih tinggi darinya lalu hanya beberapa detik berlangsung ia memalingkan wajah.

 

“Gomawo..”Ucap Ji Eun lirih, belum sempat direspon oleh Wooyoung yeoja itu kembali melangkah pergi.

 

Wooyoung memperhatikan punggung Ji Eun yang semakin menjauh, langkahnya amat pelan seperti tak sadar bahwa ia tengah berjalan.

 

“Ji Eun-ah..”Lirih Wooyoung, menunduk untuk beberapa saat lalu ia mengepalkan tangannya. Ia membuntuti langkah Ji Eun dengan hati-hati agar yeoja itu tak menyadari keberadaannya. Ia masih ingin tahu apa yang terjadi dengan Ji Eun, masih ingin tahu kenapa Ji Eun menjadi seeperti ini.

Ji Eun berbelok kearah Toilet Wanita, masuk kedalamnya masih dengan keadaan seperti tak sadar. Wooyoung yang menyadari Ji Eun masuk kedalam toilet wanita itu berhenti dan menyandarkan punggung sejenak.

 

“Aish~kenapa dia harus ketoilet?..”Wooyoung menghentakkan kepala bagian belakangnya dengan pelan dan berwajah frustasi. Dia terlalu penasaran dengan yeoja itu. Tapi jika dia masuk ketoilet apa yang akan terjadi?

 

“Baiklah..”Desah Wooyoung lalu celingukan,menatap kekiri dan kekanan memastikan setelah salah satu murid perempuan keluar tidak  ada lagi murid perempuan didalam sana kecuali Ji Eun. Wooyoung bergerak pelan sambil mengamati setiap sudut nerharap tidak ada yang melihatnya. Dengan gerakan kilat dan sekali sentakan ia masuk kedalam toilet lalu menutup pintunya dengan cepat namun perlahan.

Sama sekali tidak ada Lee Ji Eun..Pikir Wooyoung saat ia melihat kesekeliling namun tidak ada Ji Eun disana. Mungkin Ji Eun sedang ada didalam kamar mandi,ada disalah satu dari 3 kamar mandi yang tersedia disana…

Wooyoung masih menunggu sambil menghadap kearah kaca besar yang disediakan, menatap  bayangan tubuhnya sendiri sambil melipat kedua tangan.

“hyak.Lee Ji Eun sangat membuat Jang Wooyoung penasaran..”Ucapnya tapi tak menimbulkan suara, berbicara pada bayangannya dikaca toilet ini. Tiba-tiba terdengar suara sebuah isaan dari salah satu kamar mandi itu, Jang Wooyoung mempertajam pendengarannya dan menjaga jarak…Ia yakin suara Yeoja yang terisak itu adalah Lee Ji Eun, dan jika Lee Ji Eun keluar ia akan segera masuk disalah satu kamar mandi yang ada disini..

“Hiks..”

Kini mata Wooyoung menyipit ketika isakan itu semakin terdengar kuat dan sering. Dia menahan rasa khawatirnya pada Ji Eun, menahan hanya dengan terus memperhatikan.

“Eomma..Hiks..”

Hati Wooyoung bergetar, suara yang menyebutkan kata ‘mama’ itu membuat Wooyoung semakin penasaran dengan Ji Eun. Ada apa dengan eommanya? Apa yang terjadi memangnya?

“Eomma, Waeyo? Waeyo eomma?!!..”Suara Ji Eun terdengar diusahakan lantang namun akhirnya bergetar juga, pecah dan menjadi sebuah tangisan yang kuat. Wooyoung mendengar itu semua, mengepalkan sebelah tangannya dengan erat namun konsentrasinya masih pada salah satu kamar mandi yang ia yakin menyembunyikan Ji Eun didalam sana.

Sudah lama ia mengetahui Ji Eun dan ingin sekali dia berada didekat Ji Eun.. Seringkali, bahkan saat ini ketika Ji Eun menangis ia hanya ingin agar ia bisa memeluk Ji Eun dan menenangkan Ji Eun..

“Eomma..”Kini suara Ji Eun terdengar sangat lirih namun masih bisa ditangkap oleh pendengaran Wooyoung “Eomma aku lelah..”

Sebelah tangan Wooyoung yang tak terkepal semakin erat menggenggam daun pintu salah satu kamar mandi yang kosong ini. Apakah Ji Eun baik – baik saja? Hanya itu..itu dan itu yang menjadi beban fikirannya.Untuk seorang yeoja yang benar-benar mengusik rasa ketenangannya akibat penasaran yang mendalam…

Klek!!

Seketika pintu itu terayun keluar, mata Wooyoung membulat dan dengan gerakan kilat ia bersembunyi ditempat yang menjadi tempat teramannya. Benar kan dugaannya jika Ji Eun ada didalam kamar mandi itu? Pintu tempat Wooyoung bersembunyi kini tertutup rapat seutuhnya sehingga ia tidak bisa menyaksikan apa yang terjadi dengan Ji Eun.. Wooyoung menengadah sambil memejamkan matanya, mondar-mandir diruangan yang jujur sangat sempit dan pengap ini, mengatur bagaimana caranya ia bisa melihat Ji Eun.

“Aisssh~ bagaimana sekarang? Aku ingin sekali tahu..”Lirih Wooyoung dengan wajahnya yang cemas dan memelas, mana tahu saja ada keajaiban dia menjadi tembus pandang dan tak terlihat oleh Ji Eun.

“Eomma..”

Suara yang lembut itu kembali terdengar.Ya!Ji Eun masih ada disana dan apa yang harus Wooyoung lakukan? Dengan perlahan dan hati-hati Wooyoung membuka pintu yang menjadi tempat teramannya, hanya menyisakan celah kecil yang bisa digunakannya untuk melihat Ji Eun. Ji Eun kini tengah memperhatikan bayangan dirinya pada kaca yang disediakan, cukup jauh dari jarak Wooyoung yang berada dikamar mandi paling ujung. Kedua alis Wooyoung bertaut dan keningnya berkerut, memperhatikan dengan sangat seksama dari celah yang tidak memuaskan pandangan mata ini.

Dilihatnya bayangan diri Ji Eun yang terpantul dikaca, yeoja itu kini tengah menunduk dengan kedua tangan yang tertumpu pada wastafel dibawahnya. Dapat ditangkap oleh Wooyoung pundak Ji Eun yang bergetar dan suara isakannya yang memenuhi ruangan ini. Didetik berikutnya Wooyoung menangkap Ji Eun yang menatap dirinya sendiri dikaca, ia memiringkan kepala dan tersenyum pahit. Baiklah!Yeoja itu tidak menyadari keberadaannya.

“Siapa aku?Apa aku seperti ini?..”Wooyoung menangkap suara Ji Eun yang menucapkan serentetan kalimat dengan suaranya yang lirih dan serak. Matanya kosong menatap kearah bayangan dirinya, seperti menanyakan sesuatu, untuk nya dan hanya dialah yang mungkin mampu menjawabnya.

“Eomma, apa aku seperti ini?..”

Eomma…Wooyoung mengangguk-anggukkan kepala mendengar pernyataan Ji Eun yang terus menyebutkan nama Eommanya. Pasti ini semua ada sangkut paut dengan Eommanya kan? Tapi apa?

“Eomma, jawab aku..”Dan selang beberapa detik pundak Ji Eun kembali berguncang dengan hebat, kepalanya tertunduk sangat dalam serta tangan mungil itu terkepal kuat. AH~ rasanya Wooyoung ingin berlari keluar dan dengan segera memeluk Ji Eun yang sama sekali tak pernah mengerti bahwa Wooyoung memperhatikannya dan mau berteman dengannya, bersamaan dengan itupun Wooyoung menahan rasa khawatir yang ingin meledak keluar juga menahan hatinya yang tak kuat ketika melihat Ji Eun terisak, karena baru kali ini ia melihat Ji Eun yang menangis dan ini sangat menyakitkan…sangat menyakitkan untuknya…

“Apa aku harus terus seperti ini eomma? Mereka jahat dan mereka menang.Apakah itu hal yang adil?…”

Maksudnya? Wooyoung membatin seperti itu ketika terdengar pernyataan yang keluar dengan lirih dan serak dari mulut Ji Eun. Apa maksudnya? Wooyoung menundukkan kepala dan berfikir…Apakah ini tentang keadilan?

“Aku sudah lelah..”Dan yang terakhir yang ditangkap Wooyoung ialah Ji Eun yang menghidupkan keran membasuh mukanya dengan kedua tangan dan beranjak pergi keluar… Bersamaan dengan Wooyoung yang juga keluar dari tempat persembunyiannya. Ia berdiri tepat ditempat Ji Eun tadi berdiri, menatap bayangan dirinya yang dipantulkan dicermin.

“Ji Eun-ah, aku ingin sekali tahu apa yang terjadi denganmu…Jeongmal…”Wooyoung menatap dalam kearah bayangan dirinya, menimbulkan halusinasi jika bayangannya itu adalah Ji Eun dan mereka bertatapan…Sebuah tatapan penuh makna yang Wooyoung inginkan.

 

+++ 

 

Look at me,  You may think you see who i really am  But you’ll never know me  Everyday its as if I play a part  Now i see if i wear a mask  I can fool the world but i cannot fool my heart  

 

+++

 

Materi tentang menulis sebuah lagu telah selesai dan fikiran Wooyoung jujur saja tidak berada disana.Setelah guru tersebut keluar dia masih saja memperhatikan satu orang yang menjadi fokusnya, seorang yeoja yang duduk didepannya, dibagian samping barisan tempat duduk. Pandangan Lee Ji Eun masih saja kosong dan Wooyoung juga yakin yeoja itu sama seperti dirinya. Namun ketika guru bertanya ia selalu saja bisa menjawab dengan baik dan tepat…Jujur saja suara Ji Eun memang sangat bagus tapi entah kenapa banyak orang yang membencinya, entahlah~

Seluruh murid telah keluar dan menyisakan Ji Eun serta Wooyoung didalamnya. Wooyoung yang terus memperhatikan Ji Eun, matanya mengekori sosok ji Eun tanpa ingin terlepas sedikitpun sementara Ji Eun hanya diam sembari menggoreskan tinta dikertas putih yang ada dihadapannya.

Wooyoung bersiul pelan berharap Ji Eun mau berbailk arah dan menghadap kearahnya, atau duduk dikursi yang ada didepan Wooyoung atau mengajaknya kekantin. Jujur saja, sejak kejadian tadi –ia yang menyangga tubuh Ji Eun yang hampir terjatuh—ia berharap Ji Eun mau mengajaknya berbicara ataupun membahasnya sedikit namun nihil. Ji Eun berlaku seolah sama sekali tak terjadi apa –apa.

Asih~Yeoja itu memang benar-benar! Batin Wooyoung, tidak marah hanya sedikit kesal. Bahkan sejak tadi dia mengekori sosok Ji Eun , yeoja itu tak merespon hal apapun. Apakah ia tak sadar jika terus diperhatikan?AH!Tidak peka sekali…

“kenapa kau terus memperhatikanku, Hah?..”

Wooyoung tersentak, punggungnya menegap seketika. Suara siapa itu ? Hanya ada Ji Eun dan dia kan diruangan ini?Apakah itu suara Ji Eun? Ji Eun mengajaknya berbicara?

 

“Mwo?..”Tanya Wooyoung terbata, dia melihat kearah Ji Eun dengan matanya yang melebar sementara Ji Eun bergeming disana, membuat kedua alis Wooyoung bertaut karenanya.

 

“Ne..Kau..”Dan Ji Eun memutar tubuhnya menghadap kearah tempat duduk Wooyoung yang masih larut dalam kebingungannya. Sementara Ji Eun menatap datar kearah Wooyoung.Ah!Dia menatapku? Batin Wooyoung

 

“Aku..Oh..Aku? Mianhae Ji Eun-ah..” ucap Wooyoung dengan nada yang bersahabat seraya tersenyum dan menunjukkan senyum matanya. Ji Eun memutar kedua bola matanya dan mendesah keras.

 

“Aku tahu kau mengintipku saat ditoilet tadi.. Dasar namja yang aneh, apa kau tidak punya kerjaan lain..?..”Ungkap Ji Eun, masih dengan nada suara yang datar dan dingin.

 

“M..Mwo?!!..”Wooyoung tak percaya. AH!Bukankah sama sekali yeoja itu tak melihatnya? Wooyoung pun jadi gelisah dibuatnya.

 

“Ne..Jangan kau fikir aku tak tahu..”Ji Eun mengangkat kedua bahunya, menatap Wooyoung tajam dan bangkit berdiri. Wajah itu amat sangatlah dingin, dalam hati WOoyoung berkomentar bahwa tak seharusnya Ji Eun seperti itu, itu bukan Ji Eun….Sesuatu yang terus membatin dalam diri Wooyoung.

 

“Belajarlah sopan sedikit Wooyoung-ssi..”Dan Ji Eun mengucapkan nama Wooyoung. Wooyoung memperhatikan Ji Eun yang mulai melangah, ia entah kenapa merasa bahagia ketika suara merdu itu menyebutkan namanya. Wooyoung tersadar, mengerjapkan kedua bola mata dengan cepat dan mengejar langkah Ji Eun.

 

“Ji Eun-ah..”Wooyoung meraih tangan Ji Eun dan menahannya, kini mereka terhenti didepan pintu kelas dengan Ji Eun yang berontak dan Wooyoung dengan wajahnya yang meyakinkan… bahwa ia tak seperti orang lain.

 

“Mwo?!..”Tanya Ji Eun, datar,tegas dan dingin.

Sempat Wooyoung ragu beberapa detik tapi ia melancarkan aksinya untuk buka mulut dan bertanya “Aku minta maaf jika tak sopan Ji Eun-ah..”Ungkap Wooyoung dengan segala kerendahan hatinya.

Ji Eun membulatkan bibirnya, membentuk huruf O dan mengucapkannya tanpa mengeluarkan suara.

Wooyoung mendesah dan meyakinkan diri “Ada apa dengan Eomma mu? Kenapa kau menangis tadi? Apa yang terjadi?..”

Bisa Wooyoung rasakan tangan Ji Eun yang tengah ditahannya menegang dan ingin berontak , mata hitam nan bening milik yeoja itu juga membulat dan terlihat seperti takut. Wooyoung semakin memperkuat genggamannya, berharap dengan sentuhan itu Ji Eun bisa merasakan sebuah hal…Yang selalu ia dapatkan ketika melihat yeoja ini.

 

“Ji Eun-ah..”lirih Wooyoung lembut dan halus, Ji Eun mengerjapkan kedua matanya dan tatap mata itu kembali tampak tajam, dia mendongakkan kepala menatap Wooyoung yang lebih tinggi beberapa senti darinya. Mata itu sebenarnya lembut… tak seperti ini.

 

“Sudah kuduga kau pasti menguping Wooyoung-ssi..”Tuturnya dengan ketus lalu mendecakkan lidah, tangannya berontak untuk terlepas namun Wooyoung masih menahannya.

 

“Kau…aku tak sama dengan mereka yang kau anggap jahat dan tak bisa mengerti dirimu..Aku tidak seperti mereka..”

Dan sudah lama Wooyoung memendam kata-kata itu, yang ia siapkan matang-matang untuk ia ucapkan kepada Ji Eun.Matanya lurus dan fokus pada satu titik. Lee Ji Eun.

 

“Aku ingin kita dekat…Aku ingin berteman…Aku ingin mengetahui apa yang terjadi..”

Lalu setelah kata itu berhasil terucap tangan Ji Eun sedikit melemas, Wooyoung bisa merasakannya dengan sangat amat.

 

“Kau..”Lirih Ji Eun, matanya mendadak kosong “Kau tak perlu tahu apa – apa, kau hanya cukup bersikap seperti mereka yang membenciku..hanya itu..”Ji Eun menyentakkan tangannya dan seketika terlepas.Bermaksud melarikan diri dari tempatnya berpijak namun entah kenapa langkahnya terasa sangat berat. Dia belum memutuskan untuk melangkah namun masih memperhatikan sosok Wooyoung yang juga mengekori sosok Ji Eun dengan matanya.

Entah mengapa…Ketenangan seperti ada disana.

 

“Aku tahu ini bukan dirimu..”ungkap Wooyoung.

Ji Eun membuang muka, menatap kepermukaan tempat ia berpijak sekarang.Enggan dan tak ingin berkomentar apapun…

 

“Ji Eun-ah, aku ingin mengenali dirimu…”Kedua tangan besar Wooyoung merengkuh pundak Ji Eun dengan tatapan mereka yang menjadi sejajar karena Wooyoung membungkukkan badannya.

Dia terus mencari..Mencari dan mencari..

 

“Lee Ji Eun…Apa yang terjadi?”

Karena sama sekali tak ada yang mengerti bahkan ingin tahu kenapa Ji Eun seperti ini, secuil dari sebuah kemungkinan antara ada dan tidak ada yang ingin mengertinya. Terdengar hembusan nafas Wooyoung, ia mendesah dengan keras…

 

“Sudah lama aku ingin berbicara denganmu…Aku mau mendengarkan apa saja.. Mungkin ini sangat tiba-tiba tapi aku sudah berfikir seringkali untuk mengungkapkan ini..Kau ingin mau menamparku kan?..”Sebelah alis Wooyoung terangkat, membuat Ji Eun tak sedikitpun berkutik.

 

“Tampar saja aku, maki-maki saja aku tapi setelah kau melakukannya…Izinkan aku untuk mendengarkan apa yang yang sesungguhnya terjadi..”

Mata Ji Eun mulai terasa panas. Sial!Kenapa rasanya ia tersentuh dan ingin menangis.Sekuat mungkin dia mengusahakan diri agar tidak terhanyut dan beranjak pergi dari sini. Namun kakinya terasa berat, ia merasa ia sudah dikunci oleh namja ini.

 

“Wae? Ada apa dengan eommamu?..”

Dan setelah mendengar kata Eomma, semua kejadian buruk dan sulit berputar diotaknya, berputar dan terus berputar hingga menyisakan sakit dan ia langsung berlari dengan sangat cepat. Wooyoung tak bisa mengejarnya karena semuanya tiba-tiba, Mata Wooyoung hanya membulat menyaksikan itu semua. Ji Eun yang berlari pergi, dengan setitik air mata yang sebelumnya jatuh, mengalir dengan gerakan yang pelan dipipi putihnya

 

+++

 

Angin musim semi terasa menusuk. Kini Ji Eun berada diatas atap gedung sekolahnya yang bebas, memperhatikan dengan tatapan perih setiap detail kota tempat kelahirannya, setiap detail ruangan sekolahnya. Ji Eun mengusap air mata yang mengalir dipipinya, menggeleng lalu mengepalkan kedua tangan. Ia benci namja itu! Ia benci karena namja itu telah berhasil membuatnya luluh. Ia benci karena ia menjadi tak kuat menanggung semua ini.

“EOMMMAA!!”Pekik Ji Eun, berharap tak ada yang mendengar. Ji Eun terisak beberapa kali dan ia terduduk lemas. Adakah yang tahu? Atau memang namja bernama Wooyoung itu harus tahu?

“Eomma, apakah ini aku? Apakah namja itu benar bisa mengerti aku dan aku tak seperti ini lagi? Eomma kenapa?..”Ucap Ji Eun disela tangisnya. Ia membenamkan kepalanya pada kedua lutut yang ia lipatkan, menangis sampai ia merasa tenang.

Ia terancam dikeluarkan dari sekolah….

Kata-kata yang bermaknakan itu diucapkan oleh kepala sekolah kepadanya… Kata-kata yang sejak tadi membuatnya ingin mengakhiri semuanya…

Ia sudah cukup lama memendam, bahkan hingga membiarkan dirinya sampai merasa sakit. Apakah ia membutuhkan pendengar?

Ji Eun masih terisak dan mungkin cukup dia saja yang tahu. Dia sakit…tak ada yang mengerti bahkan ketika dia tertawa pun siapa yang akan mengerti alasan apa ia bahagia? Tidak ada kan?

“Eomma..aku ingin bersamamu..”

Sedetik kemudian Ji Eun merasa ada yang memeluk tubuhnya yang tengah meringkuk dari belakang, mendadak ia merasa hangat dan nyaman…tak ingin terlepas meskipun  ia tak tahu siapakah yang memeluknya ini. Eommanya kah? Apakah dia sudah disurga?

 

“Ji Eun..”Lirih seseorang itu, seketika membuat bulu kuduk Ji Eun meremang, suara seorang namja yang sudah sangat ia kenali. Ji Eun merasa enggan untuk melepaskan diri, tapi dia ingin melepaskan juga karena penasaran.

Ji Eun membalikkan badannya masih dalam posisi terduduk. Berbalik dengan perlahan dan…

 

“Kau?!!!”Ji Eun tak percaya dengan siapa yang memeluknya tadi. Bukan eommanya yang disurga?

Namja itu…Namja yang bernama Jang Wooyoung itu..

 

“Ne, Au..”Dan selang beberapa detik Lee Ji Eun kembali hanyut dalam pelukan Wooyoung yang tiba-tiba. Mata Ji Eun jelas memancarkan rasa kaget tapi enggan terlepas.

 

“Kenapa lagi kau menangis? ..”

Ji Eun membisu…tak tahu harus bagaimana karena pelukan ini benar-benar sebuah ketenangan… Namun saat dia mengingat apa yang terjadi, mendadak ketenangan yang baru datang beberapa detik itu pergi berganti dengan sebuah rasa ketakutan.

 

“Wae? Kenapa kau disini? Aku tau dibawah sedang ribut-ribut karena ku, kan? Mengapa kau tak ingin ikut membicarakan tentangku yang ingin dikeluarkan dari sekolah, Waeyo?!!!!..”Diakhir kalimatnya Ji Eun tak sanggup lagi, hingga suaranya yang mulai serak pecah menjadi sebuah isakan..Bukan melepas Wooyoung malah memperkuat pelukannya.

 

“aku takkan seperti mereka, sudah kubilang aku ingin ada didekatmu..Jangan Tanya apa alasannya..”Lirih Wooyoung didekat telinga Ji Eun,sementara Ji Eun terisak didekapan Wooyoung.

Mereka tak pernah bertegur sapa terlalu sering…namun ketenangan memang benar-benar ada disaat ini,saat mereka bersama.

 

“Karena aku tahu ini bukan Lee Ji Eun sesungguhnya, bukan Lee Ji Eun yang kasar. Lee Ji eun yang sebenarnya adalah Lee Ji Eun yang manis, riang, pemilik suara yang amat bagus dan senyum yang sangat menawan…Kau bisa membohongi semua orang yang melihatmu, tapi tidak membohongi hatimu juga membohongiku yang bisa mengerti itu..”

Ji Eun merasa semain nyaman. Tangannya yang sedari tadi tak bergerak  kini juga ikut mendekap Wooyoung yang sudah lebih dulu mendekapnya.

 

“kenapa kau bisa mengerti?..”Tanya Ji Eun,suaranya serak.

Bisa Ji Eun rasakan Wooyoung tersenyum dari gerakan ditulang rahangnya “Karena semua orang tak bisa dibohongi, semua orang punya hati untuk mengerti..Matamu terutama, mereka bisa melihatmu dengan nama yang buruk namun tidak denganku…”

Waeyo, Wooyoung?

 

“Pasti beban hidup kan? Ji Eun semuanya pasti punya masalah dan semuanya pasti bisa selesai..pertanyaanku adalah ada apa dengan eomma mu?”

Eomma…masalah..beberapa kata yang kembali membuat Ji Eun ingin berontak dan ia pun berontak karena benar tak tahan setiap telinganya menangkap kata-kata itu..

 

“Kau tak akan mengerti..”Ucapnya dingin setelah berusaha keras melepaskan diri dari dekapan Wooyoung, bangkit berdiri dengan tangan terkepal. Wooyoung mendongak, menatap Ji Eun sambil melawan sinar matahari di musim semi ini.

 

“Bisa diselesaikan? Memang…memang mudah mengucapkannya tapi kau tak mengerti…Tak merasakan apa yang terjadi denganku!..dan tentang Eomma ku, kau tak perlu tahu.. Wooyoung juga mengikuti Ji Eun yang berdiri, namun wajahnya entah kenapa tersenyum bukan khawatir ataupun kesal.

 

“Izinkan aku untuk tahu..”

Gigi Ji Eun gemeretak, namja ini benar-benar membuat suasana hatinya berganti –ganti! Tangannya yang terkepal kini melayang bebas dan mendarat dipipi mulus Wooyoung, dengan skuat tenaga yang ia punya ia daratkan tamparan itu. Namun Wooyoung tetap tersenyum,bahkan pipinya sudah memerah tapi ia tak meringis sedikitpun.

 

“Jujur ini sangat sakit..”Ucap Wooyoung kepada Ji Eun yang mengatur nafasnya “Kau sudah menamparku, sekarang izinkan aku untuk tahu..”

Ji Eun menggigit bibir bawahnya dengan semua rasa sakit yang ia tahan , ia balik badan dan berlari cepat menuju tepi gedung. Ia sudah bosan dicegah dan beraharp namja itu mendadak bodoh hingga tak bisa mencegahnya.

 

“Aku bosan hidup..”tanpa menunggu lagi kakinya yang lincah melangkah cepat hingga sampai pada posisi paling ujung atap gedung ini, dengan tangis yang semakin deras tumpah dengan rasa sakit yang dibawanya.

 

“Hyak!!Ji Eun-ah..”Wooyoung berlari sekuat mungkin dan berhasil menahan tubuh Ji Eun. Ji Eun selalu bersikap seperti biasa, ingin berontak namun pertahanan Wooyoung sangat kuat. Dengan gerakan cepat namun rasa cemas menguasai hatinya ia membalikkan tubuh Ji Eun, membiarkan yeoja itu ada dipelukannya entah untuk keberapa kalinya hari ini.

 

“Kau tak merasakan bagaimana sulitnya..”Tutur Ji Eun, suaranya parau dan serak. Mereka berdiri dalam keadaan saling berpelukan, Wooyoung yang menyembunyikan kepala Ji Eun didadanya sementara Ji Eun menangis, hal yang menyayat hati Wooyoung.

 

“Eomma..Eomma ku..”

Wooyoung memilih diam karena ia yakin apa yang menjadi beban yeoja ini akan terungkapkan denganlancar nantinya.

 

“Aku tak mengerti…Bukan, bukan hanya kebenaran yang akan menang tapi terkadang kejahatan juga akan menang dan ini terjadi padaku..”

Semakin kuat ia terisak semakin erat Wooyoung memeluknya, semakin orang menjadi lemah semain orang itu membutuhkan orang lain…

 

“Ji Eun-ah..”

 

“Kau tak merasakannya..”

 

Tubuh Ji Eun sedkit demi sedikit ingin memberoontak namun Wooyoung masih menjaga pertahanannya. Merreka tidak lagi berada ditepi gedung tapi sudah sedikit menjauh dari sana. Mungkinkah hal seperti tadi sudah sangat sering Ji Eun lakukan?

 

“2 tahun yang lalu..eommaku sudah meninggal…Meninggal karena penyakit yang sudah lama dideritanya, aku sama sekali tidak tahu kalau dia pernah menyumbangkan ginjalnya untukku, dia bertahan hidup dengan kekurangan organ tubuhnya…Ditambah dia sakit, dia sakit dan tidak pernah memberitahukan padaku..”

Wooyoung semakin erat mendekapnya.

 

“Adik ku juga, dia cacat, dia cacat mental dan itu sangat mengerikan juga membuat eomma dan appaku khawatir. Kami bukan orang yang kaya tapi Appaku tidak pernah mau mengerti kami, mengerti adikku…Dia tidak menganggap kami..Kau tahu kemaren 2 tahun lalu sekolah mengadakan perlombaan yang sangat besar?  Yang setiap siswa sudah dikhususkan untuk tampil dan aku mengikutinya…Aku mengikutinya..”

Wooyoung mengingat-ingat, ah sepertinya memang ada. Disaat Lee Ji Eun masih belum banyak berubah.

 

“Sejak itu aku berfikir semua orang tak pernah menjadi dirinya, mereka berubah menjadi apa saja agar bisa mencapai keberhasilan. Kau tahu saat itu aku kehilangan suara karena ada yang menaruh sesuatu diminuman ku? Kau pasti tak tahukan, jika aku diancam aku diancam oleh kakak kelas kita yang tak perlu kusebutkan namanya…Dia mencurangiku, dan aku entah kenapa takut padanya…Dia orang yang kasar namun semua orang tunduk dan menghormatinya, iya kan?..Kau tak tahu, saat itu aku tak punya teman dan hanya bisa menangis..aku sudah memberitahukan eommaku jika aku pasti akan menang karena dikelas suara ku yang paling bagus, guru selalu memujiku dalam setiap pelajaran namun disaat itu, disaat aku ingin membuktikannya aku tidak bisa…Aku tidak bisa karena semua menjadi orang lain untuk menang..”

Dan angin musim semi tiba-tiba berhembus diantara mereka.

“Banyak yang membuatku ingin berubah menjadi orang lain dan bukan diriku… Saat aku pulang dari acara itu, acara yang bukan kesenangan untukku namun menjadi kesedihan untukku dan tak ada yang tahu..Aku pulang, aku pulang dan disaat itu aku melihat Eommaku sudah tak bernyawa, adikku selalu saja terduduk dipojok sambil menggemggam kepalanya dengan menekan-nekannya , dan ayahku? Dia tidak ada…Dia tidak mau ambil pusing pada Eomma dan adikku..”

 

“Apakah aku harus menjadi diriku sendiri saat itu disaat tak ada orang yang ingin peduli? Aku berubah karena semua tak adil, mereka curang dan mereka bisa menang, mereka tak perduli antara satu sama lain dan mereka berhasil , mereka mendapatkan segalanya…segalanya yang tak aku dapatkan dan aku lelah..Eomma orang yang paling kucintai dan dia menyembunyikannya dariku, kenapa itu harus? Aku menyayangi eomma apakah eomma tak mau memberitahukannya kepadaku? Dan Appaku, dia sama sekali tak ada disana…Dia pergi dan tak ingin tahu,..Ah entahlah! Aku benci menceritakannya..”

 

Mungkin memang berat menceritakannya dan Wooyoung hanya harus mengerti sekarang…Dia masih membiarkan Ji Eun terisak dan dengan cerita yang masih disimpan olehnya.

“Lalu, apa yang terjadi?…”Tanya Wooyoung dengan lembut “Jadi ininbukan dirimu kan?..”

Ji Eun terdengar terisak “Apa aku harus menjadi diriku jika semuanya berbuat curang dan tidak denganku? Apa aku harus menjadi diriku jika tak ada yang mau peduli? Aku berubah, karena mereka mendapatkan semuanya tidak seperti hidupku yang kacau ini.. Kau juga kan? Kau pasti mempunyai hidup yang indah kan? Kau..kau..”

Hiks.

Dia terisak.

Mungkin kurang mengerti jika ia mendengarkan dalam isak tangis tapi Wooyoung sudah bisa menangkap apa maksudnya.

 

“Mungkin dengan aku menjadi orang lain, tak mau peduli dengan apapun akan lebih baik kan? Karena tak ada yang peduli padaku..Appaku hanya menyekolahkanku dan membiayainya tanpa sedikit pun ada memberikan bimbingan…Dia juga menjadi orang lain, demi keberhasilannya..Aku tak mengerti..”

 

“Ji eun kenapa harus menjadi orang lain, ? Kau memiliki semuanya yang tak perlu kau ubah..”

 

“Tapi jika seperti apa aku bisa mencapai semuanya?..”Sela Ji Eun, yang sekarang sudah saling bertatapan dengan Wooyoung.

 

“ Tidak perlu, suatu saat kau pasti bisa mencapainya.Apa harus menjadi orang lain dulu? Bukannya itu hanya menyiska kan?..”

Ji Eun terdiam,,,merenung dan terus merenung.

 

“Yakinlah semuanya akan bisa tercapai, bukan dengan menjadi orang lain… Ji Eun semuanya pasti bisa terselesaikan dan rasa sakit pasti akan bisa hilang meski sulit, namun yang paling sakit bukan semua masalah tetapi kita menjadi orang lain..Membohongi semuanya, tapi tidak dengan haati kita…Didalam sana kau pasti lebih sakit…Kau butuh seseorang dan sekarang aku akan ada, aku akan ada untukmu menemukan siapa dirimu yang dulu, aku kan ada untuk mengatakan ‘inilah Ji Eun’ ketika kau bercermin dan mendapati bayangang dirimu… Kau juga punya kemampuan, bukan harus menjadi orang lain..Carilah itu didalam dirimu Ji Eun, carilah dirimu sendiri lewat bayangan dirimu…”

 

Ji Eun perlahan tersenyum kepada Wooyoung, mungkin cerita tentangnya tak sepenuhnya dimengerti oleh Wooyoung..Tapi Wooyoung bisa mengertinya. Dia menghambur kepelukan Wooyoung dan menangis sembari tersenyum disana…

 

Who is that girl i see staring straight back at me  why is my reflection someone i don’t know  must i pretend that im someone else for all time  when will my reflection show who i am inside  

 

 

There’s a heart that must be free to fly  that burns with a need to know the reason why  why must we all conceal what we think  how we feel  must there be a secret me i’m forced to hide  

 

 

I won’t pretend that i’m someone else for all time  when will my reflection show who i am inside  when will my reflection show who i am inside 

 

+++++

 

Baiklah sebagai Author yang ceritanya paling digaje mimin minta maaf jika oneshoot ini sangatlah gaje, mianhae karena ini system kebut semalam .. Mohon pendapatnya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s