There’s No More/Khuntoria #OneShoot

Standar

+++

Oneshoot: There’s No More 1/2 Cast: Nichkhun Horvejkul X Victoria Song Support by:  2AM-Now There’s No More(Translation)

 

+++

Ketika melihatmu tertawa…Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan selain tersenyum bahagia

Ketika melihatmu menangis…Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan selain menahan sakit

Ketika melihatmu mengatakan “aku membencimu”Aku tak apa yang harus aku lakukan selain tak ingin merasakan apapun… Ketika melihatmu bahagia dengannya, sedih karenaku…

Datang padanya dan pergi dariku…

Hatimu ingin bersamanya…

dan aku tak ingin kau pergi…

Namun apalagi yang harus aku lakukan?

 

+++

Dia menunduk dalam, membuatku tak bisa melihat wajah serta matanya yang indah itu. Jaraknya tak cukup jauh dariku, hanya beberapa meter tapi aku merasa ini sangat jauh, karena saat aku memeluknya itulah aku merasakan jarak terdekat. Sesekali dia terisak, menyisakan perih dihatiku. Dia tak mau mengangkat wajahnya, membuatku semakin merasakan perih yang mendalam.

 

Angin malam membelai rambutnya yang indah, membuat dingin menusuk tulangku dan kemeja putih polos yang aku kenakan ikut tergerak pelan seiring berhembusnya angin. Dia masih menunduk, mungkinkah enggan melihatku?

“Chagiya (sayang)..”Ucapku lirih, aku belajar banyak bahasa korea darinya meskipun pelafalannya kuakui sangat buruk jika keluar dari mulutku, aku menatapnya dengan tatapan sendu dan diapun masih tak mau menatapku. Aku mendekat, memperpendek jarak yang terbentang diantara kami berdua.

 

Dia bergeming, tetap diam terpaku layaknya sebuah es yang membeku. Aku menyentuh pundaknya perlahan,meregapnya dengan kedua tangan hangatku lalu kucoba untuk menegakkan kepalanya agar menatapku.

Dan kini dia menatapku. Wajahnya rapuh, sendu, sayu dan terlihat seperti….membenciku. Aku menahan sakit,entah dia merasakan sakit yang sama denganku atau tidak.

 

“Mwo? (apa?)..’Tanyanya dengan datar, dapat kutangkap suara indahnya yang bergetar pelan. Lagi-lagi dia mengucapkan kata-kata yang mudah dan aku tahu dalam bahasa korea. Kembali kutatap kedalam mata hitamnya nan bening, mencari sosoknya, mencari alasan yang tepat.

 

“Apa lagi yang harus kudengar?..”Katanya, nada bicara dingin yang sangat menusuk. Aku tahu sebenarnya dia rapuh dan sedih, aku tahu tapi dia mengusahakan agar aku tak tahu.

 

Aku mendekatkan tubuhku ketubuhnya, semakin dekat dan bisa kurasakan kenyamanan setiap bersamanya namun sekarang dia sudah tak nyaman bersamaku, aku tahu itu. Aku meraih kedua tangannya yang sedari tadi hanya diam dan ia kepalkan dengan lemah, sebelah tangannya aku genggam kuat dan sebelahnya lagi aku letakkan tepat didadaku namun dia tak menurut, melainkan hanya memegang dengan gerakan lemah ujung kemejaku yang dua kancing dari atasnya terbuka. Menatap kearah dadaku dengan tatapan kosong, aku selalu bisa menangkapnya.

 

“Aku masih mencintaimu, Victoria..”Ungkapku, ini yang sebenarnya dan inilah yang tulus, Yang saat aku ucapkan aku selalu memaknainya, membiarkan hatiku sampai merasakannya.

 

Dia terdiam, hanya menggenggam ujung kemejaku kini dengan genggaman yang kuat. Aku menunduk, mencoba menatapnya yang lebih rendah dariku, aku berusaha menatap matanya tapi dia menyembunyikan wajahnya didadaku. Terdiam kaku.

“Apa lagi? Apa lagi?..”

 

There’s no use now, we’ve already reached our end

Those words are knocking on my heart

Your shaking voice, your chaotic glances

Is knocking on my heart again

 

Aku menengadah begitu terdengar suaranya yang beriringan dengan isakan tangis entah kenapa tangis ini membuatku tak ingin merasakan apapun selain membiarkan Tuhan menjadi kan aku dirinya karena aku tak ingin ia sakit karena menangis. Aku menggerakkan tangan kaku-ku untuk mengusap dan membelai lembut rambutnya. Kedua bahunya berguncang hebat, dia menangis kuat dalam dekapanku saat ini.

 

“Victoria,Jeongmal Mianhae(sungguh,maafkan aku) ..”Lirihku, masih dengan bahasa korea yang aku pelajari darinya. Dia hanya meneruskan tangsinya yang semakin membuatku merasa ingin marah karena aku memang tak bisa dan membenci ketika melihatnya menangis, aku lebih ingin melihat aku tak ada lagi didunia ini daripada harus melihatnya menangis. Atau dengan tidak adanya aku dia akan berhenti menangis?

 

“Apalagi yang harus kudengar, aku lelah aku sudah bosan . Aku sudah bosan!!..”Dia melantangkan suaranya diakhir kalimat, membuat tempurung lututku rasanya terlepas dari persendian aku merasa ingin jatuh terhuyung, Buru-buru aku mengerjapkan kedua mataku dengan cepat dan mendekapnya lebih erat, namun dia berontak dan memukuli pelan dadaku.

 

“aku tak mau lagi, aku tak mau..”berontaknya, menggeleng kuat dan berusaha menjauh dari dekapanku. Aku meregap kedua tangannya dimana dia sedang terbalut dalam emosinya. Dia terus berontak sampai aku menghentakkan tangannya dan menggenggam dengan erat.

 

Aku diam, membisu.

 

Oh Why can’t I say anything Oh why am I standing here like an idiot

 

“Victoria..”Panggilku, menyadarkannya. Dia mulai melemas dan menurut namun tak lama berteriak.

“Apalagi Nichkhun? APAA?.”Dia berteriak tepat didepan wajahku, bahunya masih bergetar dan aku kembali meregapnya dalam dekapanku. Bersyukur dia menurut. Victoria yakinlah bahwa aku masih mencintaimu…batinku.

 

“Aku tak mau melihatmu menangis..”Aku berucap dengan lirih, hanya aku dan dia yang bisa mendengar dimalam yang dingin ini, aku dekatkan wajahku kewajahnya, pipiku menyentuh pipinya dan kini hidungnya tepat dihadapanku, menatap matanya sangat dalam dengan jarak yang teramat dekat namun matanya tak mau menatap mataku. Hanya ada sisa air mata yang memupuk disana, sesuatu yang membuatku merasa menjadi lelaki yang sangat bodoh.

 

“Victoria maafkan aku..”ungkapku, entah dia mau mendengar atau tidak. Aku berbisik didekat telinganya, dapat kulihat bulu kuduknya yang meremang mungkin karena nafasku yang menggelitik lehernya.

 

Dia menggeleng dalam dekapanku yang mulai melonggar ini, aku tahu reaksi itu menandakan bahwa dia tak mau mendengar kata maafku lagi. Apakah dia ingin pergi?

 

“Aku lelah, aku tak mau.Aku benci padamu.”Ucapnya disela-sela tangisnya yang mulai mereda. Kini aku melepaskan pelukanku, menatap sendu kearahnya. Lalu aku harus apa?

 

“Victoria.”Lirihku. Dia diam.

 

“Aku tak mau lagi, aku sudah tak mencintaimu lagi..”

Dan disaat kata ini terucap aku lebih memilih agar Tuhan mencabut nyawaku sekarang juga. Dia menjauh satu langkah kebelakang, membuatku semakin sulit memandangnya.

 

“lalu?..’aku pasrah, pasrah jika itu memang yang ia inginkan meski tanganku terkepal menahan sakit.

Dia kembali menundukkan kepalanya, rambut panjangnya kini sudah menutupi wajahnya dan tak mampu lagi aku lihat. Jadi apa yang harus ku ucapkan?

 

“Aku senang bersama Lee Junho, kau tak bisa membahagiakanku..”

Aku melemas, tapi mengurung agar aku tak melangkah jauh kebelakang, Suaranya yang bergetar terdengar tegas, menandakan bahwa ini benar keinginannya.

 

Aku menelan ludah dan itu terasa sangat berat bagiku untuk melakukannya, bahkan untuk mengerjapkan matapun aku takut, takut seketika dia pergi.

 

Aku menahan diri dari kemarahan,menahan diri dan membiarkan sakit ini terus menyebar. Aku tahu apa yang harus aku ucapkan, yang sedari tadi tak ia ucapkan karena ia berfikir tak ingin menyakitiku. Tidak, aku tak pernah merasa sakit karenanya, karena dia hanya sakit karena dan olehku.

 

Aku berdeham sejenak, berusaha tegar “Baiklah..”Pelan suaraku terdengar, aku tak merasakan lagi degupan jantung yang keras saat bersamanya melainkan jantung ini rasanya ingin berhenti berdetak.

 

Looking at you, laughing, crying, leaving Holding onto a person

I can’t see anymore

 

Aku mengangkat wajah yang tertunduk, belum sempat aku mengucapkan kata-kata itu sudah ada sesosok pria berwajah asli korea yang mendekat kearahnya, Victoria Song. Buru-buru Victoria memeluk Lee Junho dengan sangat erat begitupun lee Junho yang menyambut pelukannya, mengelus punggungnya, mencoba menenangkannya. Apakah itu seharusnya aku?

 

Aku menyadari dan ingin mengakui kenyataan. Pernah aku melihatnya tertawa senang karena Junho dan bukan karenaku…Pernah aku melihatnya merasa nyaman saat bersama Junho bukan bersamaku. Dia terisak dipelukan Lee Junho yang menatapku dengan tenang, aku tersenyum seadanya karena jujur ini bukan salah Lee Junho.Bukan salahnya.

 

Aku menunduk lagi, mencoba agar aku kuat dan bisa mengatakannya. Aku menegaskan diri lalu

“baiklah, kita berakhir Victoria. Senang bisa bersamamu, terimakasih untuk segalanya dan semoga kau senang bersamanya.. Maafkan aku..”

Aku berhasil mengucapkannya, meskipun aku merasa ingin mati setelah kata-kata ini berhasil terucap. Dia melepaskan diri dari dekapan Lee Junho dan memilih untuk menatapku. Aku hanya memohon agar dia tersenyum kepadaku meskipun sangat tak mungkin.

 

Aku tak memaknai ucapan itu, tidak sama sekali. Karena aku hanya memaknai kata-kata yang aku ucapkan ketika kukatakan bahwa aku mencintainya…

Dan sekarang aku masih mencintainya, meskipun tak ada lagi yang dapat kulakukan agar bersamanya.

Kulihat dia dirangkul oleh Junho dan balik badan , mereka melangkah pergi dan meninggalkanku terdiam disini sendiri bersama angin malam yang menusuk.

 

Tidak…Sama sekali tak adalagi yang bisa aku lakukan untuknya… Dia pergi bersamanya, bukan denganku…

 

As your tears come to a stop There is nothing I can do for you anymore

 

+++

2 tahun yang lalu… Saat mengatakannya.

Sejak namanya disebut oleh dosen agar maju dan mempresentasikan laporan tentang penelitiannya didepan mahasiswa kelas ini aku tak bisa berhenti untuk tak menatapnya, berkali-kali otakku memerintahkan mataku agar berhenti untuk menatapnya namun sama sekali tak ada guna. Singkat kata, aku tak bisa berhenti memperhatikannya.

Victoria Song, gadis asal Cina yang menetap cukup lama di Korea yang sejak menempuh pendidikan dibangku kuliah tinggal di New York, Amerika Serikat. Sekarang kami sudah tahun keempat, sebentar lagi akan lulus, Ya, sebentar lagi pendidikan kami akan berakhir.

 

“Daebak Victoria-ssi (Mengangumkan, Nona Hwang), Tadi sangat bagus sekali. Dosen juga memberikanmu nilai yang tinggi kan? Chukkae (selamat)..”Aku menoleh kearah suara, ternyata lelaki yang juga berasal dari Korea bernama Lee Junho itu pemiliknya. Dia memberikan selamat kepada Victoria  yang baru saja sampai dan duduk dibangkunya, dosen sudah keluar saat Jannesa selesai dan setelah memberi komentar, mahasiswa-mahasiswi berhamburan dan tidak denganku.

 

“Gomawo Junho-ya (terimakasih Junho)..”Dia membalas ucapan Junho. Ah, apa yang mereka katakana aku sama sekali kurang mengerti. Aku hanya sering mendengarnya mengucapkan kata ‘Gomawo’ seraya tersenyum. Ah, pasti itu artinya Terimakasih kan?

“Annyeong Mr.Horvejkul ..”

 

Seketika aku mengerjapkan mataku dengan gerakan yang cepat begitu ia menjentikkan jarinya dihadapanku. Ah, rupanya aku melamun. Geragapan aku menatapnya sambil menyesuaikan diri. Mencoba tersenyum padanya dan Junho yang menatapku sembari geleng-geleng kepala.

 

Victoria tersenyum tulus kepadaku, sesuatu yang sangat kusukai dan tak dapat terpungkiri kalau jantung ini berdegup kencang hanya karena senyum  baik dibibir maupun dimatanya.

 

“presentasi tadi hebat sekali, Victoria..”Pujiku padanya yang langsung menepuk pundakku seraya tertawa, dia tertawa kecil dengan tangan yang menutupi mulutnya.

“Gomawo Khunnie..”Ucapnya, seketika membuat keningku berkerut samar. Dia langsung mengibaskan tangannya dan melirik Junho.

 

“Hyak (hei) Victoria dia bukan asli orang korea, dia tidak akan mengerti..”Junho seperti mengerti maksud ku dan berlagak berbisik pada Jannesa yang sebenarnya terdengar olehku.

 

Aku menahan tawa tapi tertawa juga, aku melempar Junho dengan pulpenku dan dengan segera dia mengelak. Aku lalu kembali fokus pada Victoria yang menatapku saat aku tak mengetahuinya.

“kau juga minggu lalu sangat mengagumkan sekali..”

 

“daebak..”sambung Junho yang mengangkat kedua jempol dan menggerak-gerakkanya kearahku. Aku tersenyum malu namun tak beberapa lama kulihat Junhp yang beranjak berdiri.

 

“Mm,aku ada urusan. Aku duluan ya, Annyeong..” Junho melenggang pergi setelah melambaikan tangan dan dibalas oleh Victoria begitupun denganku. Kini hanya tersisa aku dan dia, Victoria Song yang selama tahun pertama ini selalu mempunyai kelas bersama denganku. Dia mengetukkan kelima jari diatas meja sementara aku memperhatikannya.

Aku menyukainya saat pertama kali bertemu, dan sudah 4 tahun aku memendam rasa ini hanya untuknya. Aku ingin jujur akan hal itu namun aku merasa tak pantas, aku merasa takut jika dia tak merasakan hal yang sama denganku.

“Mm, Victoria..”Panggilku pelan, dia menyahut dengan sebuah dehaman lalu menoleh. Mata hazelku dan mata hitam beningnya beradu, beradu dan langsung jantungku berpacu cepat.

 

“Ini sudah akhir semester ya? Sebentar lagi kita akan tamat, dan sama –sama menyandang gelar..”Aku memulai, yang sebenarnya ragu dan tak tahu harus memulai darimana.

 

“Ya, benar. Sudah 4 tahun ya? Mm, apa setelah selesai dari jurusan Management dan Engineer ini kau akan sekolah menjadi director film lagi?..”Tanyanya, cara bicara yang sangat kusuka,

 

Aku berfikir sejenak,lalu mengangguk “Ya,aku bercita-cita ingin menjadi sebuah director film yaa semoga terkabul..”

“Amin..’Sambungnya. Dan setelah itu diam langsung merajai kami berdua.

 

Apakah dia tahu? Kurasa dia tahu karena aku pernah memberinya seratus tangkai bunga mawar saat hari Valentine selama 4 tahun kami kenal. Nekat dan konyol namun aku benar-benar melakukannya.

Dulu dia pernah menjalani operasi usus buntu dan jujur sama sekali aku tak bisa tidur memikirkannya, aku nekat menemaninya dirumah sakit meskipun kedua orang tuanya ada disana, membuatkan tugas-tugasnya yang tertinggal jauh.

 

Ya, demi dirinya.

 

Mataku mengekori Victoria yang mengamati kuku-kukunya yang dicat dengan warna ungu pucat hari ini. Dia terlihat manis jika seperti itu, hingga akhirnya tangan Victoria ia letakkan diatas meja. Kutatap tangannya yang sangat indah jemarinya itu lalu kembali kutatap dirinya.

 

Sudah lama aku ingin mengatakannya, entah bagaimana caranya yang paling romantic tapi aku ingin melakukannya biasa-biasa saja karena dia orang yang sangat sederhana. Kami terbilang sangat dekat, Aku, Victoria Song dan Lee Junho. Bukan sahabat tapi hanya sebatas dekat jadi wajarkan jika saling menyukai?

 

“Nona Song..”Aku memulai,tanganku bergerak pelan hingga akhirnya menyentuh tangan Victoria yang langsung terkejut karena perlakuanku. Dia sempat berontak namun tak lama hanyut dan kini kami bergenggaman tangan. Aku memperpendek jarak yang terbentang diantara kami, matanya membulat mungkin takut aku melakukan hal yang macam-macam. Tenanglah Jannesa, aku tidak akan seperti itu.

 

“mm, Maaf Nichkhun?..”Wajahnya memerah dan dia seperti salah tingkah.

Aku menahan nafsu untuk terus mendekat kearahnya dan kini badanku duduk dalam posisi menegap, masih dengan kurengkuh kedua tangannya yang halus nan lembut itu.

 

“ apa kau pernah mengerti kenapa aku selalu memperhatikanmu dan memberimu sesuatu yang menurutku sudah romantic?..”tuturku, blak-blakkan dan terkesan aneh.

 

Alis tipisnya bertaut “Mungkin kau..”

“Saranghaeyo, Jeongmal Saranghaeyo (Aku mencintaimu, sungguh mencintaimu)..”Potongku dan sedetik kemudian aku langsung tersenyum ,dia terkejut bukan main karena perkataanku, mungkin?Ah, bukannya dia penyuka sesuatu yang tiba-tiba? Dan hari ini memang sudah kurancang penuh untuk mengatakannya.

 

Aku sudah tidak dapat menahannya, dalam beberapa bulan kami akan wisuda dan aku tak mau terlepas darinya. Dan tadi, apakah pelafalan kata ‘saranghaeyo’ ku benar? Ah semoga saja tidak terdengar aneh. Batinku.

Dia masih berusaha menyembunyikan wajah, mungkin ingin berlari pergi tapi tanganku masih meregap kedua tangannya dengan kuat.

 

“Victoria, ini sudah terlalu lama. Aku menyayangimu dan sampai kapan kau akan mengerti bahwa aku mencintaimu?..”ungkapku sementara dia masih memilih diam.

“Sebenarnya aku merasa seperti itu, tapi aku..aku merasa takut untuk mengakuinya..”

“kenapa?..’”aku mendekat kearahnya, membiarkan keningku hanya berjarak beberapa senti dari keningnya. Dia memejamkan mata dan menahan rasa takut, membuatku menahan tawa.

“Kau suka hal yang sederhana dan hal yang spontan, iya kan? Dan sekarang aku melakukannya Nona Hwang..”Karena jarak kami yang dekat aku berbisik saat mengucapkannya dan ia membuka mata, memberanikan diri untuk menatapku.

Victoria Song, dia tersenyum manis, tersenyum dan menatap dalam kemataku “Jadi?..”

“Sarangaheyo (Aku mencintaimu)..”ulangku, dia langsung mengangguk menahan tawa dan langsung kudaratkan bibirku diwajahnya, diujung bibirnya.

 

Dia mendesah menahan tawa, membuat bulu kudukku meremang karena merasakan nafasnya yang menggelitik tengkukku “Aku memang suka hal yang spontan, tapi ini terlalu spontan..”ungkapnya, masih dengan posisi keningku menempel dikeningnya meski kini aku tak lagi mencium pipinya.

 

“Sebenarnya sudah lama, kau begitu mengagumkan. Sangat tiba-tiba bukan?..”

“Ne (ya)..”Jawabnya singkat, menyingkir dariku dan menatapku lembut.

“baru sekarang aku baru bisa mengatakannya..”jelasku pada Victoria “jadi apa kau mencintaiku, Nona penyuka hal yang spontan?..”Kutarik salah satu sudut bibirku saat menanyakan hal ini.

Dia tersenyum malu-malu, mengangguk pelan “Sama sepertimu, 4 tahun yang lalu…Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Tiba-tiba bukan?..”

 

Dan kuharap kita tidak berpisah secara tiba-tiba…

 

+++

Masalah yang datang…

Aku berlari kecil memasuki sebuah Mall dimana di mall ini ada salah satu café yang menjadi tempatku dan Jannesa bertemu,Sesekali aku melirik jam tangan yang melingkar dilengan kananku. Siall! Aku terlambat 30 menit dan kuyakin dia akan marah besar.

 

Ini bukan pertama kalinya…

 

Sudah satu tahun hubungan kami, dan sekarang kami tidak lagi duduk dibangku kuliah. Dia masih menikmati masa-masa dewasanya dengan bekerja sebagai penyiar radio sedangkan aku sibuk dengan kuliahku, Direktor Film yang kutempuh sekarang. Sebenarnya aku sudah bekerja lagi disebuah perusahaan sekarang, bekerja sambil kuliah. Ya inilah yang membuat waktuku terbatas untuknya.

 

Seraya berlari kecil aku mengeluarkan ponselku yang aku sakukan di saku celana, mengechek apakah ada panggilan masuk atau sms darinya dan ternyata tidak. Aku menghakimi diriku yang bodoh dan tak bisa tepat janji ini, dia pasti marah kan? Buktinya dia tak menjawab pesan dariku?

 

Setelah cukup lama dan jauh berlari kutemukan juga sebuah pintu masuk café tempat kami janjian hari ini, Mataku menyapu keseluruh ruangan mencari sosoknya. Dia yang terindah untukku. Namun aku membeku seketika, dia duduk dimeja pojok bersama lelaki yang sangat kukenal, dia bersama Lee Junho.

Tertawa…

Lee Junho mengusap puncak kepalanya…

Lee Junho mencubit pipinya dan ia tertawa malu…

Dia memegang pundak Lee Junho sembari tersenyum…

Aku menyaksikannya semua, tapi aku tak tahu harus melakukan apa. Ini mungkin memang salahku, selama setahun ini aku tak terlalu punya banyak waktu untuknya. Mungkin dia butuh perhatian? Tapi sekuat mungkin aku mencoba untuk memperhatikannya, menyempatkan berkunjung kerumahnya meskipun tugas kuliah dan pekerjaan masih menungguku.

Aku melangkah, langkah yang terasa sangat berat.

 

“Chagiya (Sayang)..”Panggilku dan segara ia mendongak, menatapku dengan datar lalu mengangkat kedua bahunya seolah tatapan mata itu mengakatak “Oh, kau. Silahkan duduk..” Seperti itu dan aku menahan perih. Dia memang terlihat sering dekat dengan Lee Junho, sudah lama tapi hanya sebatas teman dekat. Apakah sekarang mulai berubah?

Aku duduk disebelahnya, mendekat dan diapun mendekat kearahku dengan pipi kami yang saling bersentuhan. Dia menggenggam kerah kemajuku dengan erat dan aku memeluknya, hanya sekejap dan dia melepaskannya dengan sangat tenang. Aku memperhatikannya. Wajahnya datar.

 

“Apa kau menunggu lama..?..”Tanyaku, sesekali kulihat Junho yang memperhatikan kami berdua.

Dia menyesap kopinya sebelum menjaab pertanyaanku “Ya cukup lama, aku tahu aku akan lama menunggu jadi aku mengajak Junho kesini. Tak masalahkan?..”

 

Aku mengangguk pelan, wajahnya sama sekali tersirat dengan rasa kesal namun dia menutupinya dariku. Apakah dia tak mengerti aku hanya ingin berdua dengannya? Atau dia sudah malas dengan situasi ini?

 

“Apa saja yang kau lakukan tadi, man? Kami hampir setengah jam menunggumu..”Tutur Junho dengan sebelah alis terangkat, aku menunduk sebelum menjawabnya.

“Aku ada urusan sebentar, Maaf..”

Aku memperhatikan Victoria yang matanya seperti mengekori sosok Junho dan aku menelan ludah dengan sangat berat. Jujur aku merasa selama satu tahun kami bersama, semenjak aku mulai sibuk dengan kegiatanku sendiri dia sangat berubah, mungkinkah hanya pikiranku saja? Dia akan selalu seperti yang dulu kan? Dia masih sama kan? Masih selalu mencintaiku kan?

 

Karena pertanyaan ini timbul akibat Lee Junho, yang sekarang ada diantara kami dan ini sudah dari dulu.

“Sayang..”Panggilku, dia seperti terkejut lalu menoleh.

“Ya, sayang?..”Dia mendekat kearahku dan aku merangkulnya saat dia sudah bersandar dibahuku. Bisa kutatap wajahnya dari jarak yang amat dekat bahkan pipiku menyentuh keningnya. Ada yang lain setahun belakangan ini, saat – saat aku bisa membahagiakannya diawal pertama dan ketika waktuku tak sepenuhnya dia menjadi agak aneh namun tak mengungkapkannya.

 

Palsu, aku merasakan hal yang palsu karena setiap saat berhasil aku lihat matanya mengekori sosok Junho. Bisa.

Apakah dia?

 

Aku menarik nafas, mengatakan sesuatu yang kuyakin dia tak ingin mendengarkannya “Sayang aku akan ke London untuk beberapa waktu yang lama, kita tidak akan bisa bertemu akhir-akhir ini…Aku akan merindukanmu..”

Aku merasakan tubuhnya yang menegang sementara Junho enggan memperhatikan kami, bisa kurasakan tubuhnya yang ingin berontak namun dia menahannya bisa kurasakan gerakan tubuhnya yang seolah tak terima.

“Kau akan pergi? Sayang, kau baru satu bulan disini… lalu kapan kita akan jalan-jalan bersama? Kau selalu sibuk..”

Entah hanya pendapatku saja, dia sepertinya sudah lelah dengan ini semua. Tapi aku masih mencintainya, meski perhatianku sangat kurang padanya ditambah lagi sudah ada Lee Junho yang untuk mengakui bahwa mereka sangat dekat sudah kuakui sejak dulu, namun sekarang berbeda.

 

“Maaf..’Lirihku tepat ditelinganya. Dia lalu bangkit, memasang wajah masam dan bergegas berdiri.

“Jadi kita bertemu hanya untuk mengatakan ini? Baiklah aku ingin pulang. Junho-ya Kajja (Ayo Junho)..”Dia menarik tangan Junho, meskipun Junho terlihat bingung ia menuruti ajakan Victoria.

 

Aku lantas ikut berdiri namun tak berhasil menahannya. AKu tahu dia kesal, aku tahu dia pasti mulai merasa jika aku tak memperhatikannya lagi. Tidak, aku hanya bingung bagaimana memperhatikannya yang pasti sebal karena sikapku.

Faktanya Junho tak pernah merespon setiap kata yang kuungkapkan dan ia dengar saat aku mengucapkannya untuk Victoria, tapi raut wajahnya menunjukkan bahwa….Aku tak pantas.

 

Ini terjadi saat aku mulai bersamanya, Bersama Victoria Song  satu tahun yang lalu.

 

Ternyata dia bukan penyuka hal yang romantis, dia tidak suka menonton film dan dia bosan mendengarkan semua ceritaku disekolahku yang sekarang. Menjadi direktor film adalah citsaku…Namun sepertinya dia…

Kubiarkan Junho dan Jannesa hilang dari pandanganku, sudah ada yang tak beres.

Dia tak seperti yang dulu karena sikapku…

 

Dia sering merasa bosan saat bersamaku, bahkan saat aku ingin mencium wajahnya dia seperti menghindar dariku..

Sudah satu tahun kami bersama dan aku mulai sibuk, apakah dia berfikir aku tak mengabaikannya?

Dan Junho semakin sering berada didekatanya…

Semuanya berputar 360 derajat dalam setahun ini, semuanya berubah karena keadaan…

Dan kenyataan yang ada aku masih ingin mencintainya…

 

Victoria ternyata tidak mudah kutebak, Nona penyuka hal yang tiba-tiba dan sekarang ia tiba-tiba berubah…

Dia hanya suka diperhatikan lebih…Dan untuk setahun ini bahkan sekarang, aku tak mampu melakukan kewajiban itu

 

+++

Saat menyakitkan

Aku merasa semakin bodoh. Pandanganku kini kosong kedepan seraya menarik koperku dengan malas-malasan, sedari tadi aku memerintakan otakku agar kakiku bisa melangkah dengan cepat namun sia-sia, aku seperti orang yang tak punya semangat hidup.

 

Satu bulan aku mengurusi perkejaan di London, aku bukan orang yang terlalu berpengalaman toh jadwal di London pun bersamaan dengan kuliahku yang mengadakan Study Tour disana. Dan aku meninggal cintaku di Amerika ini, Victoria Song, Sudah hampir 2 bulan apa kabarmu?

 

Kuyakin dia sangat marah, tapi aku harus bagaimana lagi? Selama sebulan aku menahan sakit juga rasa rindu yang semakin merajai hati, dia tak mau mengakat teleponku, hanya beberapa kali saja dan dia menangis diujung sana.

 

Dia mengatakan aku tak bisa memberikannya perhatian..

Dia mengatakan aku terlalu sibuk…

Dia mengatakan kalau aku tak mau mencintainya…

Genggaman ku semakin erat pada tangkai Koperku, aku merasa ingin marah mendengar kata-kata itu bahwa pada kenyataannya aku selalu dan sangat mencintainya.

 

Sekarang aku sudah kembali ke Amerika, hal yang membuatku sedih hari ini adalah dia tidak bisa menjemputku, mungkin bukan tidak bisa tetapi dari semalam dia tak menjawab panggilanku entah karena hal apa.

Setahun bersamanya, dan masa indah itu hanya terjadi 6 bulan selebihnya aku merasakan semua berputar. Sosok Junho sebagai teman dekat VIctoria yang selalu ada didekatnya, lebih dariku.

Mungkinkah sahabat lebih baik daripada kekasih?

 

Aku mengangkat bahu, entahlah.

 

Dan yang lebih membuatku kehilangan semangat adalah seminggu yang lalu, 2 Februari dia berulang tahun dan aku tak ada didekatnya, sehari kurang lebih 2 minggu lagi adalah hari valentine dan yang keenam tahun ini kami berjumpa aku tak bisa memberikannya seratus tangkai bunga mawar lagi… Tidak.

Aku merasa paling bodoh sekarang, kenapa rasanyaa saat kami tak bersama itu lebih baik?

Karena disaat bersama aku merasa lebih banyak mengecewakannya. Aku tak mau.

 

Aku menaiki sebuah Taxi dan duduk termenung didalamnya. Menyentuh ponselku pun sama sekali tak ada guna karena aku mempunyai telinga, sementara ponsel itu tak kunjung menjeritkan nada dering yang ku setel khusus untuk seseorang, Victoria Song.

 

Apakah kami akan berakhir? AKu merasa hatinya tak lagi untukku karena mungkin dia tak menganggap aku melakukan apapun untuknya.

 

Aku mencintai pekerjaan dan aktifitas apapun yang kulakukan, dan dia tak mendukung…

Dia hanya ingin aku perhatian, perhatian, perhatian padanya.. Hanya itu dan jika mengingatnya aku semakin berasa bersalah. Apalagi yang kurang, Victoria?

 

Mataku memandang setiap detail-detail bangunan yang kulewati di New York ini, baru satu bulan dan rasanya sudah lama sekali, sama dengan dia yang sudah lamat tak kupandangi,

Aku merindukannya…Kata-kata itu aku maknai setiap aku ucapkan dalam hati…

Aku bermaksud untuk berkunjung kerumah Jannesa, menanyakan bagaimana kabarnya, melihat wajahnya dan satu hal yang penting : ada apa dengannya?

 

Mataku membulat sepenuhnya ketika aku melewati sebuah taman disekitar daerah yang sebentar lagi akan menuju rumahnya, ada dua orang yang duduk disana dan aku sangat yakin jika aku mengenali sosok yang duduk disana.

Victoria dan Junho.

Aku turun dari taxi, sebelah tanganku memegangi koper dan sebelahnya aku gunakan untuk melepaskan kacamataku. Aku baru menyadari jika ad ataman disekitar sini, ada beberapa kursi dan tampak teduh dilindungi oleh pohon-pohon yang indah.

 

Jarakku agak jauh dari mereka dan aku mendekat… Seorang perempuan yang menangis dan lelaki disana menenangkannya. Aku sangat mengenali mereka, sangat amat dan aku hanya terdiam menyaksikannya.

“Chagi..”Lirihku seraya mendekat, Lee Junho yang menyadari suaraku menoleh padaku sementara Victoria masih dipelukannya. Aku terheran.

Apa yang terjadi?

Kenapa dia menangis?

Kenapa aku tak tahu?

Mengapa harus dia?

 

Junho memandangku dengan wajah kesal dan dia mengelus pundak Jannes yang masih terisak. Aku sama sekali tak mengerti, hanya terus mendekat sampai aku tiba ditempat mereka berdiam. Ini masih bulan Februari kan? Bulan yang sangat disukaiVictoria?”

 

“Sebaiknya kau pergi..”Datar suara Junho dan menusuk.

Keningku berkerut samar “Maksudmu? Kau saja yang pergi, biar aku yang ada disini. Dia kekasihku..”tegasku, aku ingin keras pada Lee Junho sekarang, dia merasa dia yang dekat dengan Jannesa dan aku bukan apa –apa.

Lee Junho mendesah, memandangku remeh “dia tak mau bertemu denganmu..”

 

Aku menjatuhkan koperku dengan kasar, emosiku naik dan segera aku menarik kerah baju Junho agar dia ikut berdiri, Victoria terlepas dari pelukannya gadis itu terkejut dan Junho tampak sangat marah.

“Dia kekasihku!..’tegasku, tepat didepan wajahnya.Cukup sudah Junho seperti ini padaku, dia bukan siapa-siapa Jannesa.

 

Junho membuang muka “Kekasihnya? Tapi kau tak tau apa-apa, tak ada didekatnya selalu..”

“Diam kau!..”Potongku.

PLAK!!

 

Dalam waktu yang sama Victoria sudah berdiri dihadapanku, kali ini bukan bermaksud untuk kupeluk atau kuciumi keningnya tapi dia menamparku dengan tangis yang membanjiri pipi putihnya.

Aku tak percaya, apa dia tak tahu kalau aku memaksakan pulang hari ini? Apa dia tidak tahu aku ingin memberikan kejutan padanya , apa ia tak tahu?

 

“Sayang..”Lirihku.

Dia meraih tangan Junho dan menatapku dengan tajam “Kau pergi..Aku membencimu..”

Seketika aku kaku. Apa aku salah? Apa memangnya yang salah? Bagaimana lagi cara memperhatikannya?

Lalu dia pergi tanpa ada yang aku tahu apa yang terjadi..

 

I can’t block you from leaving now

I can only stand here

This last consideration, making me not be able to try to persuade you to stay

Until the end, I can only stand in my original spot

 

Oh Why can’t I say anything Oh why am I standing here like an idiot

 

Looking at you, laughing, crying, leaving Holding onto a person I can’t see anymore

 

As your tears come to a stop There is nothing I can do for you anymore

 

+++

Diam… Bukan, dia bukannya diam tetapi dia hanya tak mengizinkanku untuk mengerti…

Atau aku yang tak juga mengerti? Apa yang harus aku mengerti?

Apa yang harus kulakukan?


+++

 

Saat terungkapnya…

Aku membuka pintu kamarnya… Ibunya mengizinkan aku untuk masuk kekamarnya setelah membujuk cukup lama. DIa tengah berbaring menghadap kedinding, dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Ibunya sudah turun setelah selesai mengantarkan ku, kalian tahu? Ibunya juga menangis. Dan aku merasa bersalah.

 

Aku berjalan dengan langkah yang diseret-seret untuk mendekatinya. Aku belum melepas lelah sejak pulang dari London tadi, karena aku ingin meluruskan masalah ini.

 

Dia memeluk Lee Junho…

Dia menangis, terisak.Perih…

Dia mengatakan bahwa dia membenciku..

Dia tak mau membiarkanku mengerti ada apa ini…

 

Aku duduk disamping kasurnya, dia yang memunggungiku saat ini. Dia tidak tidur, Ibunya member itahuku tadi.Dia hanya tak ingin bertemu denganku, serangkaian kalimat yang membuat dadaku sesak.

 

Aku menyentuh puncak kepalanya , dan dia tiba-tiba terkejut terlihat dari gerakan badannya.

 

“Sayang..”Ucapku pelan dan penuh kelembutan. 

 

 

Tubuhnya seperti tampak terkejut, terlihat jelas dari gerakannya namun ia enggan berbalik meskipun sudah mendengar suaraku, dia pasti tau ini aku..

 

“Chagi~ tadi mengapa kau menangis? Apa yang salah ?”

 

Dan sedetik kemudia n tubuhnya bergetar hebat, aku semakin khawatir dan naik keatas kasurnya bersamaan dengan itu ia malah bangkit dan menatapku yang kini sama-sama terduduk diatas kasur empuknya, matanya sembab dan penuh air mata. Sebuah tanda tanya kini berputar dikepalaku, ia kenapa?

 

“Victoria..”Lirihku dan langsung aku memeluknya meskipun dari gerakan tubuhnya ia menolak untuk dipeluk olehku, namun dia akhirnya terisak disana dan perlahan tangannya kini melingkar dipunggungku.

 

“Mianhae~..”Lirihku dan sedetik kemudian mencium puncak kepalanya, tangannya memukul sekitar pundakku dengan pelan.Mungkin melampiaskan kemarahannya.

 

“Aku membencimu!!Aku membencimu.!”Sekuat mungkin aku menahan tubuhnya yang terus berontak, aku tahu ini memang salahku…kesalahanku…

 

“Kau bahkan tak ada disaat aku bersedih, Khunnie! Kau tak ada.. Appaku sudah meninggal dan dia pergi, orang yang paling dan amat kusayang telah pergi tetapi kau tak ada didekat untuk menenangkanku, kau selalu sibuk sibuk dan sibuk!! Bahkan Junho-ah lah yang ada didekatku, apa kau tak menganggapku kekasihmu hah? Apa kau tak perduli padaku?..”

 

Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah menyakitkan, menyayat hatiku yang bertambah perih lagi. Aku mencintainya.Aku ingin ada disampingnya.Semua yang diungkapkannya itu ialah salah, sangat salah!

 

“Jeongmal mianhae~..”Ucapku kini meregap kedua bahunya dengan tanganku yang hangat, dia menundukkan wajah, menggeleng dengan air mata yang menganak sungai dipipinya.

 

“Kau tak mencintaiku kan? ..”Isaknya, bertanya dengan suara yang sebisa mungkin ia coba untuk terdengar lantang namun akhirnya suara itu pecah, bergetar hebat diakhir kalimatnya.

 

“Victoria!..”Tegasku, menekan bahunya dan dia langsung menutup mulutnya karena menahan tangis.

“Kau melewatkan ulang tahunku, kau melewatkan hari valentine kita, dan bahkan saat appaku meninggal bukan kau yang ada disini. Untung saja eommaku selamat dari kecelakaan itu, jika eomma pergi? Siapa yang ada didekatku hah? Kau juga ingin pergi kan, kau tidak..”

 

“Victoria berhenti berkata seperti itu!..”Potongku, nada suaraku mendadak meninggi dan dia tampak takut…Matanya tampak takut dan benci saat melihatku. Aku luluh, tanganku perlahan terjatuh lalu kupeluk lagi tubuhnya namun tak tersampaikan. Dia menjauh hingga punggungnya menyentuh dinding.

 

“Kau terlalu sibuk dan aku membenci itu! Kau tak ada disaat aku membutuhkanmu, Khunnie. Kau tak seperti Junho yang memegang tugas yang seharusnya kau lakukan..”Kini nada bicaranya tegas dan cepat. Mataku menatap dalam kematanya… Dia benar-benar terlihat membenciku…

 

Klek!Suara pintu kamar tiba-tiba terbuka dan menghadirkan sosok Junho disana, aku menoleh begitupun Victoria. Sempat wajah Junho terlihat bingung dan mengurung diri untuk masuk kedalam kamar Victoria, entah kenapa perlahan tanganku terkepal sangat kuat.

 

“junho-ya, jangan pergi..”

 

Deg!Rasanya detakan jantungku berhenti, dia lalu bangkit dan berjalan kearah Junho yang menatapku dengan sedikit bimbang sementara aku memperhatikan mereka berdua.

 

“jangan pergi..”Ulang Victoria sekali lagi dan sedetik kemudian dia telah berada dalam pelukan Junho.

Sementara…Aku menahan sakit

 

+++

 

Angin malam terus berhembus, Sosok Junho dan Victoria yang meninggalkan ku kini tak tampak sama sekali. Victoria benar-benar pergi dari hidupku…Dia benar-benar membenciku.

Dia mengucapkan selamat tinggal….Kami tak bersama lagi…Dia membenciku, mungkin.

 

Aku merasa kaku, aku merasa tak tau ingin melakukan apalagi.. Dia sudah pergi, datang untuknya pergi dariku dan apakah yang bisa kulakukan?

 

Ini bukan masalah kecil, benar. Victoria benar-benar membutuhkan orang yang ia cintai selalu ada disampingnya, Victoria bukan wanita yang tidak pengertian namun itu memang benar adanya.

 

Itulah yang Junho lakukan, yang tak bisa kulakukan.

 

Aku menatap langit malam yang semakin gelap….Dingin. AKu ingin mendekapmu, Victoria…

 

 

Aku merasa semakin sepi dan merasa lelaki yang sangat bodoh…Pandanganku hanya kosong, karena wanita terindah itu sudah pergi…

 

Aku tak bisa mengucapkan kata aku mencintainya lagi dan memaknainya,….Tak bisa.

Semuanya butuh pengertian, dia membutuhkanku selalu dan aku tak bisa. Terserah jika dia bahagia bersama siapa saja, aku akan ikut mencoba bahagia. Tapi pertanyaan sekarang adalah aku tanpanya akankah baik-baik saja?

Entah siapa yang akan menjawab…Dia tak tahu..

 

Victoria bahagia…itulah yang ia butuhkan dalam hidup ini meskipun bukan dial ah sosok yang menciptakan kebahagiaan itu…Selamanya.

 

Karenaa semuanya nihil, apapun yang akan dilakukan toh akan sama saja. Victoria sudah membenciku,Aku hanya berharap agar Tuhan selalu memberikannya kebahagian.

 

Bukan bersamaku dia akan bahagia, dan setelah kesimpulan itu aku tarik aku mengerti bahwa sekuat apapun ini dipertahankan, meskipun cintanya palsu , aku tidak akan bisa melakukan apapun untuknya bahagia…Karena aku bukan alasannya.

 

Sekeras apapun, tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuknya bahkan ketika air matanya sudah berhenti mengalir..

 

+++

Saya minta pendapat, bagaimana kah FF Oneshoot Khuntoria ini memberdeul? Mianhae gaje, harap beri pendapatnya yaa ^^ -autumn

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s