You Brought Some Joy Inside My Tears#OneShoot

Standar

Title : You Brought Some Joy Inside My Tears

Author : Nolina S.M (Noona Pretty)

Cast : Choi Yoon Ra (OC)

Lee Dong Hae (SJ)

Cho Kyu Hyun (SJ)

Warning!! Diharapkan pas baca ff ini sambil dengerin lagunya Suju yang Memories!! ^^

Kalo udah selese bacanya jangan jadi SILENT READER ya!! Kalian harus hormati authornya dengan cara CL, hahahah#maksa

Check this fanfiction!! ^^

#####

Musim dingin. 18 Desember 2011,Seoul-Korea Selatan.

Sebagian besar orang memperoleh inspirasi dalam hidup mereka. Mungkin dari percakapan dengan seseorang yang kau hormati atau sebuah pengalaman. Apa pun bentuknya,inspirasi cenderung membuatmu memandang kehidupan dari sudut pandang yang baru. Inspirasiku berasal dari mantan kekasihku Lee Donghae, seseorang yang baik hati dan penuh perhatian. Ia tidak peduli akan popularitas yang disandang ayahnya sebagai salah satu petinggi negara,di negeri ini. Yang di inginkannya hanyalah berbagi cinta dengan orang yang dikasihinya,keluarga dan teman-temannya.

-oOO0OOo-

1tahun yang lalu. 10 Desember 2010.

@Kampus Ewha

Pelajaran mata kuliah hari ini telah usai. Donghae salah satu mahasiswa fakultas sastra tengah sibuk mengepak buku-bukunya kedalam ransel. Sosoknya yang tampan alami,tak pernah lepas dari pandangan kekasihnya Choi Yoonra,yang sekaligus teman sefakultasnya.

“Donghae-ah,sudah lama kita tidak pergi bersama. Bagaimana kalau hari ini kita pergi ke sungai Han?”Tanya Yoonra penuh kehati-hatian, membuat Donghae menolehkan pandangannya ke arah Yoonra,lalu tangannya menepuk pelan puncak kepala Yoonra,”Maafkan aku Yoonra-ah, tapi hari ini aku ada urusan.”

Yoonra berdecak kesal,”Alasan apalagi yang sudah kau siapkan untuk hari ini, eo?”

Donghae menyunggingkan senyumannya”Aku menyesal, tapi untuk hari ini aku benar-benar tidak bisa. Maaf! Sebagai gantinya, aku sudah menyuruh supirku untuk mengantarmu pulang. Bagaimana?”

Yoonra mengerucutkan bibirnya, “Kau menyebalkan!”Yoonra berdesis

#####

Malam harinya.

Pikiran Yoonra terus berkemelut dengan sikap Donghae yang sudah terjungkir balik dari biasanya. Kemudian,disambarnya ponselnya yang tergeletak dimeja samping tempat tidurnya. Lalu dengan panggilan cepat dia langsung mendial nomer sahabatnya,Cha Hyejin.

“Ada apa? Kau ada masalah?”Tanya Hyejin disebrang sana

Sontak Yoonra mengangguk cepat,se akan-akan Hyejin bisa melihatnya”Mm,Donghae”

“Donghae? Kalian bertengkar?”

“Dia sudah berani mengabaikanku. Menurutmu,ada apa ini?”

“Astaga!! Yoonra!! Apa mungkin dia..”Jerit Hyejin berlebihan

“Yaa! Dia kenapa,eo?”Yoonra penasaran

“Ya Tuhan! Sebenarnya kau naif atau bodoh,eh? Coba kau pikirkan ini Yoonra! Dia itu seorang Lee Donghae,wanita mana yang tidak mengenalnya.”

“Jadi maksudmu apa?”

“Selingkuh!! Aku yakin dia berselingkuh”

Yoonra terperanjat, “YAA!! Cha Hyejin bodoh!! LEE DONGHAE bukan laki-laki yang seperti itu!!”Yoonra mengakhiri percakapannya.

“Tsk! Sahabat macam apa dia?”Yoonra melempar ponselnya kesembarang tempat.

Yoonra mengacak rambut frustasi”AAAAAA!!! Ini tidak benar!!!”

Malam semakin larut, tapi Yoonra masih tetap tidak bisa menutup matanya. Apa yang dikatakan sahabatnya Hyejin, sudah berhasil merusak sel-sel otak jernihnya. Alhasil rasa takut kehilangan pun menjalar kesetiap inci perasaannya.

Sampai pada akhirnya Yoonra memutuskan untuk menghubungi Donghae, ia berniat akan menuntut penjelasan sikapnya yang telah berubah. Karna ini sudah yang ke 4harinya Donghae bersikap aneh. Selalu menghindari Yoonra.

Nihil! Berkali-kali hanya suara mesin penjawab operator lah yang terdengar. Kali ini Yoonra benar-benar melemparkan ponselnya, hingga terpecah belah berserakan dilantai kamar.

#####

Hari demi hari berlalu dengan cepat. Hubungan Yoonra dan Donghae pun semakin memanas. Yoonra sudah tidak bisa membendung semua uneg-uneg nya dalam hubungannya itu.

Lee Donghae, kau kejam! Bukankah kita sudah berjanji akan melewatkan malam natal bersama?? Sekarang bahkan sudah memasuki tanggal 24,dan kau masih tetap mengutamakan urusanmu yang tak jelas itu. Yoonra melemparkan uneg-unegnya ke udara.

6:00PM,

Yoonra mendengus setelah menutup percakapannya dengan ajudan ayahnya Donghae lewat saluran telfon. Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan selama 2pekan terakhir ini,Donghae? Kenapa kau sering pulang selarut itu? Ratusan pesan singkat yang telah ku kirim pun tidak kau balas. Kau ini kenapa,h?. Batin Yoonra bermonolog.

Batas kesabaran Yoonra telah memuncak. Tanpa butuh pikir panjang dia langsung mendial panggilan no 1. Siapa lagi kalau bukan kekasihnya Donghae. Telfon pun tersambung.

“Lee Donghae! Kau disana?”Tanya Yoonra ketus

“Mm,ada apa sayang?”Jawab Donghae parau

“Tsk! Ada apa katamu? Hei! Kau melupakanku? Selama ini kau kemana? Dan kenapa ajudan ayahmu sampai bilang kau sering pulang larut?? Sebenarnya apa yang kau lakukan,eh?”Cecar Yoonra panjang lebar

“Yoonra-ah,aku lelah. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Lagi pula ini sudah malam. Waktunya kau tidur sayang.”

Jawaban Donghae membuat Yoonra naik pitam, “Yaa!! Tapi aku butuh jawabanmu sekarang Lee Donghae!! Kalau kau tetap seperti ini terus,lebih baik kita putus. Kau dengar ha??! KITA PUTUS!!!”

“Maafkan aku Yoonra-ah,tapi malam ini aku benar-benar sangat lelah”

Tut,,tut,,tut,, sambungan pun terputus.

Lee Donghae!!! Kali ini kau berlipat-lipat ganda lebih kejam dari sebelumnya!!! Aaaaaa!!! Mana Lee Donghae ku yang dulu??!!!

“Brakkk!!!”Yoonra menghantam cermin meja riasnya dengan satu kali hentakan pukulan kasar kepalan tangannya. Darah segar pun bersimbah di punggung telapak tangannya. Rasa sakit yang ku rasakan tidak sebanding dengan luka sekecil ini. Batin Yoonra bergumam.

#####

Hari natal pun tiba. Semua orang yang merayakan menyambutnya dengan suka cita. Tapi tidak dengan Yoonra, dia bagaikan secarcik kertas usang yang sudah tak terpakai. Pandangannya kosong menerawang setelah menerima telfon dari ibunya Donghae. Dia memberitahukan Yoonra bahwa Donghae masuk rumah sakit. Ia pingsan. Namun, hasil tes memastikan bahwa ia mengidap penyakit lebih serius. Ada sebuah tumor otak ganas yang bersarang dikepalanya. Dokter hanya memberinya waktu kurang dari tiga bulan. Yoonra ingat,dia bertanya-tanya,bagaimana mungkin ini terjadi? Dihari sebelumnya Donghae baik-baik saja. Sekarang,hidupnya akan berakhir pada usia begitu muda.

#####

04:00PM,

Yoonra tengah berdiri di ambang pintu rumah sakit,menyaksikan kekasihnya Donghae terbujur tak berdaya di atas ranjang. Bercak merah di wajahnya hilang tak menghiasi pesonanya lagi. Pucat pasi bagaikan porselin. Setelah rasa kaget dan perasaan hampa pada awalnya, Yoonra memutuskan Donghae membutuhkan harapan dan semangat. Ia memerlukan seseorang yang membuatnya percaya bahwa ia dapat mengatasi rintangan ini. Yoonra bertekad, akan menjadi pelatih Donghae. Dengan cara terus berada disampingnya dan memberinya pelajaran hidup.

Ibu beserta ayah Donghae menyambut hangat kedatangan Yoonra. Ketika mereka menyadari kehadirannya.

“Yoonra..”Panggil ibu seraya mendekapnya dalam pelukan hangat. Ibu tenggelam dalam tangisnya,sementara ayah hanya bisa tertegun diam tak berkata.

“Sudahlah bu, jangan seperti ini. Aku yakin Donghae akan baik-baik saja. Sekarang ayah dan ibu bisa pulang. Aku akan menjaganya. Percayakan dia padaku,mm!”

Setelah itu pun ayah dan ibu pergi. Dan kini hanya ada Yoonra dan Donghae. Yoonra berjalan perlahan mendekati Donghae yang masih tertidur. Yoonra terduduk disamping tempat tidur Donghae. Lalu tangannya meraih lembut jemari kanan Donghae, sesekali ditempelkannya punggung telapak tangan Donghae di pipi Yoonra. Noktah bening pun membasahi kedua pipi Yoonra. Entah sejak kapan dia menangis, tapi yang jelas saat ini dia sudah tenggelam dalam deru tangisnya.

“Maafkan aku Donghae!”Yoonra berdesis.

Sesaat kemudian Donghae terjaga tidurnya. Donghae mengerjap-ngerjapkan matanya. Seketika senyuman tipis langsung terpacak di bibirnya sesaat dia menyadari kehadiran Yoonra disampingnya.

“Yoonra-ah…”Panggil Donghae parau

Sontak Yoonra menyeka air matanya, “Mm,aku disini”

“Apa yang kau tangisi?”Jemari kanan kiri Donghae berusaha menggappai pipi lembut Yoonra, dengan cepat Yoonra mendekatkan jarak wajahnya agar tangan Donghae dengan mudah dapat menyentuh pipinya. Donghae masih tersenyum dalam pandangannya,dia membelai mesra pipi kekasihnya. “Jangan tangisi sesuatu yang telah terjadi. Jangan sia-sia kan air matamu ini,eo!”

“… Tak menjawab, Yoonra tertegun”

“Yoonra-ah..”Panggil Donghae

“Iya”Jawab Yoonra cepat

“Bisakah kau memapahku? Aku ingin duduk dikursi roda. Bawa aku ke luar dari ruangan ini”Pinta Donghae.

Bergegas Yoonra membantunya duduk dikursi roda.

“Ada sesuatu untukmu,Yoonra”Ucap Donghae saat ditaman

“Apa itu?”

Donghae memberi perintah”Coba kau rogoh saku mantelku!”

Yoonra memenuhi permintaannya. Kemudian dia tersentak setelah mendapati kado berlapis warna merah marun dengan hiasan pita berwarna gold didalam saku mantelnya Donghae.

Kemudian Donghae mengulum senyum”ambil lah! Itu milikmu”

Yoonra mengkerutkan dahi meng isyaratkan ketidak pahamannya, “Mi-milikku?”

“Bukalah!”Perintah Donghae lagi. Yoonra pasrah memenuhi perintah Donghae. “Apa ini?”Yoonra sedikit terkejut sekaligus merasa takjub ketika mendapati barang yang tersimpan di balik kotak merah marun tersebut. Sebuah kalung bertahtakan liontin indah yang didalamnya terdapat satu helai daun bunga edelweis, bunga abadi. Daun bunga tersebut berada tepat ditengah-tengah lingkaran lapisan berliah transparan. Sehingga daun yang sangat sederhana terlihat jauh lebih cantik. Yoonra tak dapat menyembunyikan rasa harunya. Lagi, noktah bening pun sudah membasahi kedua pipi Yoonra. Kemudian, Yoonra berjongkok manis dihadapan Donghae yang masih terduduk dikursi roda. Mata Yoonra menatap lekat manik mata legam Donghae dengan seksama, jelas Yoonra menuntut penjelasan dari semua ini. Senyuman Donghae menembus air matanya, sementara garis pada wajahnya memberi tahu apa yang ingin dia ketahui. Aku adalah kekasihnya,tapi yang lebih penting lagi, ia adalah kekasihku. Tegas Yoonra pada dirinya sendiri.

“Aku tidak akan pernah memberi penjelasan apapun padamu. Karna tidak ada yang harus ku perjelaskan,bukan?”Kata Donghae se akan mengerti dengan batin Yoonra.

Yoonra menghembuskan nafas pilu, “Lantas selama beberapa pekan terakhir, kenapa kau berubah?”

Donghae hanya memandang Yoonra, membelai rambutnya dan berkata terus terang, “Tidak ada yang berubah,Yoonra. Aku hanya terlalu sibuk dengan urusanku. Dan apa yang kulakukan beberapa pekan terakhir, itu demi mendapatkan kalung ini. Karna aku ingin, kau mendapatkan hadiah natal tahun ini dari hasil jerih payahku sendiri. Bukan hasil dari kedua orang tuaku”Donghae memakaikan kalungnya dileher Yoonra. Sementara Yoonra hanya diam tertegun menahan haru yang menyeruak. Kemudian Donghae berbisik, “Selamat hari natal, aku sudah menepati janji ku kan?”

DEG!! Yoonra bagaikan diserang ribuan lebah, hatinya mencelos. Tak percaya. Sejauh inikah pengorbanan Donghae untukku??

Donghae menariknya dalam dekapan hangat dengan posisi tetap seperti semula.

“Ja-jadi maksudmu selama beberapa pekan terakhir kau berkerja paruh waktu hanya demi mendapatkan kalung ini?? Sedangkan kondisimu lemah. Yaa!! Kau bodoh sekali!! Kau bodoh Lee Donghae!!”Yoonra menangis sejadi-jadinya didalam pelukan sang kekasih.

#####

Hampir setiap hari Yoonra menemani Donghae dirumah sakit. Mereka setiap hari membayangkan bahwa tumornya menyusut dan semua yang mereka bicarakan besifat positif. Yoonra bahkan sampai mencetuskan ide yang luar biasa hebat, memasang poster dipintu kamar rumah sakitnya yang bertuliskan, “Kalau kau memiliki pikiran negatif,tinggalkan pikiran itu di pintu. ” Bagaimana?? Bukankah itu sesuatu ide yang luar biasa hebat??

Yoonra sudah berbulat hati untuk membantu kekasihnya Donghae mengalahkan tumor itu. Mereka berdua sepakat membuat perjanjian yang disebut 50-50. Yoonra akan berjuang 50% dan Donghae akan memperjuangkan 50% sisanya.

Bulan Januari tiba. Dan Donghae masih tetap harus dirawat inap dirumah sakit yang jaraknya 3000mil dari rumah Yoonra.

“Aku mungkin akan cuti kuliah”Ucap Yoonra

Donghae menjadi marah setelah mendengar keputusan Yoonra, “kau tidak usah khawatir. Karena aku memang baik-baik saja. Ingat! Jangan pernah menjadikan kondisiku sebagai alasanmu untuk tidak pergi kuliah.” Jadi, malah Donghae yang berbaring sakit ditempat tidur rumah sakit, yang menyuruhnya agar jangan khawatir. Sesaat Yoonra tersadar bahwa kalau dia tetap bersamanya, dia mungkin akan menyiratkan bahwa Donghae sedang sekarat dan dia tak mau Donghae berfikir begitu. Donghae harus yakin bahwa ia dapat menang melawan tumor itu.

Seperti apa yang Donghae katakan sebelumnya. Yoonra kali ini lebih rajin dari sebelumnya. Saat ini dirinya tengah sibuk-sibuknya mengumpulkan beberapa tugas untuk bahan skripsinya. Sampai ia harus rela terbang ke Osaka-Jepang, meninggalkan Donghae. Sejak kepergiannya saat itu, ia merasakan bahwa ini mungkin terakhir kalinya ia melihat kekasihnya Donghae dalam ke adaan hidup, adalah hal yang tersulit yang pernah ia lakukan. Selama kuliah, ia tak pernah berhenti memperjuangkan 50% bagiannya untuk Donghae. Setiap malam sebelum tidur Yoonra selalu menyempatkan menghubungi Donghae, walau itu hanya sekedar pesan singkat. Ia berbicara dengan Donghae, berharap Donghae dapat mendengarnya. Yoonra berkata, “Donghae-ah, aku sedang berjuang untukmu dan aku tak akan menyerah. Asalkan kau tak berhenti berjuang, kita dapat mengalahkan tumor ini.”

#####

Beberapa bulan berlalu dan Donghae masih bertahan. Yoonra terlihat sedang berbicara dengan seorang teman, yang lebih tua. Cho Kyuhyun. Dia lah seorang teman yang dimaksud. Yoonra bercerita bahwa kondisi kekasihnya Donghae semakin memburuk, tapi dia tidak menyerah. Lalu Kyuhyun melontarkan suatu pertanyaan yang benar-benar membuat Yoonra berfikir. “Menurutmu, apakah dia bertahan itu karena dia tak mau mengecewakanmu?”

Apa mungkin perkataanya benar? Mungkin aku egois, menyemangati Donghae untuk terus berjuang?

“Ada saatnya kau harus siap untuk kehilangan,Yoonra.”Tambah Kyuhyun yang semakin membuat Yoonra merasa egois.

08:00PM

Donghae sudah tertidur pulas, tapi Yoonra masih tetap setia menemaninya. Tangan-tangan nya tak lepas dari genggaman tangan Donghae. Sekilas Yoonra teringat akan perkataan Kyuhyun tadi siang. Kemudian Yoonra mendekatkan bibirnya ke telinga Donghae,dan berkata, “Donghae-ah, aku mengerti kau sangat menderita dan mungkin kau ingin menyerah. Kalau memang begitu, aku mendukungmu. Kita tidak boleh kalah karena kau tak pernah berhenti berjuang. Kalau kau ingin pergi ketempat lebih baik, aku mengerti. Kita pasti bersama lagi. Aku mencintaimu, menyayangimu dan aku akan terus bersamamu, dimana pun kau berada. Selamat malam ikan ku.”Yoonra menyapukan kecupan hangat dikening Donghae.

#####

Ke esokan paginya ibu Yoonra memberitahukan bahwa kekasihnya Donghae telah meninggal dunia. Dan saat itu pula Yoonra sudah bisa dikatakan bagai zombi. Tak bersuara, pandangannya kosong menerawang dan pikirannya hilang entah kemana.

Saat ini hujan menitik lembut ditanah pemakaman. Angin musim kemarau menyapu dingin dedaunan maple yang gugur. Langit nampak bermuram ikut berduka. Matahari telah jatuh kembali keperaduan. Tenggelam dalam kepasrahan. Yoonra melihat untuk yang terakhir kali dalam pembaringan abadi. Dia begitu pucat. Tak ada lagi rona kemerahan menyingkapi pesonanya. Dia tertidur lelap, lelap dalam ketenangan, lelap dalam kedamaian abadi. Liang lahat dibawah sana menyambutnya penuh kerelaan. Mendekapnya hati-hati tertelan kedasar bumi. Sementara para pengiringnya melantunkan tangis haru, tak rela membiarkannya pergi. Termasuk Yoonra sendiri. Dia jauh terlihat shock dibanding kebanyakan orang.

“Tidaaaakkkkk!!!”Batin Yoonra memprotes. Karna sebelumnya ia tak pernah menyangka akan sepedih ini. “BRUKK!!” Seketika tubuhnya ambruk, tersungkur jatuh ke dasar tanah yang basah. Pingsan.

######

25 Desember 2011, Seoul-Korea Selatan.

Dear, My Boo!

Hei! Ayolah kau jangan bersedih!

Aku bahagia, kau juga harus menemukan kebahagianmu!

Aku hanyalah titipan Tuhan yang hadir ditengah-tengah kehidupanmu.

Ingat Boo, aku bukanlah akhir. Namun, aku juga bukan lah sebuah permulaan.

Bukankah orang bilang hidup itu adalah sebuah pilihan? Aku telah memilihnya, sekarang relakan lah aku.

Boo, aku pasti merindukanmu! Jagalah dirimu baik-baik! Dan ingat! Kau jangan pernah menutupi hatimu hanya karena kepergianku!

1pesan untukmu, Boo. Terimalah kepergianku nanti seperti kau menerima kedatanganku.

Donghae

Yoonra melipat kembali surat pemberian Donghae, sedetik kemudian surat itu telah tersimpan bersama kalung liontin dikotak kecil berwarna merah marun. Lalu, Yoonra memeluk pusara dalam dekapan rindu yang dilapisi gundukan-gundukan salju tipis bulan Desember. Sekilas, Cho Kyuhyun teman dekat Yoonra atau lebih tepatnya calon pedamping hidupnya tengah berdiam diri dibawah naungan bayang-bayang sebuah pohon. Lalu dia menghampiri Yoonra.

“Cuaca semakin dingin, ini sudah waktunya kau pulang”Kyuhyun menopang bahu Yoonra agar tak kembali luruh ke bawah tanah pemakaman. Lalu menuntunnya untuk bangun, berdiri. “Bagaimana dengan perasaanmu sekarang? Membaik?” Kyuhyun menggamit lengan Yoonra dan membawanya pergi dari pemakaman.

Sedetik kemudian, Yoonra sudah menggelungkan lengannya di pinggang Kyuhyun, “Mm, jauh lebih baik dari sebelumnya.”

 

Sekarang aku yakin bahwa semua hal yang terjadi dihidup ini ada alasannya. Dan kalau Tuhan masih menghendaki ku untuk tetap hidup bersamanya. Mungkin aku tak akan pernah menemukan cinta dari seorang Cho Kyuhyun.

Lee Donghae, kau memang belahan jiwaku. Tapi pendamping hidupku, dia lah Cho Kyuhyun. Seseorang yang nyata dan mencintaiku tanpa syarat apapun, dan `kau` hanyalah sebuah kenangan terindah..

Yoonra

End ^,~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s